- Get link
- X
- Other Apps
- Get link
- X
- Other Apps
Tahun Sabat dan tahun Yobel
1, TUHAN berfirman kepada Musa di gunung Sinai:
2, "Berbicaralah kepada orang Israel dan katakan kepada mereka: Apabila kamu telah masuk ke negeri yang akan Kuberikan kepadamu, maka tanah itu harus mendapat perhentian sebagai sabat bagi TUHAN.
3, Enam tahun lamanya engkau harus menaburi ladangmu, dan enam tahun lamanya engkau harus merantingi kebun anggurmu dan mengumpulkan hasil tanah itu,
4, tetapi pada tahun yang ketujuh haruslah ada bagi tanah itu suatu sabat, masa perhentian penuh, suatu sabat bagi TUHAN. Ladangmu janganlah kautaburi dan kebun anggurmu janganlah kaurantingi.
5, Dan apa yang tumbuh sendiri dari penuaianmu itu, janganlah kautuai dan buah anggur dari pokok anggurmu yang tidak dirantingi, janganlah kaupetik. Tahun itu harus menjadi tahun perhentian penuh bagi tanah itu.
6, Hasil tanah selama sabat itu haruslah menjadi makanan bagimu, yakni bagimu sendiri, bagi budakmu laki-laki, bagi budakmu perempuan, bagi orang upahan dan bagi orang asing di antaramu, yang semuanya tinggal padamu.
7, Juga bagi ternakmu, dan bagi binatang liar yang ada di tanahmu, segala hasil tanah itu menjadi makanannya.
8, Selanjutnya engkau harus menghitung tujuh tahun sabat, yakni tujuh kali tujuh tahun; sehingga masa tujuh tahun sabat itu sama dengan empat puluh sembilan tahun.
9, Lalu engkau harus memperdengarkan bunyi sangkakala di mana-mana dalam bulan yang ketujuh pada tanggal sepuluh bulan itu; pada hari raya Pendamaian kamu harus memperdengarkan bunyi sangkakala itu di mana-mana di seluruh negerimu.
10, Kamu harus menguduskan tahun yang kelima puluh, dan memaklumkan kebebasan di negeri itu bagi segenap penduduknya. Itu harus menjadi tahun Yobel bagimu, dan kamu harus masing-masing pulang ke tanah miliknya dan kepada kaumnya.
11, Tahun yang kelima puluh itu harus menjadi tahun Yobel bagimu, jangan kamu menabur, dan apa yang tumbuh sendiri dalam tahun itu jangan kamu tuai, dan pokok anggur yang tidak dirantingi jangan kamu petik buahnya.
12, Karena tahun itu adalah tahun Yobel, haruslah itu kudus bagimu; hasil tahun itu yang hendak kamu makan harus diambil dari ladang.
13, Dalam tahun Yobel itu kamu harus masing-masing pulang ke tanah miliknya.
14, Apabila kamu menjual sesuatu kepada sesamamu atau membeli dari padanya, janganlah kamu merugikan satu sama lain.
15, Apabila engkau membeli dari sesamamu haruslah menurut jumlah tahun sesudah tahun Yobel, dan apabila ia menjual kepadamu haruslah menurut jumlah tahun panen.
16, Makin besar jumlah tahun itu, makin besarlah pembeliannya, dan makin kecil jumlah tahun itu, makin kecillah pembeliannya, karena jumlah panenlah yang dijualnya kepadamu.
17, Janganlah kamu merugikan satu sama lain, tetapi engkau harus takut akan Allahmu, sebab Akulah TUHAN, Allahmu.
18, Demikianlah kamu harus melakukan ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-Ku serta melakukannya, maka kamu akan diam di tanahmu dengan aman tenteram.
19, Tanah itu akan memberi hasilnya, dan kamu akan makan sampai kenyang dan diam di sana dengan aman tenteram.
20, Apabila kamu bertanya: Apakah yang akan kami makan dalam tahun yang ketujuh itu, bukankah kami tidak boleh menabur dan tidak boleh mengumpulkan hasil tanah kami?
21, Maka Aku akan memerintahkan berkat-Ku kepadamu dalam tahun yang keenam, supaya diberinya hasil untuk tiga tahun.
22, Dalam tahun yang kedelapan kamu akan menabur, tetapi kamu akan makan dari hasil yang lama sampai kepada tahun yang kesembilan, sampai masuk hasilnya, kamu akan memakan yang lama."
© Renungkanlah
Pas banget kemarin kita abis acara kenaikan. Acaranya sih gak banyak ya, tapi karena panas, lembab, pengap. jadi kayak semua tenaga jadi terserap gitu, bukan lelah badani doang, tapi sampai ke jiwa? Kayak HP kita yang terus menyala, tidak pernah dimatikan, hanya sejenak pas kita tidur di malam hari, bahkan kadang dipaksa bekerja lagi, pas kita kebangun, dan scroll scroll sebentar. Kita hidup di zaman yang tidak mengenal "berhenti." Kalender padat, notifikasi WA-IG-Tiktok-E-commerce tak henti, pekerjaan persaan udah dikerjain tapi kayak gak pernah selesai, gak ada abis abisnya gitu.
Bahkan ketika tubuh kita duduk diam, jiwa kita terus berlari.
Sekarang pause sejenak... bayangkan jika Tuhan berkata padamu:
“Tahun ini, kamu berhenti. Tanahmu berhenti. Semua orang berhenti. Aku yang bekerja.”
Di zaman di mana nilai diri ditentukan oleh produktivitas dan pencapaian, undangan Tuhan untuk berhenti terdengar gak relevan ga sih? Dalam berhenti itulah, kita diajak untuk belajar satu hal yang sangat mendasar namun sering kita abaikan:
Bahwa Tuhanlah yang memelihara hidup kita.
Pasal 25 ini adalah satu dari perintah yang paling radikal secara sosial dan ekonomi dalam hukum Taurat. TUHAN ALALH YHWH berbicara kepada Musa dari gunung Sinai—mengingatkan soal sabat itu bukan cuman peraturan agraria, melainkan perintah ilahi dari hadirat yang kudus.
1. Tahun Sabat: Tuhan Menyetel Ulang Siklus Hidup (ay. 2–7)
Setiap tujuh tahun, tanah harus dibiarkan beristirahat. Tidak ada penanaman, tidak ada panen massal. Dalam logika ekonomi modern, ini irasional-ya iyalah gak mungkin ide yang ga cuan diterima huftt. Dalam logika Kerajaan Allah, istirahat adalah ibadah. Tuhan memerintahkan Israel untuk berhenti bekerja supaya mereka itu punya waktu untuk mengingat bahwa hidup bukan bergantung pada kerja mereka, tetapi pada pemeliharaan-Nya.
Jadi Sabat bukan cuman perkara istirahat tanah, atau istirahat dari pekerjaan, tapi istirahat batin. Dalam keheningan tahun sabat, orang Israel akan mengingat bahwa mereka adalah ciptaan, bukan pencipta-keren banget sih. Mereka bergantung kepada penyedia ilahi, bukan produktivitas manusiawi.
2. Tahun Yobel: Tuhan Membebaskan dan Memulihkan (ay. 8–22)
Tahun Yobel—tahun ke-50—adalah klimaks dari siklus sabat. Pada hari raya Pendamaian, sangkakala ditiup, memaklumkan kebebasan di seluruh negeri:
-
Semua tanah yang disewa harus dikembalikan.
-
Semua budak Israel dibebaskan.
-
Semua keluarga kembali ke milik pusaka mereka.
Ini adalah reset total—sosial, ekonomi, bahkan spiritual. Apa artinya? Bahwa tanah bukan milik manusia. Bahwa manusia bukan milik manusia lain. Bahwa semua adalah milik TUHAN.
Dalam sistem ini, ketamakan dihentikan. Ketimpangan dikoreksi. Martabat manusia dipulihkan. Mengapa? Karena TUHAN ingin umat-Nya mengalami rasa keadilan yang bersumber dari kasih, bukan eksploitasi. Wow
“Janganlah kamu merugikan satu sama lain... sebab Akulah TUHAN, Allahmu.” (ayat 17)
3. Tuhan Menjamin Kecukupan Saat Kita Taat (ay. 18–22)
Tapi bagaimana jika kita tidak menanam apa-apa selama dua tahun (tahun sabat + tahun Yobel)? Bagaimana kita bisa hidup? pasti ada pertanyaan seperti itu kan..
Tuhan menjawab dengan janji:
“Aku akan memerintahkan berkat-Ku... hasil tiga tahun akan cukup.” (ayat 21)
Ini solusi logistik sekaligus pelajaran iman. Bahwa ketaatan tidak akan membuatmu kelaparan. Justru dalam taat, kita akan menemukan penyediaan Tuhan yang ajaib, yang tak masuk akal dalam kalkulasi dunia.
Imamat 25 berisi seluk beluk tanah dan hukum sewa yang sekaligus ada bayangan dari Injil.
Tuhan Yesus datang ke dunia bukan hanya untuk menyelamatkan jiwa, tapi untuk memulihkan segala hal—hubungan dengan Allah, hubungan sosial, bahkan relasi ekonomi dan martabat manusia.
Ketika Ia berdiri di sinagoga dan membaca dari Yesaya 61, Ia berkata:
“Roh Tuhan ada pada-Ku... untuk memproklamasikan tahun rahmat Tuhan” (Luk. 4:18–19)
Tuhan Yesus sedang memaklumkan Tahun Yobel rohani. Di dalam Dia:
-
Yang terikat dibebaskan.
-
Yang kehilangan dipulihkan.
-
Yang terhina dimuliakan.
Salib adalah puncak Yobel. Di sanalah dosa kita dihapus, hutang kita lunas, dan kita dipulangkan ke rumah Bapa. Kristus adalah Sangkakala Allah yang memaklumkan kebebasan kekal—bukan setiap lima puluh tahun, tapi untuk selamanya.
© Refleksikanlah
So guys, hari ini kita belajar bahwa sabat dan tahun Yobel bukan hanya ritme liturgi, tapi cara Allah menata ulang kehidupan, soal keadilan, Soal kepemilikan, Soal kebebasan.
Bayangkan jika kita menerapkan prinsip ini hari ini:
-
Memberi waktu bagi bumi dan tubuh untuk beristirahat.
-
Melepaskan hutang orang lain—secara finansial, emosional, bahkan relasi.
-
Menyadari bahwa yang kita miliki bukan milik kita, tapi titipan Tuhan-ini penting nih
© Pertanyaan Reflektif
Apa yang kamu pelajari tentang karakter Allah melalui Sabat dan Tahun Yobel?
-
Apakah kamu percaya bahwa Tuhan bisa mencukupimu bahkan saat kamu berhenti sejenak?
-
Dalam hidupmu saat ini, adakah tanah yang perlu kamu biarkan beristirahat?
-
Siapa orang yang perlu kamu bebaskan dari hutang kesalahan atau kepahitan?
-
Apakah kamu bersedia menerapkan prinsip Sabat: yang dimaksud gak cuman hari libur, lebih ke penyerahan kendali hidup kita dari kita sendiri kepada Allah?
© Berdoalah sesuai Firman
Tuhan, dunia ini sibuk banget, mohon ajar aku untuk berani mengambil pause sejenak, untukberhenti.
Ajarkan aku percaya, bahwa Engkaulah sumber hidupku, bukan pekerjaanku.
Ajar aku melepaskan apa yang bukan milikku—karena semua milik-Mu.
Beriku keberanian untuk memproklamasikan tahun Yobel dalam hidupku:
Dengan memberi kelegaan, memulihkan orang yang hancur,
dan percaya bahwa Engkau cukup, bahkan saat aku tidak bekerja.
Tuhan, tolong aku untuk dimampukan menerapkan prinsip sabat dalam kehidupanku,
Amin.
Tetap semangat guys, Tuhan Yesus beserta kita,#kamugaksendiri #TuhanYesusBesertamu *RL-SDG*
- Get link
- X
- Other Apps
Comments
Post a Comment