Day 1, Malam itu, 20 April 2026, belum benar-benar menjadi pagi ketika perjalanan ini dimulai. Pukul 00.20 WIB, saya sudah harus terbang. Tetapi sebelum pesawat lepas landas, Tuhan sudah lebih dulu menghadirkan kebaikan melalui Amel-adik youth yang mengantar ke airport.
Ia menawarkan diri mengantar saya ke Bandara Soekarno-Hatta. Sebelum itu, ia menjemput saya di apartemen. Kami sempat makan di Kemangi, Pasar Puri. Amel memesan nasi iga bakar, saya memesan sup buntut. Di luar, hujan turun. Entah mengapa, hujan malam itu terasa seperti berkat kecil sebelum perjalanan besar, seolah langit ikut memberi salam perpisahan.
Setelah makan, kami menuju gereja untuk packing terakhir. Lalu ke rumah Ci Welly mengambil titipan. Baru setelah itu kami menuju bandara. Semua terjadi begitu cepat. Sampai di gate, langsung antre masuk pesawat. Tidak lama kemudian, pesawat pun terbang meninggalkan Jakarta. Bye Ibu kota..saya pergi ke negri yang memanggil pulang...
Pukul 06.00 WIT, atau 04.00 WIB, saya tiba di Ambon.
Begitu sampai, saya mencari-cari tulisan Bandara Pattimura, tetapi tidak menemukannya. Saya berjalan melalui sisi bandara lama menuju bandara baru. Entah mengapa, langkah-langkah itu terasa berat sekaligus hangat. Ada sesuatu yang bangkit dalam dada. Saya seperti tidak hanya sedang tiba di sebuah kota, tetapi sedang memasuki kembali sebuah cerita yang sudah lama menunggu.
Seorang teman menjemput dan mengajak saya melihat pelayanannya. Setelah itu, kami makan nasi kuning, awalnya mau makan cotto, apa daya masih tutup. Hufftt too bad
Siang harinya, saya pergi ke rumah Moeder Ba, lalu mengajak beliau untuk makan papeda di De Lekker.
Di meja makan restoran itu, saya tidak hanya duduk sebagai tamu, tetapi sebagai anak yang sedang perlahan menemukan kembali keluarganya.
Moeder Ba… beliau bukan sekadar kerabat jauh yang baru saya kenal. Beliau adalah sepupu papa, anak dari adik perempuan Opa Bob yaitu Oma Aya. Garis itu mungkin terdengar seperti silsilah biasa, tetapi ketika saya duduk di hadapan beliau, semuanya terasa hidup. Seolah-olah tak lagi ada jarak. Kedatangan sebelumnyaa dengan father Pieter, juga beta menginap di rumah beliau, tidur di kamar beliau. Kali ini beliau meminta beta mengingap di sana lagi.
Saya memandang wajahnya, mendengar cara bicaranya, melihat gerak-geriknya… dan entah mengapa, ada rasa yang begitu akrab. Seperti melihat potongan cerita papa yang dulu tidak pernah saya lihat secara utuh.
Kami makan papeda bersama. Sederhana. Tapi di dalam kesederhanaan itu, ada sesuatu yang tidak bisa dibeli yaitu rasa memiliki.
Ahhh Siooo, Orang-orang tua kami… sekarang tinggal Mama Ne, Moeder Ba, dan Papi Thijs.
Hanya beberapa nama.
Hanya beberapa orang.
Tetapi mereka adalah penjaga cerita. Penjaga ingatan. Penjaga garis keluarga yang masih tersisa.
Hati ini terasa hangat… sekaligus perih.
Hangat karena masih ada yang bisa dipeluk.
Perih karena menyadari, waktu terus berjalan, dan tidak semua cerita bisa kita temui kembali.
“Tuhan, terima kasih… Dikau masih memberi saya kesempatan untuk pulang, sebelum semuanya benar-benar menjadi kenangan.”
Papeda itu sederhana, tetapi di tanah Maluku, makanan bukan hanya soal rasa. Ia adalah ingatan. Ia adalah rumah. Ia adalah tubuh dari cerita-cerita yang diwariskan. Di banyak negeri di Maluku—termasuk Ambon, Seram, hingga Saparua—papeda bukan sekadar makanan, melainkan bagian dari ritme hidup orang Maluku. Ia hadir di meja makan keluarga, di pertemuan adat, bahkan dalam momen kebersamaan setelah kerja bersama di negeri. Papeda hampir selalu disajikan dalam satu wadah besar di tengah, lalu dimakan bersama-sama. Tidak ada piring pribadi yang eksklusif—yang ada adalah kebersamaan. Dari satu sumber, semua orang mengambil bagian. Di situlah nilai hidop orang basudara: makan untuk mengikat relasi.
Proses membuat papeda sendiri menyimpan cerita panjang. Ia berasal dari sagu, yang diambil dari pohon sagu—pohon yang bagi masyarakat Maluku adalah simbol kehidupan. Sagu tidak instan. Ia harus ditebang, diparut, diperas, diendapkan, lalu dimasak dengan air panas hingga mengental menjadi papeda. Proses ini sering dilakukan bersama, melibatkan keluarga atau komunitas. Maka setiap suapan papeda sesungguhnya membawa cerita tentang kerja keras, gotong royong, dan kesabaran.
Cara memakannya pun khas. Papeda tidak disendok, tetapi “diputar” dengan sumpit kayu gata gata atau garpu khusus, lalu ditarik memanjang dan dicelupkan ke dalam kuah ikan kuning. Gerakan itu sederhana, tetapi mengandung filosofi: bahwa hidup di Maluku tidak lepas dari laut. Papeda selalu ditemani ikan—biasanya ikan kuah kuning dengan rempah yang kuat. Tanah dan laut bertemu dalam satu suapan. Ahhh sadap ee
Lebih dari itu, papeda juga adalah memori lintas generasi. Banyak orang Maluku yang merantau, ketika kembali dan makan papeda, tiba-tiba teringat masa kecil: suara mama di dapur, tawa keluarga, aroma ikan kuah kuning, dan angin laut yang masuk dari jendela. Papeda menjadi semacam “jembatan rasa” yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini.
Setelah itu saya bersiap untuk pelayanan di Gereja GPM Maranatha, dalam bidston syukur satu tahun meninggalnya papi Echa. Saya yang diminta memimpin ibadah, karena menurut kk Len, saya keponakan yang menjelang akhir hidupnya disayang papi Echa, karena sama sama pendeta dan menyukai sejarah. Puji Tuhan, selain mengenang kehidupan papi, di sana saya bertemu dengan pendeta senior yang terhormat rekan rekan papi, dan juga tim Balikpapan GKMI Anugerah dan ARK yaitu Pak Yohanes Sutanto. Bahkan tanpa sengaja, saya juga bertemu dengan Ibu Astuti, orang GKMI asli. Saya hanya bisa tersenyum dan berkata dalam hati, “Bisa-bisanya Tuhan mengatur perjumpaan seperti ini.”
Malam itu saya pulang dengan Grab dan tidur di Hotel Manise. Hari pertama selesai. Tubuh lelah, tetapi hati mulai penuh.
Keesokan harinya, perjalanan menuju Ouw dimulai.
Dari Pulugangsa, saya dijemput menggunakan Maxim oleh Kakak Yosmina Tapilatu biasa panggil kk len, menuju Pelabuhan Tulehu. Kami membeli tiket kapal cepat seharga Rp75.000. Tidak lama menunggu, kami sudah duduk di dalam kapal. besoknya mendengar kabar, kapal yang kami tumpangi terbakar di Pelabuhan Haria, siooo kasiang...
Di kapal itu, telinga saya disambut oleh orang-orang yang berbicara bahasa Ambon dengan cepat. Saya menangkap sebagian, kehilangan sebagian, tetapi anehnya tidak merasa asing sepenuhnya. Ada bahasa yang mungkin tidak sepenuhnya dikuasai lidah, tetapi dikenali oleh darah. Darah negri Ouw!
Kami tiba di Pelabuhan Haria. Di sana, Oom Abe Lumalessil sudah menjemput. Beliau mengantar saya dengan mobil GPM Jemaat Ouw yang sudah disiapkan untuk menjemput pendeta dari Jakarta yang hendak pulang ke negri Ouw. Sio, basudara sungguh manis lawang e.
Saya terharu.
Saya datang dengan banyak pertanyaan, tetapi disambut seperti keluarga yang sudah lama ditunggu.
Perjumpaan dengan Oom Abe sendiri adalah anugerah. Awalnya saya hanya bertanya kepada Moeder Ba apakah masih ada keluarga atau keluarga opa di Ouw. Antua seng tahu. Lalu antua menyarankan agar beta pulang ditemani Tante Eti. Singkat cerita, Tante Eti seng bisa lai, lalu merekomendasikan Oom Abe.
Saya menelepon Oom Abe dan bertanya apakah beliau tahu tentang “raksasa Ouw”, sebab beliau masih family dengan katong. Ternyata, oom Abe adalah anak beliau. beta terdiam-heran e. Bagaimana mungkin jalan cerita bisa seajaib ini?
God is so good.
Belum jauh dari perjalanan, kami bertemu dengan Oom Isaac Sapteno. Oma nya juga Lumalessil. Beliau sedang berada di Ouw dan akan pulang ke Belanda akhir April. Lalu Oom Abe mengajak untuk ke Ouw sama sama dengan Oto kami. Dalam mobil antua bertanya marga saya, tujuan ke Ouw. Dalam percakapan itu, beliau menyebut nama Thijs Lumalessil. beta kaget dan langsung berkata, “Itu papa ade saya.”
Sekali lagi saya terdiam.
Pertemuan demi pertemuan terjadi tanpa direncanakan, tetapi terlalu tepat untuk disebut kebetulan. Seperti ada tangan yang tidak kelihatan sedang menyusun ulang kepingan-kepingan sejarah keluarga saya. Dan semakin saya berjalan, semakin saya sadar, perjalanan ke negri ouw, bukan sekadar rangkaian peristiwa. Kisahnya adalah kisah tangan TUHAN sendiri yang sedang merenda. Pelan, sabar, penuh kasih. Benang demi benang, yang mungkin bagi saya terlihat kusut, ternyata di tangan-Nya sedang dibentuk menjadi sesuatu yang utuh dan indah.
Ada jalan yang saya tidak mengerti. Ada harga tiket yang tiba-tiba melonjak, dua kali lipat dari harga normal sempat membuat ragu. Ada nama-nama yang awalnya asing. Ada arah yang terasa kabur. Tetapi Tuhan tidak pernah kehilangan arah. Ia menuntun saya, dengan perjumpaan-perjumpaan yang wow.
Seolah-olah Tuhan berkata,
"Anak-Ku, Aku besertamu." -“Oh, I love You, Lord my God.”
Dan di setiap pertemuan baik itu dengan Oom Abe, dengan Oom Isaac, dengan orang-orang yang mengenal papa, saya merasakan bahwa saya tidak pernah benar-benar sendirian. Tuhan sudah lebih dulu ada di sana, menunggu saya tiba. “Oh, I love You, Lord my God.”
Ia menjaga langkah saya ketika saya tidak yakin.
Ia membuka jalan ketika saya tidak melihat jalan.
Ia mempertemukan saya dengan orang-orang yang bahkan tidak saya rencanakan untuk temui.
Sungguh hatiku tersentuh oleh kasih Tuhanku yang begitu personal.
Kasih yang tidak hanya menyelamatkan, tetapi juga menuntun pulang ke negri Ouw.
Kasih yang tidak hanya menjaga dari jauh, tetapi menyertai setiap langkah sampe negri Ouw.
Seperti seorang Bapa yang menggenggam tangan anak-Nya, Tuhan membawa saya melewati perjalanan ke negri Ouw, untuk menemukan kembali siapa saya, dari mana saya berasal, dan siapa yang selama ini memelihara hidup saya.
“Tuhan… terimakasih untuk tidak pernah melepaskan saya.”
Kami sempat singgah di Gereja Porto untuk foto sebentar. Panasnya luar biasa.
Oom Abe, Oom Cak, kk Len, dan BetaSetelah itu kami menuju Benteng Duurstede, tempat yang menyimpan sejarah panjang perlawanan rakyat Maluku terhadap Belanda.
Di benteng itu, ingatan tentang Kapitan Pattimura, Christina Martha Tiahahu, dan para pejuang Maluku terasa hidup. Meriam-meriam tua yang menghadap ke laut seperti masih berjaga, menjadi saksi bahwa tanah ini pernah menangis, melawan, dan berdarah.
Dari sana, perjalanan berlanjut melewati negeri-negeri di Saparua:
Lalu tibalah kami di tugu selamat datang Ouw. Di sana tertulis Lisaboli Kakelisa.
Oom Abe meminta berhenti. Ia meminta saya turun dan berjalan dari Kampung Ulat melewati tugu masuk Ouw. Lalu saya berkata dengan suara yang bergetar:
“Oyang semua, Puji Tuhan beta su sampe Negri Ouw, tanah tumpah darah oyang semua.”
Saat itu air mata meleleh.
Saya ingat papa.
Saya ingat perjalanan panjang, tiket pesawat yang naik dua kali lipat, lokasi yang dulu tidak pernah saya bayangkan akan saya injak, pergumulan hati yang tidak mudah dijelaskan. Namun akhirnya, saya tiba juga.
Segala puji, hormat, dan syukur bagi Tuhan.
Kami langsung menuju rumah Oom Abe. Walaupun baru pertama kali bertemu, tidak ada rasa asing sedikit pun. Namanya keluarga, jarak waktu bisa panjang, tetapi rasa pulang bisa datang seketika.
Kami: beta dan kk len, diajak makan siang. Oom Abe sudah menyiapkan ikan Bobara dengan bumbu yang luar biasa, sayur kangkung, dan colo-colo yang sedap sekali. Setelah makan, kami berbincang sejenak. Kak Ullen tidur siang karena sedang sakit. Saya dan Oom Abe duduk di pinggir pantai, langsung menghadap Tanjung Ouw.
Di sana saya teringat papa yang sering menyanyi:
“Ouw Ulate, Tanjung Ouw Ulate…”
Lagu yang dulu hanya terdengar sebagai nyanyian papa, kini menjadi pemandangan di depan mata saya. Saya melihat tanjung itu. Saya duduk di tanah itu. Saya menghirup angin itu. Dan tiba-tiba lagu papa bukan lagi sekadar melodi, tetapi tanjung yang memanggil saya pulang.
Dari sana saya juga melihat parigi negeri, yang biasanya dibersihkan secara gotong royong oleh mama-mama Ouw setahun sekali. Saya melihat kampung, mendengar musik diputar keras dari rumah-rumah. Seketika saya ingat papa yang punya salon di rumah dan suka pasang musik kencang—yang rupanya menurun ke Rio. Saya tertawa kecil. Ternyata, asal-usulnya ada di sini.
Saya juga melihat Oom Abe membuat miniatur gereja mula-mula di Ouw. Saya langsung ingat papa yang dulu pernah membuat miniatur rumah dari kardus di Kudus. Rasanya seperti melihat benang tak terlihat yang menghubungkan generasi: kreativitas, musik, tangan yang suka membuat sesuatu,semuanya mengalir dari darah Lumalessil.
Kami berjalan mengelilingi negeri Ouw. Melihat baileo ouw,
Baileo Ouw bukan sekadar bangunan adat, ia adalah jantung kehidupan negeri. Di sinilah masyarakat berkumpul, bermusyawarah, mengambil keputusan penting, dan menjaga nilai-nilai leluhur tetap hidup.
Baileo biasanya berbentuk rumah terbuka tanpa dinding, melambangkan keterbukaan, kejujuran, dan kebersamaan. Semua orang bisa masuk, semua suara didengar. Ia bukan milik satu orang, tetapi milik seluruh negeri.
Di Ouw, baileo menjadi tempat sakral untuk:
- Rapat adat dan musyawarah negeri
- Upacara adat dan ritus penting
- Penyelesaian konflik secara kekeluargaan
- Peneguhan identitas sebagai satu komunitas
Kayu-kayu yang menopangnya bukan hanya struktur fisik, tetapi simbol dari akar yang kuat, tentang siapa mereka, dari mana mereka berasal, dan nilai apa yang mereka pegang.
Bagi banyak orang yang pulang ke Ouw, berdiri di baileo sering menghadirkan perasaan yang sulit dijelaskan. Seolah-olah tempat itu berkata tanpa kata:
“Di sinilah kamu berasal. Di sinilah cerita itu dimulai.”
Di samping Baileo ada sekolah, dan Gereja Pniel. Setelah saya perhatikan, di tempat lain pun, Baileo letaknya bersebelahan dengan sekolah dan tempat ibadah, sebagai simbol ruang publik, ruang komunitas.
Saya masih terus memutari negri ouw, sambil mendengar cerita-cerita dari Oom Abe. Setelah itu kami kembali, menunggu Kak Ullen bangun. Lalu kami pergi ke gereja untuk mengucapkan terima kasih kepada bapak pendeta karena telah meminjamkan mobil gereja untuk menjemput saya.
Setelah itu kami ke kuburan raksasa Ouw. Disebut raksasa Ouw, karena tingginya yang melampui tinggi rata rata orang ouw, mungkin dua kali lipatnya.
Malamnya kami makan ikan, colo-colo, dan sayur singkong santan.
Opa raksasaHari itu saya tidur dengan hati yang terlalu penuh. Aneh banget, malam hari, selalu ada dua kupu kupu besar, ya mungkin cuman mau cari tempat aman ya ^^.
Hari ketiga, saya bangun subuh.
Oom Abe dan Kak Ullen masih tidur, maklum waktu masih menunjukkan pukul 4 waktu OUW. Saya keluar sendiri mengelilingi negeri yang masih sepi. Saya pergi ke laut, melihat Tanjung Ouw, lalu duduk di sana untuk saat teduh. Waktu kami kecil, di lemari pakain, ada plastik yang isinya tanah dari Ambon dan dari Ouw. Kami diajari makan ikan dengan colo-colo. Kami makan roti kering kenari, sagu lempeng dicelup teh gula. Menyanyi lagu-lagu Ambon sore hari. Di Kudus, kota kecil di Jawa tengah, kami seperti orang yang berbeda. Apalagi dua adikku. Mereka secara fisik Ambon banget. Rambut keriting, kulit sawo matang, ditambah lagi mendapat dari papa, hidung mancung, bulu mata tebal lentik, dagu belah, lesung pipi. Setiap sore kami mendengar cerita tentang Ambon, ada Opa Bob, oma Mien, Oma Aya. Adik beradiknya. Sepupunya yang dipanggil adik Ba. Rina yang sering disebut rukruk mirip kakaknya yang bernama mama Nel, Rio yang disebut orang mirip opa Bob. Aneh banget, waktu saya berkesempatan ke Ambon, orang orang bilang hal yang sama. Bisa-bisanya kita tinggal di Jawa, dan di Ambon sana, ada orang yang mirip, itu lah keluarga. Lagu lagu Ambon yang familiar. Rupanya itu pesan Oma untuk papa, agar menceritakan tentang Ambon. Papa adalah anak kesayangan oma, demikian kudengar dari seluruh keluarga. Waktu papa meninggal, di kopernya saya melihat, wesel beliau mengirim uang untuk Oma, dan saat papa jatuh, Oma mengirim wesel untuk saya, dengan sagu sagu. Itulah kenapa hari ini saat duduk di tepian pantai memandangi tanjung Ouw, ingatan itu semua muncul mendatangkan rasa haru.
Dalam diam itu saya membayangkan papa kecil pernah berada di sini. Mungkin berlari di jalan yang sama. Mungkin menyelam di laut yang sama. Mungkin meloncat dari pohon seperti anak-anak kecil Ouw yang saya lihat. Saya mencoba membayangkan masa kecil papa yang selama ini hanya hidup dalam cerita, dan pagi itu, cerita itu seperti mendapat tubuh.
Setelah Oom Abe dan Kak Ullen bangun, kami pergi ke Pasar Saparua, pas hari pasar. Di sana kami membeli gula Saparua, sarut, dan berbagai hal lain. Suasananya ramai, hidup, dan indah.
Sepulang dari pasar, kami singgah ke rumah tua Opa Bob, yang sekarang ditempati keluarga Likumahua karena opa memberi tempat untuk mereka tinggal. Maksud hati hanya ingin foto dari luar, tetapi kemudian ada orang keluar.
Seorang usi langsung bertanya:
“Ini anak Willem ka?”
Saya terkejut.
Baru kali itu ada orang mengenali saya sebagai anak papa. Biasanya yang lebih mirip papa adalah Rina, adik kedua saya, dan Rio, adik bungsu. Tapi hari itu, di tanah Ouw, ada orang melihat saya dan mengingat papa.
Saya bertanya, “Tante kenal papaku ya?”
Beliau berkata bahwa Wem pernah datang waktu kelas 4 SD bersama opa, oma, Ena, dan Ani. Bahkan sering datang kalau sedang kabur dari rumah.
Saya menangis.
Mereka meminjam foto papa, lalu berkata, “Oh, Willem su tambah gamuk e. Tidak sangka anaknya datang cari Ouw.”
Mereka seperti takjub: bagaimana mungkin anak yang dibesarkan di tanah Jawa bisa datang mencari Ouw?
Saya pun takjub.
Mereka mengenal papa sebagai pribadi yang murah hati, pintar musik, pintar membuat tembikar, dan pintar menyanyi. Tidak semuanya menurun kepada saya, tentu saja. Saya tertawa di antara haru. Tetapi hari itu saya menerima satu hadiah besar: saya mendengar papa dikenang oleh orang-orang yang mengenalnya sejak kecil.
Setelah itu kami pergi ke Goa Liano. Jalannya licin, panas, dan penuh tantangan. Lalu kami pergi membuat tembikar. Saya mencoba membentuk tanah liat. Awalnya rusak karena masih geli-geli dengan tanahnya, tetapi lama-lama bentuk itu menjadi indah.
Saya merasa sedang menyentuh sesuatu yang lebih dalam daripada tanah. Saya sedang menyentuh warisan budaya negri ouw.
Hari itu juga saya melihat arsitektur gereja dan maknanya, lalu kembali ke gereja untuk mengucapkan terima kasih.
Hari keempat, pagi-pagi kami sudah dijemput mobil gereja menuju Pelabuhan Haria. Oom Abe mengantar sampai ke tempat duduk. Saat berpisah, beliau mencium kening, pipi, dan tangan saya.
Saya terharu.
Tidak menyangka: datang sebagai orang yang mencari akar, pulang sebagai saudara yang ditemukan.
Kami tiba di Pelabuhan Tulehu, lalu naik oto penumpang sampai MCM. Setelah itu naik Maxim menuju Kusu-Kusu, singgah di rumah Kak Ullen, lalu dari Kusu-Kusu ke Pulugangsa, ke rumah Mama Ba.
Setelah cerita-cerita tentang Ouw, saya mandi. Erlin menjemput dan hendak membawa jalan. Di tengah perjalanan kami bertemu Bu Santi dan Pak Torsel. Kami makan di Sari Gurih dekat pantai bersama Erlin dan Qiora. Setelah makan, kami ke rujak Natsepa, tetapi perut sudah tidak mampu lagi. Kenyang sekali.
Lalu kami ke Baby Indah Beach, dan makan durian di Suli. Setelah drop ko dan ci, masih makan nasi gurih lagi. Perut rasanya hendak meledak. Malam itu saya kembali bercerita dengan Moeder Ba, di ruang tamunya, duduk bersisian, cerita tentang Ouw, dan keluarga opa.
Hari-hari di Ambon terasa seperti meja makan yang tidak pernah kosong: selalu ada makanan, cerita, tawa, dan kasih.
Hari kelima, pagi-pagi saya pergi bersama Erlin sekaligus membeli minyak kayu putih di Gloria. Pukul 10.45 saya sudah kembali ke rumah untuk bersiap ke tempat Mama Nel.
Di rumah Mama Nel, ada Usi Febi, Bung Glen, Mega, dan tiga anak kecil. Kami bercerita, lalu video call dengan Papa Ade yang tinggal di Belanda, tetapi hari itu sedang berada di Yunani. Kami makan siang sambil berbagi cerita kehidupan. Makanan saya pesan dari kakak sepupu, usi Sally yang emaang sejago itu masak. Niat hati membawa mama ne pergi, tapi antua su seng bisa lagi, jadi duduk makan, cerita di rumah. Antua ingat hari ulangtahun papa. Dengan kasih menceritakan papa kecil hingga papa yang disayang oma.
Selesai dari sana, saya mengantar Moeder pulang, lalu pergi mengunjungi Usi Meis dan Bung Tony yang sedang sakit. Kami bercerita dan berdoa. Rencananya saya langsung ke Bung Iam, tetapi Ci San sudah menghubungi untuk makan es pisang hijau. Maka saya pergi ke Pemuda, diantar salah satu cucu ponakan, Pier. Jangaan kaget, beneran cucu ponakan. Tiba tiba jadi oma haha
Di sana saya bertemu Pak Yo, Ci San, dan Ko Torsel. Kami berbincang sambil makan es. Setelah itu masih pergi makan malam nasi Padang. Lagi-lagi perut terasa terlalu penuh.
Tetapi saya tahu, di Maluku, makanan sering kali adalah bahasa cinta.
Hari keenam, dengan mobil pinjaman, saya mengantar Moeder ke persekutuan lansia. Saya diantar Bung Glenn Alfons, lalu pergi membeli sembako ke Toko Fanny. Setelah itu saya pergi ke rumah Bung Iam. Di sana bertemu Usi Cos. Kami berbincang dan berdoa.
Setelah itu Bung Iam, Usi Cos, dan Bung Glen mengantar saya ke kuburan Ma Miets Diaz. Lalu kami menjemput Moeder Ba bersama Usi Sally. Ternyata Icha ikut juga. Kami ingin membawa Moeder ronda-ronda.
Pertama kami makan di sebuah restoran. Rasanya biasa saja, tetapi pemandangan dan obrolan keluarga menjadi bonus yang indah. Setelah drop Icha, kami pergi lagi ke Belly Beach, menikmati pemandangan laut.
Sesudah itu saya hendak mendoakan usaha Erlin. Moeder Ba dan Usi Sally pulang duluan karena sudah sangat mengantuk. Setelah selesai, malam itu saya masih mengobrol dengan Dea Gina Ivana sampai subuh, membicarakan perkara rumah tua, rumah opa di pulugangsa.
Lelah, tetapi hati hangat.
Hari ketujuh, saya pergi ke gereja tempat opa, oma, mamatua dulu melayani, yaitu GPM Betania. Setelah itu langsung pulang, lalu makan siang bersama Pak Yo.
Kemudian kami pergi ke Liang dan Baby Beach. Dalam perjalanan, kami membeli sukun dan beberapa makanan lain karena ibu Tuti bertamu hendak berjumpa dengan saya. Sampai rumah, saya mandi, lalu bertemu sepupu-sepupu.
Pantainya emang sebagus itu sih, ga perlu pake Filter, birunya wowww. Pas hari Kamis pertama ke Baby beach di Suli, dapet bonus pelangi, ahh indahnya.
Sampai rumah, langsung menerima tamu, persepupuan dan ponakan dan cucu ponakan yang sempat datang. Kami bercerita, ngemil, lalu Queen membaca Mazmur. Saya berdoa dan memberikan berkat rasuli.
Malam itu Via membantu packing ulang. Bi juga sudah menyiapkan cool box. Saya sungguh bersyukur untuk Bi dan Via. Di akhir perjalanan, kasih tidak selalu datang dalam kata-kata besar. Ia terwujudnyata berupa tangan yang membantu packing, cool box yang disiapkan, dan keluarga yang memastikan saya pulang membawa sesuatu.
Hari kedelapan, saya kembali ke Jakarta.
Di udara, dari balik jendela pesawat, saya melihat pelangi berkali-kali.
Saya terdiam.
Pelangi itu seperti tanda. Seperti Tuhan sedang mengingatkan bahwa janji-Nya tidak pernah gagal. Bahwa perjalanan ini bukan kebetulan. Bahwa setiap hujan, setiap air mata, setiap pertemuan, setiap jalan yang terbuka, setiap nama keluarga yang disebut, setiap pelukan perpisahan, semuanya ada dalam tangan-Nya.
Saya berangkat dari Jakarta dengan hujan.
Saya pulang ke Jakarta dengan pelangi.
Dan di antara hujan dan pelangi itu, Tuhan mempertemukan saya dengan tanah, keluarga, sejarah, dan bagian diri saya yang selama ini menunggu untuk ditemukan.
Segala puji, hormat, dan syukur bagi Tuhan.
Selamat Ulangtahun Papa Willem Melcianus Lumalessil, 29 April 1945-29 Maret 2007.
Selamat Ulangtahun Oom Albert Lumalessil 29 April
Hadiah ultah kali ini perjalananku ke Ouw mengenang papa yang kukasihi. Salam dari Rina, kak Jemmy dan Icha di Menado.
Cinta kasih papa hidup dalam diriku, kenangan itu hidup dalam diri Papa Thijs, Mama Nel, dan Moeder Ba, yang kini menjadi orangtuaku, yang mengasihiku seperti papa.
I love you papa
Comments
Post a Comment