© Bilangan 33: 50-56
Apa yang harus dilakukan sesudah tanah Kanaan direbut
50, TUHAN berfirman kepada Musa di dataran Moab di tepi sungai Yordan dekat Yerikho:
51 "Berbicaralah kepada orang Israel dan katakanlah kepada mereka: Apabila kamu menyeberangi sungai Yordan ke tanah Kanaan,
52, maka haruslah kamu menghalau semua penduduk negeri itu dari depanmu dan membinasakan segala batu berukir kepunyaan mereka; juga haruslah kamu membinasakan segala patung tuangan mereka dan memusnahkan segala bukit pengorbanan mereka.
53, Haruslah kamu menduduki negeri itu dan diam di sana, sebab kepadamulah Kuberikan negeri itu untuk diduduki.
54, Maka haruslah kamu membagi negeri itu sebagai milik pusaka dengan membuang undi menurut kaummu: kepada yang besar jumlahnya haruslah kamu memberikan milik pusaka yang besar, dan kepada yang kecil jumlahnya haruslah kamu memberikan milik pusaka yang kecil; yang ditunjuk oleh undi bagi masing-masing, itulah bagian undiannya; menurut suku nenek moyangmu haruslah kamu membagi milik pusaka itu.
55, Tetapi jika kamu tidak menghalau penduduk negeri itu dari depanmu, maka orang-orang yang kamu tinggalkan hidup dari mereka akan menjadi seperti selumbar di matamu dan seperti duri yang menusuk lambungmu, dan mereka akan menyesatkan kamu di negeri yang kamu diami itu.
56, Maka akan Kulakukan kepadamu seperti yang Kurancang melakukan kepada mereka."
"Renungkanlah”
Hello guys 👋 Setelah perjalanan panjang di padang gurun, bangsa Israel akhirnya tiba di dataran Moab, tepat di tepi Sungai Yordan, berhadapan langsung dengan Yerikho. Mereka sangat dekat dengan Tanah Perjanjian.
Namun sebelum mereka melangkah masuk, Tuhan tidak langsung berbicara tentang kemenangan, melainkan tentang ketaatan. Yup KE TAAT AN
👉 Ini penting:
Janji Allah tidak pernah dilepaskan dari panggilan untuk hidup kudus.
Bilangan 33:50–56 adalah pidato penutup yang serius, bukan emosional, bukan euforia—melainkan peringatan penuh kasih. Syukur kepada ALLAh masih mengingatkan umatnya
Ay 50-51, Teks ini dibuka dengan sebuah kalimat yang sesungguhnya sangat menentukan arah seluruh kisah selanjutnya:
“TUHAN berfirman kepada Musa…”
Di titik ini, bangsa Israel sudah tidak lagi berada di tengah padang gurun yang asing. Mereka berdiri di dataran Moab, tepat di tepi Sungai Yordan, hanya selangkah lagi dari Tanah Perjanjian. Secara manusiawi, ini adalah momen euforia—waktu untuk menyusun strategi, menghitung kekuatan, dan membayangkan kemenangan.
Namun justru di saat itulah Alkitab menegaskan satu hal penting: Allah tidak diam.
Allah tidak membiarkan Israel melangkah ke masa depan hanya dengan ingatan akan mujizat masa lalu atau dengan kepercayaan diri atas pengalaman panjang mereka. Di ambang penggenapan janji, Allah masih berbicara, masih memimpin, masih menentukan arah.
Kalimat ini menegaskan bahwa Tanah Kanaan bukan hasil kecerdikan militer, bukan buah kekuatan kolektif Israel, dan bukan upah atas ketekunan mereka di padang gurun. Tanah itu adalah pemberian Allah—dan karena itu, tanah itu hanya boleh dimasuki, diduduki, dan dijalani menurut kehendak Allah sendiri.
Israel harus menghalau penduduk Kanaan, membinasakan berhala, dan menghancurkan seluruh bukit penyembahan. Yang sedang diperintahkan Allah adalah perang rohani, bukan perang rasial.
Budaya Kanaan dibentuk oleh sistem penyembahan berhala yang merusak: eksploitasi manusia, ketidakadilan, kekerasan ritual, dan kehidupan religius yang memutarbalikkan kebenaran tentang Allah. Tuhan tahu satu hal yang sangat mendasar tentang hati manusia:
👉 apa yang dibiarkan, lambat laun akan ditiru; apa yang ditoleransi, pelan-pelan akan disembah.
Karena itu, berhala tidak boleh dinegosiasikan. Berhala yang tidak dihancurkan akan menjadi “guru” yang diam-diam—membentuk cara berpikir, cara menilai hidup, dan akhirnya cara menyembah Allah dengan iman yang palsu.
Ay 53-54, Setelah perintah yang keras, Tuhan berbicara dengan nada yang penuh ketenangan dan keteraturan. Tanah itu harus diduduki. Tanah itu harus dibagi. Dan pembagian itu dilakukan melalui undi—tanda bahwa keputusan akhir bukan di tangan manusia, melainkan di tangan Allah sendiri.
Di sini kita melihat sesuatu yang indah secara teologis: Tanah itu milik Tuhan, Israel hanyalah penerima. Tidak ada suku yang berhak merasa lebih unggul, tidak ada yang boleh merasa dianaktirikan. Semua hidup di bawah kedaulatan anugerah yang sama.
Allah yang memberi janji juga mengatur bagaimana janji itu dijalani—dengan keadilan, keteraturan, dan tanggung jawab.
Ay 55, Lalu Tuhan menyampaikan peringatan yang sangat menusuk, bahkan terasa mengerikan dalam kejujurannya:
“Mereka akan menjadi seperti selumbar di matamu dan duri yang menusuk lambungmu.”
Tuhan tidak berkata bangsa Kanaan akan langsung menghancurkan Israel dari luar. Justru sebaliknya. Bahayanya jauh lebih halus—mereka akan melukai dari dalam.
Kompromi kecil tidak langsung membunuh iman, tetapi:
-
perlahan mengaburkan visi,
-
pelan-pelan melemahkan ketaatan,
-
dan akhirnya menghancurkan kesetiaan.
Sejarah Israel membuktikan peringatan ini. Mereka tidak runtuh karena kekuatan musuh, tetapi karena ketidaktaatan yang dibiarkan hidup terlalu lama.
Ay 56, “Maka akan Kulakukan kepadamu seperti yang Kurancang melakukan kepada mereka.”
Allah tidak berubah. Beliau konsisten.
Jika umat-Nya memilih hidup seperti bangsa-bangsa yang menolak-Nya, maka mereka akan menuai konsekuensi yang sama.
Ini adalah peringatan terakhir dari Allah yang mengasihi umat-Nya terlalu dalam untuk membiarkan mereka hancur oleh kompromi. Ahhh so sweett
Bilangan 33:50–56 Allah memberi janji dengan penuh kasih, tetapi Ia tidak menoleransi kompromi rohani.
Kekudusan bukan syarat agar Allah mengasihi kita, melainkan respons yang wajar terhadap anugerah-Nya.
© Refleksikanlah
Guys, kalau boleh jujur niy, kita sering ingin janji Tuhan, tetapi tidak selalu siap menerima cara Tuhan, ya ga sih?
Kita ingin:
-
keselamatan, tapi masih memelihara “dosa kecil”,
-
damai, tapi enggan melepaskan relasi yang merusak,
-
berkat, tapi taatnya setengah-setengah.
Berhala kita mungkin bukan patung batu,
tetapi bisa berupa:
-
ego yang ingin selalu benar,
-
ambisi yang tidak mau dikoreksi,
-
kebutuhan akan validasi,
-
kenyamanan yang terlalu dicintai,
-
atau luka lama yang tidak mau diserahkan kepada Tuhan.
© Pertanyaan Reflektif
1. “Berhala” apa yang paling sulit kamu lepaskan saat ini?
2. Kompromi kecil apa yang selama ini kamu anggap sepele, padahal perlahan menjauhkanmu dari Tuhan?
3. Dalam area hidup apa Tuhan sedang memanggilmu untuk taat sepenuhnya, bukan setengah-setengah?
© Berdoalah sesuai Firman
Tuhan, Dikau Allah yang setia menepati janji-Mu.
Aku rindu hidup tanpa kompromi di hadapan-Mu.
Singkirkan dari hatiku segala sesuatu
yang mengambil tempat-Mu.
Ajarku taat sepenuhnya,
agar hidupku sungguh menjadi tempat Engkau berdiam.
Amin.
Comments
Post a Comment