Sapaan itu, “Halo, ini R ya”... sebuah pembuka untuk masuk dalam obrolan yang sangat panjang kemudian.
Sapaan itu adalah pola yang berulang. Sebuah ritme. Sebuah cara keluarga itu menjaga saya tetap terhubung di dalam lingkar mereka.
Ada kabar-kabar kecil yang selalu diberikan, yang saat itu terlihat sepele:
Mas W sedang bahagia lho.
Mas L sedang mengalami sesuatu, bantu doa ya.
Bapak/ibu sedang di kota P.
Tidak ada urgensi besar.
Tidak ada pengumuman monumental.
Hanya update kehidupan sehari-hari.
Tetapi, aduh, disitulah maknanya, sapaan konsisten, "ini R ya" , seolah saya bagian dari mereka.
Hari itu, HP berdering di pagi hari, tanpa nama, jadi saya abaikan awalnya.
Di zaman sekarang, mengangkat telepon dari nomor tak dikenal rasanya seperti membuka pintu rumah tengah malam, ya kannn, terlalu berisiko untuk sekadar rasa penasaran. Siapa yang pagi-pagi gini telp?
Maka saya biarkan ia berdering, berhenti, dan tenggelam ke dalam sunyi seperti banyak hal lain yang tak sempat kita jawab dalam perjalanan hidup hufttt....
Tak lama kemudian, pesan masuk.
“Hallo ini R ya.”
Saya kemudian melihat PP pemberi pesan tersebut.
ohhh ada gambar ibu dan bapak di sana.
Segera saya menjawab, " Ya, betul.
Tidak perlu menunggu waktu lama, masuk dari nomor yang berbeda, mbak E.
Foto PP itu seperti kunci kecil yang membuka ruang lama di dalam diri saya.
Ruang yang tidak berdebu, hanya lama tak disinggahi.
Saya menjawab seperti biasa:
“Halo mbak, kabar baik. Bagaimana kabar ibu, bapak, dan Rembulan?”
And just like that masa lalu berdiri kembali di hadapan saya.
Beberapa tahun lalu, saya pernah sangat dekat dengan keluarga itu. Hampir enam tahun lamanya. Kedekatan yang tidak dramatis, tidak penuh deklarasi, tapi intens, seperti cahaya sore yang setia datang setiap hari tanpa pernah kita undang.
Dalam anggota keluarga itu, ada seorang anak kecil bernama Rembulan. Saya biasa memanggilnya Bulan.
Dalam ingatan saya, ia tak pernah berjalan biasa. Setiap langkahnya selalu disertai lompatan kecil, seolah gravitasi baginya hanyalah saran, bukan aturan. Wajahnya selalu berbinar, matanya seperti menampung dunia dan masih selalu merasa kurang, mau lagi dan lagi. ^^ ahh bulan
Perkenalan kami sederhana.
Ia tiba tiba minta dipangku.
Ia nyeletuk yang jarang kita temukan pada orang dewasa:
“Tante alisnya tebal sekali, aku suka..." I was like, what.....LOL
Ia memperhatikan kehadiran dan ketidakhadiran saya seperti seseorang yang sudah paham arti kehilangan, meski belum tahu namanya.
Yang paling saya ingat: cerita.
Malam itu, sepulang kegiatan kampus, pertama kali saya berjumpa Bulan, saya menceritakan kisah Pak Tani dan Si Kancil. Tidak ada strategi pedagogis, hanya cerita yang saya bagikan agar dia belajar kejujuran. Tapi anak itu mendengarkan seperti seseorang yang menemukan mata air di musim kemarau. Wajahnya berbinar, tubuhnya diam, tangannya menangkup mulut dengan muka terkejut saat kancil masuk dalam perangkap pak tani. yang bagi dirinya adalah prestasi besar. Ia melompat, bertepuk tangan, dan kami tos menyudahi waktu cerita.
Setelah itu, kami membaca lebih banyak. Majalah Bobo. Buku cerita anak. Dongeng tentang asal-usul kursi, meja, payung. Saya membaca dengan intonasi yang dibuat-buat, mimik yang dilebih-lebihkan. Ia menyerap semuanya, dengan mata yang haus akan cerita.
Kami duduk di teras rumah selepas isya. Udara cenderung tenang. Orangtuanya sesekali memanggil, menyuruhnya masuk. Tapi Bulan selalu merasa berat untuk beranjak. Masih satu cerita lagi. Satu halaman lagi. Setelah cerita, saya menanyakan, tadi siapa yang nakal? siapa yang menangis? dia selalu menjawab dengan melompat lompat, tertawa bahagia.
Kami mewarnai bersama. Membuat kolase. Melipat kertas menjadi bunga tulip. Ia akan tertawa, meloncat-loncat kecil, lalu memeluk saya dan berkata, “Lagi tante, lagii.”
Selain buku, saya juga bercerita tentang hidup saya, tentang kuliah, tentang menjadi relawan, tentang tidur di lokasi bencana, tentang suasana gedung kantor. Ia bertanya dengan detail yang tak terduga.
“Tidurnya di mana?” Di kursi, bulan :)
"Ada bantalnya?" Ada, pake ban dalam :)
“Takut nggak?”
“Capek nggak?”
Anak kecil itu seakan sedang memetakan kemungkinan hidupnya sendiri lewat hidup orang lain. Karena dikemudian hari, ia menjadi relawan!! Unbelievable
Suatu hari saya bertanya, setengah bercanda,
“Rembulan, kalau sudah besar mau jadi apa?”
“Mau kuliah di tempat tante,” jawabnya asal. Bahkan dia tidak tahu nama gedung tempat orang kuliah!
Jawaban yang terdengar seperti angin lalu.
beberapa tahun kemudian, ia benar-benar kuliah di kampus yang sama dengan saya. And just like that, something unimaginable became real.
“Mau baca buku terus seperti tante.”
Dan sampai hari ini, ia memang seorang pembaca. Mind-blowing hahaha
Padahal waktu itu , saya hanya hadir. bercerita. membaca. menjawab keingintahuannya yang sangat besar. Tapi barangkali otak manusia memang bekerja seperti cermin, mirror neuron, kata para ilmuwan. Kita meniru karena kita terpapar cukup lama pada kemungkinan.
Yang kita kira percakapan ringan di teras, mungkin itu adalah penanaman, benih-benih kecil yang jatuh tanpa kita sengaja. Sebuah cerita sederhana yang membuka jendela kemungkinan.
Di mata Bulan, dunia yang tadinya sebatas halaman rumah mendadak menjadi lebih luas dari pagar.Yang kita kira celetukan tanpa makna, mungkin adalah peta, yang membuat Bulan terus bertekad menjadi seorang pembaca, dan kuliah jika waktunya tiba, tidak lupa untuk menjadi relawan...ahh Bulann
Saya juga pernah berkata asal. Ketika ia bertanya, “Kalau tante mau jadi apa?”
Saya tertawa. “Tante kan sudah kuliah dan bekerja. Tapi suatu hari nanti ingin ke Swiss. Di sana ada gunung salju, udaranya sejuk. Jungfraujoch – Top of Europe.”
Dulu saya menyebutnya sambil lalu: Jungfraujoch, Top of Europe.
Bulan mendengarkan seperti biasa, matanya membulat. Swiss. Gunung salju. Udara sejuk. Kata-kata itu melayang di udara malam, bercampur dengan aroma tanah selepas isya, dan tawa Bulan yang selalu sama.
Jungfraujoch berada di ketinggian 3.454 meter. Untuk sampai ke sana, orang harus naik kereta yang menembus gunung selama belasan tahun pembangunannya. Bulan harus tahu, batu demi batu dilubangi. Waktu, tenaga, dan ketekunan ditanamkan ke dalam rel yang tak terlihat dari bawah. Tidak ada yang instan tentang mencapai ketinggian seperti itu. Bulan terus menatap saya menuggu kelanjutan cerita.
Waktu itu saya menunjukkan kepadanya foto yang ada di binder, Gunung putih. Langit biru. Impian yang saat itu terasa seperti dongeng yang terlalu mahal. Dan entah bagaimana, impian itu benar-benar terjadi. Saya berdiri di Jungfraujoch, memandang hamparan salju yang dulu hanya saya ceritakan di teras rumah kecil itu. Yes. Even that. Even this. Beyond anything you could have imagined.
Kedekatan saya dengan keluarga mereka mungkin bukan kebetulan. Ada kesamaan budaya, cara berbicara, cara tertawa, cara menyikapi hidup. Familiaritas yang membuat kami saling merasa “rumah” untuk satu dengan yang lain, sementara waktu.
Hidup memang mempertemukan kita dengan orang-orang yang terasa sangat akrab, untuk sejangka waktu. Lalu datang perempatan. Kita harus memilih: tetap berjalan bersama atau berpisah arah. Sering kali kita berpisah dan hidup tetap bergerak. Ada juga kisah yang terus berada di jalan yang sama, bergandengan tangan, menghadapi kehidupan.
Bagaimanapun, kita tetap hidup dalam realitas yang sama bernama dunia. Dan kini dunia itu hanya sejauh genggaman tangan. Sebuah notifikasi. Sebuah pesan.
“Halo, ini R ya. Apa kabar?”
Sapaan sederhana bekerja seperti mesin waktu, ingatan kita ditarik pada satu malam di teras rumah itu, dengan seorang anak kecil yang enggan masuk kamar karena masih ingin satu cerita lagi dan lagi.
Mungkin memang begitu cara masa lalu bekerja. Ia tidak benar-benar pergi. Ia hanya menunggu waktu yang tepat untuk menyapa kembali.
“Halo, ini R ya. Apa kabar?”



Comments
Post a Comment