- Get link
- X
- Other Apps
Harun mati
22, Setelah mereka berangkat dari Kadesh, sampailah segenap umat Israel ke gunung Hor.
23, Lalu berkatalah TUHAN kepada Musa dan Harun dekat gunung Hor, di perbatasan tanah Edom:
24, "Harun akan dikumpulkan kepada kaum leluhurnya, sebab ia tidak akan masuk ke negeri yang Kuberikan kepada orang Israel, karena kamu berdua telah mendurhaka kepada titah-Ku dekat mata air Meriba.
25, Panggillah Harun dan Eleazar, anaknya, dan bawalah mereka naik ke gunung Hor;
26, tanggalkanlah pakaian Harun dan kenakanlah itu kepada Eleazar, anaknya, kemudian Harun akan dikumpulkan kepada kaum leluhurnya dan mati di sana."
27, Lalu Musa melakukan seperti yang diperintahkan TUHAN. Mereka naik ke gunung Hor sedang segenap umat itu memandangnya.
28, Musa menanggalkan pakaian Harun dan mengenakannya kepada Eleazar, anaknya. Lalu matilah Harun di puncak gunung itu, kemudian Musa dengan Eleazar turun dari gunung itu.
29, Ketika segenap umat itu melihat, bahwa Harun telah mati, maka seluruh orang Israel menangisi Harun tiga puluh hari lamanya.
© Renungkanlah
Hello Guys. Bagian ini melanjutkan kisah perjalanan bangsa Israel yang sedang berada di perbatasan Tanah Perjanjian. Saat itu mereka menyaksikan kepergian salah satu tokoh paling penting yaitu Harun. Kematiannya menjadi momen transisi rohani dan emosional yang besar buar Israel.
Harun meninggal sebagai penggenapan penghakiman Allah atas dosanya bersama Musa di Meriba (20:12). Tapi lihat deh guys, Tuhan tetap menghormati Harun, ia gak RIP pas Israel lagi memberontak, tapi RIP dengan cara yang kudus dan penuh penghormatan. Musa menemaninya dalam perjalanan terakhirnya. Tragisnya, Musa nanti harus menempuh jalan itu sendirian. Hikss
Allah memerintahkan Musa untuk membawa Harun dan Eleazar naik ke Gunung Hor. Di puncak gunung itu, Harun harus menanggalkan jubah keimaman ini tuh kayak simbol identitas dan otoritas rohaninya dan mengenakan jubah itu kepada anaknya, Eleazar.
Bayangin, Guys… emosional banget ga sihhh. Seorang ayah melepas simbol panggilan sucinya dan menyerahkannya kepada anaknya, beliau tahu bahwa sesudah itu, beliau akan mati. Musa menanggalkan jubah saudaranya dengan tangan gemetar, diiringi tatapan seluruh umat yang melihat dari jauh. Peristiwa duka sekaligus kesetiaan disaaat yang sama.
Ayat 22–24, Perjalanan dari Kadesh ke Gunung Hor disebutkan di sini secara geografis, menandakan arah menuju wilayah Edom. Gunung Hor terletak di perbatasan Edom, tempat yang keras, berbatu, seolah menjadi simbol akhir dari perjalanan Harun di dunia ini. Tuhan berkata kepada Musa dan Harun bahwa saatnya telah tiba bagi Harun “dikumpulkan kepada bangsanya.” Frasa yang menggambarkan eufemisme untuk peristiwa kematian, disaat yang sama memberikan gambaran pengharapan. “Dikumpulkan” berarti kembali ke komunitas para leluhur yang telah meninggal, menandakan bahwa kematian bukan akhir, melainkan perpindahan. Dalam konteks iman Israel, ini berbicara tentang keabadian dan penyatuan kembali dengan umat Allah yang telah mendahului.
Ayat 25–26, Tuhan memerintahkan Musa untuk membawa Harun dan Eleazar naik ke Gunung Hor dan di sana melaksanakan penyerahan keimaman. Upacara itu tidak dilakukan di Kemah Suci agar Harun tetap menjadi imam besar sampai saat terakhirnya. Momen itu sarat simbol dan emosi: di hadapan seluruh bangsa, imam besar pertama Israel menyerahkan tongkat dan jubahnya kepada penerusnya.
Bagi Eleazar, ini seperti campuran antara mahkota dan duka. Ya dong, dia menerima panggilan suci, tapi juga kehilangan ayahnya. Ya tapi hidup harus terus berjalan. Maka Ia menjalani serah terima tersebut. Sebuah transisi iman: generasi yang lama meninggalkan warisan bagi generasi baru untuk melanjutkan perjalanan iman ke Tanah Perjanjian.
Ayat 27–28, Musa melakukan semuanya persis seperti yang Tuhan perintahkan. Tidak ada improvisasi, tidak ada protes. Ia taat. Ya guys taat itu ya artinya melakukan persis or tepat seperti yang Tuhan perintahkan. Dan Musa Taat. Namun bayangkan adegannya saat itu, Musa melepas satu per satu jubah keimaman Harun yaitu efod, baju, tutup dada berpermata… tentu saja setiap kain punya kenangan pelayanan, setiap lipatan penuh arti ya sad ya guys. Ia menggantikannya kepada Eleazar. Dan setelah itu, Harun-saudaranya meninggal. Lalu Musa dan Eleazar turun dari gunung, tapi kali ini hanya dua orang yang kembali.
Umat melihat persitiwa Harun telah mati, dan mereka menangisinya tiga puluh hari. Bagi bangsa Israel, Harun bukan hanya imam besar, tapi “tiang doa” mereka. Kematian Harun adalah kehilangan besar bagi bangsa itu.
Harun telah hidup selama 123 tahun, melayani dengan berbagai peran: juru bicara Musa di Mesir, imam besar yang mempersembahkan korban, perantara di tengah wabah, dan saksi mukjizat Allah. Tapi ia juga manusia juga yang tak luput dari kesalahan kayak dia pernah membuat anak lembu emas, pernah ragu, pernah salah langkah.
Namun di akhir hidupnya, Allah tidak menghitungnya berdasarkan kegagalannya, melainkan kesetiaan dan panggilannya.
Guys, di balik kisah duka ini, kita melihat bayangan Kristus, Imam Besar yang sejati.
Harun menanggalkan jubahnya di Gunung Hor, tapi Kristus mengenakan jubah pelayanan di kayu salib.
Harun mati di puncak gunung karena dosa sendiri, tapi Kristus mati di puncak Golgota karena dosa kita.
Harun dikumpulkan kepada bangsanya; Kristus bangkit agar kita dikumpulkan kepada Allah.
Pada Harun, keimaman berakhir karena dosa; Pada Kristus, keimaman dimulai dengan pengampunan.
Ibrani 7:23–25 berkata, “Karena Ia tetap selama-lamanya, maka Ia mempunyai imamat yang tidak dapat beralih kepada orang lain.”
Kristus adalah Imam Besar yang tidak perlu menyerahkan jubah-Nya kepada penerus, karena Ia hidup selamanya untuk menjadi pengantara bagi kita.
Musa menanggalkan pakaian imam besar dari saudaranya; Allah menanggalkan kemuliaan Anak-Nya supaya kita mengenakan jubah keselamatan. Yesus adalah Eleazar yang sempurna , yang bukan hanya menerima jubah keimaman, tapi menanggung seluruh umat di hati-Nya untuk selamanya.
© Refleksikanlah
Guys, hari ini kita belajar bahwa hidup manusia ada batasnya, tapi anugerah Allah tidak pernah berhenti.
Harun, imam besar yang setia itu, akhirnya RIP juga. Tapi Tuhan menghormati hidupnya, menutupnya dengan lembut, bahkan membuat seluruh bangsa menangisinya.
Kita semua punya masa pelayanan, punya panggilan, tapi juga punya batas waktu. Yang kekal bukan jabatan, tapi kesetiaan kepada Tuhan.
Mungkin kamu sekarang sedang di masa transisi, dari pelayanan lama ke yang baru, dari peran besar ke yang kecil, atau dari masa duka ke masa harapan. Ingatlah: Tuhan tidak melihat seberapa lama kamu melayani, tapi seberapa taat kamu dalam sisa waktu yang ada.
Seperti Musa yang menuruni gunung dengan hati berat tapi tetap taat, yuk kita belajar menuruni setiap “gunung perpisahan” hidup kita dengan iman yang mengarah kepada Tuhan penebus dan pemilik hidup kita.
Karena Tuhan Yesus, Imam Besar sejati, sudah menuruni gunung kematian supaya kamu dan aku bisa naik bersama-Nya menuju kehidupan yang kekal.
Hidup kita sementara, tapi pelayanan kasih Tuhan gak punya tanggal kadaluarsa.
Jadi yuk, jangan pegang erat-erat jabatannya, tapi pegang erat-erat Tuhan-nya. ^^
© Pertanyaan Reflektif
1. Apa yang kamu pelajari tentang Allah dari cara-Nya memperlakukan Harun di akhir hidupnya
2. Bagaimana kematian Harun menolongmu memahami makna pengorbanan Kristus sebagai Imam Besar sejati?
3. Di bagian mana dalam hidupmu kamu perlu belajar melepaskan sesuatu dan mempercayakannya kepada Tuhan?
© Berdoalah sesuai Firman
Tuhan, ajarku untuk taat sampai akhir, bahkan ketika aku harus melepaskan hal yang kucintai.
Terima kasih karena Engkau, Yesus, adalah Imam Besar yang setia selamanya.
Pakai hidupku selama aku masih punya napas, agar namamu dimuliakan.
Amin.
Tetap semangat guys, Tuhan Yesus beserta kita,#kamugaksendiri #TuhanYesusBesertamu *RL-SDG*
- Get link
- X
- Other Apps
Comments
Post a Comment