Bilangan 34: 13-29

 © Bilangan 34: 13-29

Mengenai pembagian tanah Kanaan

13, Musa memerintahkan kepada orang Israel: "Itulah negeri yang akan kamu bagi sebagai milik pusaka  dengan membuang undi, yang diperintahkan TUHAN untuk diberikan kepada suku yang sembilan setengah itu.
14, Sebab suku bani Ruben menurut puak-puak mereka dan suku bani Gad menurut puak-puak mereka telah menerima milik pusakanya; juga suku Manasye yang setengah itu telah menerimanya.
15, Dua setengah suku itu telah menerima milik pusaka mereka di seberang sungai Yordan di dekat Yerikho, ke sebelah timur."
16, TUHAN berfirman kepada Musa:
17 "Inilah nama orang-orang yang harus membagikan tanah itu kepadamu sebagai milik pusaka: imam Eleazar dan Yosua bin Nun.
18, Lagi haruslah kamu mengambil seorang pemimpin dari setiap suku untuk membagikan  tanah itu sebagai milik pusaka.
19, Inilah nama orang-orang itu: dari suku Yehuda: Kaleb  bin Yefune;
20, dari suku bani Simeon: Samuel bin Amihud;
21, dari suku Benyamin : Elidad bin Kislon;
22, dari suku bani Dan seorang pemimpin: Buki bin Yogli;
23, dari anak-anak Yusuf, yakni dari suku bani Manasye seorang pemimpin Haniel bin Efod;
24, dan dari suku bani Efraim seorang pemimpin: Kemuel bin Siftan;
25, dari suku bani Zebulon  seorang pemimpin: Elisafan bin Parnah;
26, dari suku bani Isakhar seorang pemimpin: Paltiel bin Azan;
27, dari suku bani Asyer  seorang pemimpin: Ahihud bin Selomi;
28, dari suku bani Naftali seorang pemimpin: Pedael bin Amihud.
29, Itulah orang-orang yang diperintahkan TUHAN untuk membagikan milik pusaka kepada orang Israel di tanah Kanaan. 

 

 "Renungkanlah

 Hello guys, Kemarin kita sudah belajar tentang batas-batas tanah Kanaan, dan melaluinya kita menyadari bahwa Allah bukan Allah yang memberi janji secara kabur. Ia menetapkan wilayah dengan jelas dan terukur.  Hari ini, teks melangkah lebih jauh: bukan hanya di mana tanah itu berada, tetapi bagaimana tanah itu dibagikan, kepada siapa, dan melalui siapa.

Di sinilah kita melihat satu kebenaran penting:
Allah tidak hanya murah hati dalam memberi, tetapi juga adil dan teratur dalam mengelola pemberian-Nya.

Ayat 13–15 menegaskan bahwa tanah Kanaan akan dibagikan kepada sembilan setengah suku Israel, karena dua setengah suku—Ruben, Gad, dan setengah Manasye—telah memilih menetap di sebelah timur Sungai Yordan. Pilihan mereka bukan tanpa konsekuensi. Secara geografis mereka mendapatkan wilayah yang subur, tetapi secara teologis mereka memilih di luar pusat janji, di luar tanah yang secara simbolis merepresentasikan kepenuhan warisan Allah.

Teks ini membentuk semacam inklusio dengan Bilangan 34:2. Janji Allah tetap utuh, bahkan ketika umat-Nya tidak sepenuhnya mengambil bagian di dalamnya. Di sini kita belajar bahwa ketidaktaatan manusia tidak membatalkan kemurahan Allah, tetapi sering kali membatasi pengalaman kita atas kepenuhan-Nya.

Tanah yang akan dibagikan itu sangat luas—bahkan lebih luas daripada kemampuan Israel untuk mendudukinya secara penuh. Ini mengingatkan kita bahwa Allah adalah Allah yang memberi lebih dari cukup, bahkan “jauh lebih banyak daripada yang dapat kita doakan atau pikirkan” (bdk. Ef. 3:20). Persoalannya bukan pada kelimpahan janji, tetapi pada kesiapan umat untuk percaya dan taat.

Ayat 16–18 mencatat bahwa TUHAN sendiri menunjuk para pelaksana pembagian tanah: imam Eleazar dan Yosua bin Nun, bersama seorang pemimpin dari setiap suku. Musa dan Harun—pemimpin generasi lama—tidak lagi berada di pusat pengambilan keputusan. Kepemimpinan kini berpindah kepada generasi yang akan memasuki dan menghidupi janji.

Allah tidak hanya mempersiapkan tanah bagi umat-Nya, tetapi juga mempersiapkan pemimpin yang tepat untuk fase yang baru. Setiap musim memiliki pelayanannya sendiri. Setiap generasi memiliki tanggung jawab yang tidak bisa diwakilkan.

Ayat 19–28 memuat daftar nama para pemimpin suku yang akan terlibat dalam pembagian tanah. Sekilas ini tampak seperti daftar administratif biasa. Namun di sini kita melihat bahwa Allah bekerja melalui orang-orang nyata, dengan nama, latar belakang, dan keterbatasan yang nyata.

Urutan penyebutan suku—dari selatan ke utara—menunjukkan keteraturan dan keadilan. Yehuda ditempatkan di awal bukan karena kebetulan, melainkan karena perannya yang kelak sentral dalam sejarah penebusan. Daftar ini digambarkan para penafsir sebagai daftar yang “layak bagi sebuah awal yang baru.”

Awal yang baru selalu membutuhkan ketaatan yang baru.

© Refleksikanlah

Guys, melalui teks ini kita diperkenalkan kepada Allah yang murah hati, panjang sabar, dan adil. Ia memberi tanah dengan berlimpah, membaginya dengan teratur, dan mempercayakan pengelolaannya kepada manusia—tanpa kehilangan kedaulatan-Nya sedikit pun.

Namun di sisi lain, kisah Ruben, Gad, dan setengah Manasye menjadi cermin bagi kita. Mereka tidak sepenuhnya memberontak, tetapi juga tidak sepenuhnya taat. Mereka memilih versi aman menurut perhitungan sendiri, bukan versi penuh menurut janji Allah.

Btw, bukankah kita juga sering gitu ya?  Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering bergumul dengan ketidakpuasan:

  • Tidak puas dengan penampilan fisik

  • Tidak puas dengan keluarga

  • Tidak puas dengan latar belakang hidup

  • Tidak puas dengan talenta atau peran pelayanan

Kita berkata, “Seandainya hidupku seperti dia…”
Padahal Tuhan berkata, “Inilah bagianmu. Inilah wilayah yang Kupercayakan kepadamu.”

Ketika kita menolak pengaturan Allah, kita tidak sedang menolak hidup yang buruk—kita sedang menolak bentuk kebaikan yang Tuhan anggap terbaik bagi kita.?

Hari ini kita belajar bahwa Allah bukan hanya memberi, tetapi mengatur dengan hikmat. Ia tahu apa yang kita perlukan, bukan hanya apa yang kita inginkan.

Belajar menerima pengaturan Tuhan bukan tanda pasrah, melainkan tindakan iman yang dewasa.

© Pertanyaan Reflektif

1. Apa yang kamu pelajari tentang karakter Allah melalui cara-Nya membagi tanah Kanaan?

2. Apakah kamu percaya bahwa pengaturan Tuhan atas hidupmu—talenta, keluarga, tubuh, dan perjalanan hidup—adalah tepat?

3. Dalam hal apa kamu sedang bergumul seperti Ruben, Gad, dan setengah Manasye: ingin mengikuti pengaturan sendiri, bukan sepenuhnya rencana Tuhan?


© Berdoalah sesuai Firman

Tuhan, ajarku untuk mempercayai pengaturan-Mu atas hidupku.
Ampuni aku ketika aku lebih percaya perhitunganku sendiri daripada hikmat-Mu.
Tolong aku hidup setia di wilayah yang Dikau percayakan,
dan memuliakan-Mu melalui penerimaan dan ketaatan.
Amin.


Tetap semangat guys, Tuhan Yesus beserta kita,#kamugaksendiri #TuhanYesusBesertamu  *RL-SDG*

Comments