Imamat 24: 5-9

Roti sajian

24:5 "Engkau harus mengambil tepung yang terbaik dan membakar dua belas roti bundar  dari padanya, setiap roti bundar harus dibuat dari dua persepuluh efa;  

24:6 engkau harus mengaturnya menjadi dua susun, enam buah sesusun, di atas meja dari emas murni itu, di hadapan TUHAN.

24:7 Engkau harus membubuh kemenyan tulen di atas tiap-tiap susun; kemenyan itulah yang harus menjadi bagian ingat-ingatan roti itu, yakni suatu korban api-apian bagi TUHAN.

24:8 Setiap hari Sabat  ia harus tetap mengaturnya di hadapan TUHAN; itulah dari pihak orang Israel suatu kewajiban perjanjian untuk selama-lamanya.

24:9 Roti itu teruntuk bagi Harun serta anak-anaknya dan mereka harus memakannya di suatu tempat yang kudus; itulah bagian maha kudus baginya dari segala korban api-apian TUHAN; itulah suatu ketetapan untuk selama-lamanya."


Renungkanlah

Hi Guys, Pernah kelupaan nyimpen roti terlalu lama sampe lewat masa expiration date nya?  Udah  bisa nebak dong apa yang bakalan terjadi?  Yup bener, roti itu Lama-kelamaan, warnanya berubah, baunya aneh, dan akhirnya… basi. Tidak bisa dimakan. Tidak berguna. Tidak mengenyangkan.  Apa yang akan kita lakukan?  Kita membuangnya!

Di Kemah Suci di zaman Musa, ada roti yang tidak dibuang, tidak disepelekan, tidak dilupakan. Roti itu disusun, ditata, disiapkan—dan dinikmati di hadapan Tuhan.  Roti itu adalah lambang persekutuan ilahi yang tidak pernah basi.

Dalam Imamat 24:5–9, kita menjumpai perintah Tuhan kepada umat-Nya untuk menyediakan dua belas roti bundar, satu untuk setiap suku Israel, dan meletakkannya di atas meja dari emas murni di dalam Kemah Suci. Ini disebut roti sajian—secara harfiah: lechem panim atau “roti kehadiran.” Artinya: roti ini ditempatkan di hadapan wajah Tuhan.

Mengapa roti? Karena makan bersama dalam budaya Ibrani bukan sekadar konsumsi, tetapi komuni. Roti di hadapan Tuhan adalah lambang undangan Allah kepada umat-Nya: “Datanglah, duduklah di meja-Ku. Aku ingin relasi, bukan hanya ritual.”

Dua belas roti itu disusun teratur (ayat 6), dua susun masing-masing enam. Ini melambangkan keteraturan, kesatuan, dan keharmonisan antara suku-suku Israel di hadapan Allah. Setiap Sabat, roti itu diganti dengan yang baru—persekutuan yang terus diperbarui. Tidak basi. Tidak stagnan. Selalu segar.

Lalu ada kemenyan murni (ayat 7)—aroma harum yang menyertai roti. Ini adalah gambaran doa dan kasih yang naik kepada Tuhan. Persekutuan bukan hanya tentang menerima misalnya menerima berkat, tetapi juga tentang mempersembahkan misalnya mempersembahkan hidup yang murni, gitu guys.

Dan akhirnya, roti itu dimakan oleh imam-imam di tempat kudus (ayat 9). Artinya, persekutuan dengan Tuhan itu bukan simbol kosong—melainkan pengalaman nyata yang memberi nutrisi rohani. Ini adalah gambaran kasih karunia yang harus dihidupi, bukan hanya dihormati dan cuman sebatas pengetahuan aja, emang bener-bener harus jadi cara hidup :).

Semua ini menunjuk ke Kristus, Sang Roti Hidup (Yohanes 6:35). Ia adalah Firman yang menjadi daging, yang mengundang kita untuk “makan”—yaitu percaya, bersandar, menikmati, dan hidup dalam relasi dengan Dia. Di kayu salib, Kristus tidak hanya mempersembahkan tubuh-Nya, tetapi juga mengundang kita masuk ke dalam perjamuan kasih kekal bersama Bapa, Daebak!

Refleksikanlah

Berapa banyak dari kita yang hari ini hidup dengan roti iman yang basi? Kita terbiasa datang ke gereja, membaca Alkitab, bahkan ikut pelayanan… tetapi tanpa keintiman, kayak hidup terpisah tanpa rasa lapar akan hadirat-Nya. Tanpa menikmati Tuhan.: Senin-Jumat rasanya hampa- struggle untuk mengikuti kehendak Tuhan, Sabtu dan Minggu dapat kekuatan baru, bisa hidup lagi sesuai kehendak tuhan. 

Mungkin kita sibuk “memajang” roti—tapi tidak pernah memakannya.

Allah tidak mencari umat yang hanya melakukan ritual, Ia rindu umat yang duduk bersama-Nya dalam kehangatan meja persekutuan. Ia rindu berelasi dengan mu. Ia tidak meminta performa mu—Ia mengundang kehadiran mu bersekutu dengan-Nya.

Dan seperti roti yang selalu diperbarui tiap Sabat, Tuhan ingin hubunganmu dengan-Nya tidak menjadi rutinitas kosong. Ia ingin kamu merasakan dan mengalami kesegaran. Freshness in the faith. Persekutuan yang terus diperbarui lewat kasih, firman, dan pengenalan akan Kristus.

Pertanyaan Reflektif

  1. Apakah saat teduh hari ini masih terasa seperti roti hangat… atau sudah seperti roti yang mengeras karena udah jamuran?

  2. Apakah saya lebih sibuk merapikan meja roti (ritual dan aktivitas rohani), daripada duduk dan menikmati hadirat Tuhan?

  3. Adakah keintiman saya dengan Kristus perlu diperbarui hari ini—seperti roti yang diganti setiap Sabat?

  4. Apakah hidup saya mempersembahkan “kemenyan murni” berupa kasih dan doa yang menyenangkan Tuhan?

Doa Sesuai Firman

Tuhan, Engkau adalah Roti Hidup yang turun dari surga.

Ampunilah aku bila selama ini aku lebih peduli dengan roti yang ditata rapi, tapi tidak pernah aku nikmati. Aku hadir di hadapan-Mu… tapi hatiku jauh. Aku ikut ibadah, tapi tidak pernah sungguh-sungguh menikmati hidangan dengan-Mu.

Segarkan persekutuanku dengan-Mu, ya Tuhan. Gantilah roti yang basi dengan firman yang hidup. Singkapkan kehadiran-Mu dalam setiap sabda, setiap napas, setiap langkahku.

Biarlah hidupku menjadi meja roti sajian—teratur, kudus, harum, dan bersuka dalam kehadiran-Mu. Jadikan aku seorang murid yang senang berelasi dengan-Mu.

Dalam nama Yesus, Roti Hidup yang tidak akan pernah membuatku lapar lagi, aku berdoa.

Amin.


Tetap semangat guys, Tuhan Yesus beserta kita,#kamugaksendiri #TuhanYesusBesertamu  *RL-SDG*

Comments