Membangun Hidup di Atas Keyakinan Iman

Urban Youth: Ketika Fondasi Diuji, dan Sungai Itu Mulai Mengalir

Tanggal 4–7 Februari, ruang itu dipenuhi denyut kota.
Urban Mission Consultation mempertemukan tiga wajah pelayanan:

  • Urban Church oleh Ps. Yakub Trihandoko, Ph.D.—dosen yang tetap tajam, tetap jenaka, tetap setia pada teks tanpa kehilangan senyum.

  • Urban Professional oleh Bp. Teddy Hartono Tanuwidjaja—tentang iman di tengah korporasi dan kalkulasi.

  • Dan Urban Youth—yang dipercayakan kepada saya, Pdt. Risma Lumalessil.

Namun sesi itu bukan sekadar presentasi.
Ia adalah pengakuan.
Dan mungkin, sebuah panggilan.

Urban Youth

Kota memiliki magnet yang tak terlihat.

Ia menarik anak muda dari desa dan suburbia-(wilayah pinggiran kota). seperti cahaya menarik laron-yang mengerubungi cahaya pada hujan pertama.

Di kota, lampu tak pernah benar-benar padam.
Laptop menyala.
Notifikasi berdenting.
Target selalu menunggu untuk dituntaskan.

Jantung kota berdetak cepat—dan detak itu masuk ke dalam dada generasi ini.

Mereka produktif.
Mereka kreatif.
Mereka vokal.

Tetapi mereka juga:
overthinking,
cemas,
letih secara mental.

Istilah suicidal ideation bukan lagi jargon psikologi.
GERD, migrain, vertigo menjadi bahasa tubuh generasi yang terlalu cepat dewasa.

Anak SMA menyebut diri mereka “jompo.”

Di tengah fenomena itu, Tuhan menempatkan saya sebagai pembina Pemuda dan Remaja.

Saya datang dengan ijazah teologi yang masih hangat.
Idealisme saya menyala.
Tetapi pengalaman saya belum teruji.

Saya mengikuti ritme warisan: ibadah, cell group, pelayanan musik, pertemuan.
Program berjalan.
Anak-anak hadir.

Namun satu pertanyaan menghantui saya:

Apakah kita sedang membangun rumah?
Atau sekadar memasang dekorasi rohani di atas fondasi yang rapuh?

Dua Rumah dan Satu Badai

Yesus menutup Khotbah di Bukit dengan gambaran sederhana namun brutal: dua rumah, satu badai.
(Injil Matius 7:24–27)

Teks ini bukan sekadar “mendengar firman.” 

Kata Yunani akouō (mendengar) dalam konteks Matius selalu menuntut respons ketaatan.

Dan kata poieō—“melakukan”—tidak berbicara tentang aksi sporadis,
melainkan praktik hidup yang konsisten.

Badai dalam teks itu bukan kemungkinan.
Ia kepastian.

Yesus tidak berkata jika hujan turun.
Ia berkata ketika hujan turun.

Dan ketika badai itu benar-benar datang menghantam, yang membuat rumah tetap kokoh adalah fondasi.

Di kota, banyak anak muda membangun hidup di atas:

  • performa

  • prestasi

  • citra diri

  • validasi digital

  • penerimaan sosial

Fondasi itu tampak kokoh—sampai badai datang dalam bentuk:

kegagalan,
putus relasi,
penolakan kerja,
tekanan keluarga.

Dan rumah yang dibangun di atas fondasi yang tidak kokoh itu itu retak, bahkan ambruk.

Saya melihat tiga tipe generasi:

  1. Yang sangat aktif.
    Worship leader. Cell group leader. Pelayanan penuh.
    Tetapi ketika identitas diguncang—mereka runtuh.

  2. Yang apatis.
    “Yang penting hidup baik.”
    Namun pertanyaan tentang keadilan Tuhan menghantui diam-diam.

  3. Yang aktivis sosial.
    Donasi hari ini. Kampanye besok. Solidaritas lusa.
    Niatnya tulus—namun sering impulsif.
    Ramai seminggu. Senyap kemudian. Dan saya menyadari: tanpa fondasi iman yang kokoh, bahkan kebaikan pun menguap.

Kegelisahan yang Menjadi Rahmat

Ada malam ketika saya berdoa sederhana:

“Tuhan, saya ingin memuridkan anak-anak-Mu.
Tetapi saya tidak tahu caranya.”

Dan saya mulai mengerti, kegelisahan itu bukan kegagalan. Ia adalah rahmat.

Rahmat yang memaksa saya berhenti mengandalkan program.
Rahmat yang membawa saya masuk ke kehidupan mereka—pribadi demi pribadi.

Dari pergumulan panjang, satu struktur menjadi jelas:

Right Thinking.

Right Feeling.

Right Acting.

Bukan slogan, melainkan Fondasi.

Jika hanya Right Acting—lahirlah aktivisme rohani yang pahit ketika badai datang.
Jika hanya Right Feeling—lahirlah spiritualitas sentimental.
Jika hanya Right Thinking—lahirlah ortodoksi dingin.

Tetapi ketika ketiganya menyatu—rumah itu berdiri di atas fondasi yang kokoh.

Sungai yang Mengalir dan Tidak Bisa Dihentikan

Dalam Kitab Yehezkiel 47:1–12, nabi melihat air keluar dari ambang Bait Allah.

Daniel I. Block menegaskan:
air itu tidak bersumber dari sistem manusia.
Ia berasal dari hadirat Allah.

Awalnya kecil.
Rembesan.

Seribu hasta—mata kaki.
Seribu lagi—lutut.
Seribu lagi—pinggang.
Seribu lagi—tak terseberangi.

Iain Duguid melihat progresi ini sebagai transformasi bertahap namun total.

Sungai itu tidak mendapat tambahan dari anak sungai lain—tetapi volumenya bertambah.

Itu melampaui hukum alam.

Artinya: pertumbuhan rohani bukan teknik, melainkan anugerah.

Sungai itu mengalir ke Laut Mati—dan membuatnya hidup.

Selama Tuhan hadir, bahkan bagian hidup yang terasa “udah selesai” bisa mulai lagi.

Yesus berkata dalam Injil Yohanes 7:38:

“Barangsiapa percaya kepada-Ku, dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup.”

Kristus adalah Bait Allah sejati.
Dari Dia sungai itu mengalir.

Pemuridan bukan sekadar mengajar konsep.
Ia mengundang anak muda masuk ke dalam arus itu.

Awalnya mungkin hanya sebatas mata kaki.
Tetapi Allah sendiri yang membawa mereka ke kedalaman.

Gereja: sebagai ruang Restorasi

Suatu malam dalam diskusi lintas generasi, tidak ada motivasi bombastis.
Hanya kisah iman.

Tentang doa yang tidak dijawab.
Tentang kegagalan.
Tentang Allah yang tetap setia.

Dan anak-anak muda menyadari:
mereka bukan pusat dunia.

Mereka bagian dari kisah Allah yang lebih besar.

Kesadaran itu menyembuhkan.

Kadang jawaban Right Thinking–Right Feeling–Right Acting tidak lahir dari mimbar.

Kadang ia muncul di bawah kolong tol.

Seorang anak muda berdiri di pemukiman kumuh.
Melihat sukacita sederhana.

Pikirannya dibenahi.
Hatinya dilembutkan.
Tindakannya berubah.

Tidak viral.
Tidak FYP.

Tetapi berakar.

Visi yang Tidak Sensasional, Tetapi Tak Terhentikan

Kota ingin generasi yang cepat.
Tuhan membentuk generasi yang berakar.

Kota memuja eksposur.
Tuhan bekerja lewat aliran.

Saya tidak menawarkan metode spektakuler.
Saya menawarkan fondasi.

Right Thinking.
Right Feeling.
Right Acting.

Dan sebuah undangan:

Masuklah ke dalam sungai itu.
Biarkan Kristus membentuk pikiranmu.
Menyembuhkan afeksimu.
Menggerakkan tindakanmu.

Karena badai akan datang.
Itu pasti.

Tetapi ada generasi yang tidak akan runtuh.

Karena mereka tertanam di Batu yang kokoh—dan hidup di dalam arus kehidupan
yang mengalir dari Kristus sendiri.

Dan mungkin—
di tengah hiruk pikuk kota—

Allah sedang membentuk generasi
yang bukan hanya selamat dari badai,

tetapi menjadi sungai
yang mengubah gurun
menjadi taman.




Comments