- Get link
- X
- Other Apps
Tahun 1998, saya merantau ke Jakarta.
Ya—Jakarta. Kota tujuan, kota harapan, kota yang dijanjikan bisa memberi kehidupan yang lebih baik.
Jakarta waktu itu sedang belajar bernapas setelah runtuh. Krisis moneter. PHK massal. Harga-harga melambung. Kemiskinan yang tiba-tiba menjadi telanjang.
Data BPS mencatat angka kemiskinan melonjak tajam, jutaan orang jatuh miskin hanya dalam hitungan bulan.
Namun statistik tidak pernah bisa mencium bau kolong jembatan:
air got yang tak mengalir,
asap aibon yang lengket di udara,
dan anak-anak yang tidur beralas kardus.
Saya datang ke Jakarta dengan satu tujuan sederhana: bertahan hidup.
Bekerja demi bayar kuliah dan kos.
Dua aktivitas itu saja sudah cukup melelahkan, menyita waktu dan perhatian.
Namun selalu ada ruang kosong di hati saya.
Sebuah pertanyaan yang tak mau diam:
“Apa lagi yang bisa kulakukan agar hidupku berguna dan menjadi berkat?”
Saya ingin sesuatu yang berdampak.
Sesuatu yang sungguh bermakna bagi orang lain.
Saya mencarinya ke mana-mana.
Organisasi demi organisasi.
Pernah ke Jurnal Perempuan, dari Ciledug ke Bekasi dengan jarak tempuh kurang lebih 60 kilometer, ganti bus, dan angkutan kota berkali-kali. Jaraknya seperti niat yang diuji kan?.
Dan ternyata… napas kami tak sepenuhnya seirama.
Menghadeh… jauhnya.
Saya mencoba organisasi buruh.
Pun demikian—langkah dan arah tak sepenuhnya sejalan.
Lalu saya tenggelam dalam aktivisme kampus: menjadi presiden mahasiswa, menjadi utusan kampus ke berbagai lomba dan rapat. Hidup dipenuhi kerja, belajar, diskusi panjang,
rapat tanpa ujung.
Jargon-jargon perubahan terdengar gagah,
namun sering sulit diwujudkan.
Saya sibuk.
Namun hati saya tetap lapar.
Sampai suatu hari, tanpa rencana besar,
saya bertemu ISCO – International Street Children Organization.
Dan di sana saya bergumam dalam hati:
“Oh… ternyata melayani anak jalanan rasanya seperti ini.”
Saya mengajar di Manggarai.
Di pinggir rel,
di mana bunyi kereta hilir-mudik, seperti pengingat bahwa dunia terus bergerak,
sementara mereka hidup jauh dari kata layak, tertinggal dari zaman yang terus melaju.
Di situ saya belajar:
pelayanan bukan soal konsep belaka, melainkan kehadiran yang nyata.
Duduk bersama. Menghafal nama.
Mendengarkan cerita yang tak pernah masuk laporan tahunan.
Suatu ketika, saat hidup saya kembali disibukkan dunia kerja,
di sela deretan email kantor,
saya membaca di sebuah milis—Persekutuan Alumni Jakarta—tentang kebutuhan relawan Jambore Anak Jalanan.
Saya mendaftar sambil ragu:
“Sanggup nggak ya tidur di tenda?”
Tuhan tidak menjawab keraguan dengan kata-kata panjang yang meneguhkan
Ia menjawabnya dengan panggilan lanjutan.
Setelah Jambore Anak Jalanan itu, Saya jadi sering dihubungi. Awalnya jadi guru pengganti, emang sesusah itu.setelah jadi langganan menggantikan guru yang tidak bisa hadir sampe akhirnya saya beneran terlibat dalam beberapa TFU dan berakhir di TFU Cijantung yang beneran fulltime wkkwk Fulltime ga tuh.
Tahun berikutnya, tak perlu dipertanyakan lagi, yup saya menjadi relawan Jambore Anak Jalanan lagi, kali ini mengajak beberapa rekan.
Hah Jadi relawan JAJ lagi?
Iya lagi :) malah lebih dari sekedar relawan yang datang langsung ke tenda, hari H- JAJ, saya menjemput anak -anak di saat Jakarta masih gelap. Lampu jalan berdiri seperti saksi yang tak pernah lelah. Asap kendaraan bercampur bau solar dan sisa hujan semalam menggantung di udara. Jalanan sepi, tapi bukan berarti aman guyss. Di jam-jam ketika kota belum sepenuhnya bangun, justru wajah asli yang serem makin nyata terlihat.
Dari satu kolong ke kolong lain, kami berjalan. Bersama kak Kristo, kak Ruli, bang Resky dll menyusuri tempat-tempat yang bahkan jarang masuk peta kepedulian. Kolong jembatan, bantaran kali yang airnya hitam dan baunya ampun deh, rumah-rumah darurat dari tripleks, seng berkarat, dan terpal bekas baliho. Di sinilah anak-anak itu tinggal.
Beberapa rumah tidak memiliki pintu. Yang lain hanya dipisahkan tirai lusuh dari dunia luar. Di dalamnya, satu sampai lima KK bisa berbagi ruang sempit yang tak lebih besar dari parkiran mobil. Tikar tipis, pakaian tergantung di paku, sisa nasi semalam, dan suara batuk yang terdengar terlalu dewasa untuk tubuh sekecil itu.
Kami mengetuk pelan. Kadang tak ada jawaban. Kadang seorang ibu muncul dengan mata sembab—entah karena kurang tidur, entah karena hidup memang tidak memberinya banyak alasan untuk beristirahat. Anak-anak keluar satu per satu, masih mengantuk, sebagian belum mandi, membawa baju sekedarnya dalam plastik kresek. Tidak ada koper. Tidak ada sepatu cadangan. Yang ada hanya harapan kecil: boleh ikut, kan?
Uang dicari dengan cara yang keras. Mengamen di lampu merah, memungut barang bekas, menjaga parkir liar, atau sekadar membantu orang tua dengan pekerjaan apa pun yang datang hari itu. Sekolah sering kali kalah prioritas, karena perut lebih dulu menuntut diperhatikan.
Saat matahari belum terbit, kami mengumpulkan mereka di satu titik. Wajah-wajah kecil itu perlahan hidup—ada yang tertawa, ada yang diam, ada yang memeluk erat plastik baju mereka seakan itu satu-satunya benda berharga. Bus sewaan datang seperti anomali di tengah hidup yang serba darurat. Mesin menyala. Pintu terbuka. Mereka langsung berhamburan duduk dan menyambung tidurnya yang sempat terputus. Tahun-tahun berikutnya memang sedikit lebih mudah. Bimbel TFU sudah ada. Pengumuman cukup di kelas kelas bimbel. Tapi pola itu tak pernah benar-benar berubah: pagi buta, menjemput satu per satu, menyusuri bantaran kali dan rel kereta, memastikan tak ada yang tertinggal. Perjuangan itu selalu dimulai sebelum matahari muncul.
Jambore Anak Jalanan adalah jeda. Sebuah ruang aman sementara, di mana anak-anak tidak perlu waspada setiap detik, tidak perlu menghitung koin di saku, tidak perlu mencium asap knalpot sepanjang hari. Di sana, mereka bisa menjadi anak-anak, bermain, tertawa, belajar percaya bahwa hidup mungkin punya wajah lain.
Dan bagi saya yang menjemput mereka subuh-subuh, perjalanan itu memberi pengalaman lain. Dari guru pengganti, menjadi langganan menggantikan, lalu benar-benar terlibat.
Karena sekali kamu melihat Jakarta dari bawah kolong jembatan saat subuh, sekali kamu menatap mata anak yang hidupnya terlalu berat untuk usianya, kamu tahu: ini bukan lagi soal program tidur di tenda bersama anak jalanan, ini soal kemanusiaan. Dan kemanusiaan, kalau sudah memanggil, jarang mau dilepaskan begitu saja.
Dari relawan pengajar, saya direkrut menjadi pengurus.
Di situlah saya berjalan bersama Kak Dian Novita Elfrida (Kak Di).
Bersama Kak Elia, kami bertiga mengurusi para pendamping Sahabat Anak di semua TFU:
merekrut, menyusun regulasi mengajar, sosialisasi, hingga pembinaan.
Yang paling saya ingat bukan rapatnya. Melainkan satu kebiasaan kecil, yang tanpa Kak Di sadari, telah diwariskannya kepada saya: kami selalu bersekutu terlebih dahulu.
Bertiga.
Saya masih cupu.
Diajak Pendalaman Alkitab
Kisah Orang Samaria yang Baik Hati.
Bukan sebagai pepesan kosong kemanusiaan,
melainkan sebagai koreksi iman:
bahwa kasih harus berpijak pada kebenaran.
Kak Elia menjawab dari banyak sudut pandang.
Latar teologinya membuat tafsir berlapis.
Saya ciut.
“Wah… sekeren itu ya membaca Alkitab.”
Kak Di pun tak kalah tajam.
Mental newbie ini makin meleyot. ^^
Suatu hari, lewat Yahoo Messenger, Kak Di menyapa:
“Ris, buka Bible Gateway deh.”
Saya mikir: “Wah, apa itu?”
“Baca ayatnya. Lihat juga commentary.”
Bayangkan, saat awal 2000-an, di mana informasi digital masih sangat langka.
Saya belajar membaca Alkitab dengan perbandingan tafsir.
Kalau dipikir-pikir, lucu juga.
Namun di situlah benih ditanam:
bahwa pelayanan harus setia pada ortodoksi,
tanpa kehilangan kepekaan pada realitas.
Bahwa iman yang benar
tidak alergi pada lumpur jalanan.
Azeekk.
Saya diperlakukan sejajar oleh Kak Di.
Pendapat saya yang mentah didengar.
Tidak ditertawakan.
Tidak diabaikan.
Legacy ternyata tidak berisik.
Ia bekerja diam-diam.
Seperti akar.
Lalu ada Kak Frisca, dengan tas ransel birunya.
Aneh ya hingga kini warna tas ransel beliau tetap biru,
seperti kesetiaannya yang tak berubah warna.
Dialah yang mengajak blusukan.
Kolong ke kolong.
Wilayah ke wilayah.
Saat saya mengejar karier dengan napas terengah,
Kak Frisca merasa cukup mengajar les
dan menghabiskan hidup bersama anak-anak
yang sering dilupakan kebijakan publik.
Saya pernah mengenalkannya pada almarhum mama saya.
Mama membelikannya susu.
“Biar sehat,” katanya.
Ibu selalu tahu siapa yang tulus.
Mama saya pun demikian.
Di Grogol, tempat kami sering janjian, ada Bang Resky—
yang hobinya merebut lem aibon dari tangan anak-anak,
demi paru-paru yang masih bisa diselamatkan.
Saya pernah bercanda:
“Kalau saya jalan di sini sendiri, dibunuh kali ya, Kak.”
Kami tertawa.
Karena tertawa sering memberi penghiburan untuk tidak menyerah.
Dan hingga hari ini,
Kak Frisca tetap setia di Sahabat Anak.
Daebak.
Ada Kak Benny Lumy, aka Kak Ben.
Bagi saya, beliau manusia out of the box.
Tenang saat semua panik.
Tenangnya… nggak ada obat.
Solusi datang dari arah tak terduga.
Saat semua stuck,
Kak Ben hadir dengan ide yang pas.
Heran.
Memang itu talenta beliau.
Hatinya bagi hak anak Indonesia tak diragukan.
Wibawanya terasa.
Keseriusannya nyata.
Kalau marah?
Jangan tanya.
Semut juga lari, mungkin. Serem. LOL
Bukan karena galak, tapi karena jarangnya, hingga terasa Wibawa Ilahi menguar huftt
Darinya saya belajar servant leadership:
berpikir strategis,
namun tangan ringan menolong;
berwibawa,
namun rendah hati.
Ada Kak Lina Tjindra.
MC kondang.
Pencipta lagu dadakan.
“HAI… Hak Anak Indonesia…”
Hai ke kanan, Hai ke kiri, Hai ke depan, Hai ke belakang.
Penutupan JAJ selalu meriah karenanya.
Kak Lin, sekarang aku juga suka ngarang lagu dari lagu hits,
ternyata DNA rohani memang menurun ya. ^^ (Kak please banget, kalau ketemu di ruang formal gitu jangan bikin hamba ngakak ngakak ya, emang gak pernah bisa jaim deket deket beliau, se mengalir dan se tulus itu)
Beliaulah tempat kami mengadu
saat dana darurat dibutuhkan.
Hatinya menggerakkan orang
untuk memberi bukan hanya uang,
tetapi hidup.
Kalimat legendaris itu masih teringat:
Kita bisa diam saja—tidak terjadi apa-apa.
Kita bisa banyak bicara—tetap tidak terjadi apa-apa.
Mari bertindak dalam ketaatan,
dan kita akan melihat perubahan.
Tepatnya lupa sih, tapi kira-kira demikian.
Dan pertanyaan tahunan yang ikonik:
“Mpok, lo ambil kalender berapa? Kaos berapa?”
Dana pas-pasan.
Namun pelayanan terus berjalan.
Karena iman tidak menunggu rekening aman.
Dan entah bagaimana,
selalu berlimpah makanan dan minuman di akhir acara.
Terpujilah Tuhan.
Mengapa saya menulis appreciation post ini hari ini?
Karena Februari 2026, tanggal 5–7,
kami berkumpul lengkap di UMC.
Formasi lengkap.
Dan saya tersadar:
Sahabat Anak tidak hanya membentuk anak-anak binaan.
Ia membentuk para relawannya, melalui perjalanan bersama.
Saya ada hari ini
karena pernah diajak berpikir, melayani,
dan dipercaya berjalan bersama mereka.
Semua pengalaman itu memperlengkapi tangan, hati, dan pikiran saya.
Kini saya merintis ARK Care Ministry,
melayani wilayah kumuh
di bawah kolong tol Jakarta Utara.
Dengan jejak iman dan kepemimpinan yang diwariskan oleh mereka yang namanya ada dihati saya, dan oleh banyak nama lain yang tak tertulis di sini namun tetap ada di hati.
Ada satu kalimat yang pantas menutup tulisan ini:
Apa yang kamu tabur dalam kasih,
akan tumbuh dalam kekekalan.
Atau seperti Paulus menulis:
“Karena kita ini buatan Allah,
diciptakan dalam Kristus Yesus
untuk melakukan pekerjaan baik.”
(Efesus 2:10)
Legacy sejati akan terus bergerak.
Dan itu yang akan saya wariskan
kepada adik-adik Youth yang kini berjalan bersama saya.
Terima kasih, kakak-kakakku.
Benih iman dan kepemimpinan yang kalian tanamkan
kini tumbuh dan hidup dalam diri saya. Dan saya akan meneruskannya kepada siapapun pribadi yang Tuhan jumpakan kepada saya.
Salam hormat penuh cinta :)
Segala kemuliaan bagi Tuhan, Pemilik hidup dan pelayanan kita.
Tuhan memberkati.
- Get link
- X
- Other Apps

.jpeg)



Comments
Post a Comment