- Get link
- X
- Other Apps
© Bacaan Alkitab: Bilangan 28: 1-8
Korban pagi dan korban petang
1, TUHAN berfirman kepada Musa:
2, "Perintahkanlah kepada orang Israel dan katakanlah kepada mereka: Dengan setia dan pada waktu yang ditetapkan haruslah kamu mempersembahkan persembahan-persembahan kepada-Ku sebagai santapan-Ku, berupa korban api-apian yang baunya menyenangkan bagi-Ku.
3, Katakanlah kepada mereka: Inilah korban api-apian yang harus kamu persembahkan kepada TUHAN: dua ekor domba berumur setahun yang tidak bercela setiap hari sebagai korban bakaran yang tetap;
4, domba yang satu haruslah kauolah pada waktu pagi, domba yang lain haruslah kauolah pada waktu senja.
5, Juga sepersepuluh efa tepung yang terbaik untuk korban sajian, diolah dengan seperempat hin minyak tumbuk.
6, Itulah korban bakaran yang tetap yang diolah pertama kali di atas gunung Sinai menjadi bau yang menyenangkan, suatu korban api-apian bagi TUHAN.
7, Dan korban curahannya ialah seperempat hin untuk setiap domba; curahkanlah minuman yang memabukkan sebagai korban curahan bagi TUHAN di tempat kudus.
8, Dan domba yang lain haruslah kauolah pada waktu senja; sama seperti korban sajian pada waktu pagi dan sama seperti korban curahannya haruslah engkau mengolahnya sebagai korban api-apian yang baunya menyenangkan bagi TUHAN."
"Renungkanlah”
Hello Guys, welcome back dan selamat bersaat teduh ya. Setelah perikop sebelumnya berbicara tentang suksesi kepemimpinan dari Musa kepada Yosua, pembaca mungkin mengira kisah selanjutnya akan segera bergerak menuju penaklukan tanah perjanjian. Namun Kitab Bilangan melakukan sesuatu yang tampak “anti-klimaks”:
Allah justru kembali berbicara tentang ibadah.
Percayalah, Ini bukan pengalihan topik. Ini merupakan penegasan teologis.
Allah ingin Israel memahami satu hal penting:
kepemimpinan boleh berganti, generasi boleh berlalu, tetapi penyembahan kepada TUHAN tidak pernah boleh terhenti.
Musa memang akan segera menyelesaikan tugasnya, tetapi ritme ibadah umat Allah tidak boleh ikut pensiun bersama Musa.
Ayat 1–2 , “TUHAN berfirman kepada Musa…”
Di tengah transisi kepemimpinan, Allah menegaskan bahwa otoritas sejati tidak berpindah dari Musa ke Yosua, melainkan tetap tinggal pada firman TUHAN.
Allah memerintahkan Israel untuk mempersembahkan korban “dengan setia dan pada waktu yang ditetapkan.”
Ibadah adalah respon umat terhadap Allah yang kudus, dan karena itu Allah sendiri yang menetapkan ritmenya.
Ungkapan “makanan-Ku” dan “bau yang menyenangkan bagi-Ku” bukan berarti Allah membutuhkan nutrisi. Bahasa ini bersifat antropomorfis, bertujuan menyatakan bahwa Allah berkenan hadir dan berelasi dengan umat-Nya melalui ibadah yang taat.
Namun perkenanan itu tidak dilepaskan dari ketaatan.
Ayat 3–4 , Dua ekor anak domba, satu pagi, satu petang, setiap hari, tanpa pengecualian.
Persembahan harian ini disebut sebagai “korban bakaran yang tetap.”
Dalam istilah teologis, inilah fondasi seluruh sistem pengorbanan Israel.
Artinya, kehidupan rohani Israel tidak dibangun di atas momen besar tahunan,
melainkan di atas kesetiaan kecil yang diulang setiap hari.
Allah lebih tertarik pada ketaatan yang konsisten daripada semangat sesaat.
Ibadah pagi dan petang membingkai seluruh hari Israel—
hidup dimulai di hadapan Allah, dan ditutup kembali di hadapan Allah.
Ayat 5–7 Setiap korban hewan selalu disertai:
-
tepung terbaik (hasil kerja manusia),
-
minyak zaitun tumbuk (unsur kelimpahan),
-
anggur/minuman curahan (simbol sukacita).
Ini mengajarkan bahwa ibadah bukan hanya tentang “yang rohani,”
tetapi juga mencakup hasil kerja, tenaga, dan keseharian manusia.
Menariknya, meskipun imam dilarang mengonsumsi anggur saat bertugas (Im. 10:9),
anggur tetap dipersembahkan kepada TUHAN.
Pesannya jelas:
Allah bukan anti-sukacita,
tetapi sukacita harus diarahkan kepada-Nya,
bukan dikendalikan oleh manusia.
Anggur dicurahkan di mezbah, bukan diminum oleh imam.
Sukacita pun harus dikuduskan, bukan dikuasai.
Ayat 8 , Pengulangan korban petang menegaskan satu hal penting:
seluruh hari Israel dibingkai oleh hadirat Allah.
Tidak ada jam netral.
Tidak ada zona hidup yang “bebas dari Tuhan.”
Pagi dan petang menjadi semacam liturgi waktu,
yang mengingatkan umat bahwa hidup mereka bukan milik sendiri,
melainkan milik TUHAN yang kudus dan setia. Se keren itu
Korban pagi dan petang menunjuk kepada Anak Domba Allah yang satu-satunya dan sempurna.
Yesus tidak dipersembahkan dua kali sehari,
karena pengorbanan-Nya cukup sekali untuk selama-lamanya.
Namun ritme hidup yang dibingkai oleh Kristus tetap sama:
hidup yang terus-menerus diarahkan kepada Allah.
Jika dahulu darah domba menguduskan mezbah setiap pagi dan petang,
kini darah Kristus menguduskan seluruh hidup orang percaya.
© Refleksikanlah
So guys, Hidup kita sekarang ini juga punya “aturan main.”
Bukan aturan legalistik saja, melainkan ritme ketaatan yang membentuk iman.
Kita sering ingin hasil besar, tetapi Tuhan justru mengundang kita setia dalam yang kecil.
Doa yang rutin.
Ketaatan dan kesetiaan yang tidak dilihat orang.
Seperti Israel, kita dipanggil untuk belajar bahwa
Allah tidak hanya ingin hadir dalam momen besar hidup kita,
tetapi juga dalam pagi yang biasa dan petang yang melelahkan. So sweet kan
© Pertanyaan Reflektif
Apa yang kamu pelajari tentang karakter Allah melalui pengaturan ibadah yang begitu rinci ini?
Dalam aspek apa Tuhan sedang mengajarkan kamu untuk hidup dalam ritme yang taat, bukan reaktif?
Apakah hidupmu sudah dibingkai oleh Allah—atau hanya oleh jadwal dan tuntutan hidup yang gak ada habisnya?
© Berdoalah sesuai Firman
Tuhan, ajarku untuk setia dalam ritme yang Dikau tetapkan.
Bukan hanya taat saat aku kuat,
tetapi juga saat aku lelah dan jenuh.
Kuduskanlah waktuku, kebiasaanku, dan seluruh hidupku,
agar melalui ketaatanku yang sederhana,
Dikau dimuliakan.
Amin.
- Get link
- X
- Other Apps
Comments
Post a Comment