- Get link
- X
- Other Apps
© Berdoalah mohon pimpinan Roh Kudus untuk menyatakan Firman-Nya
© Bacaan Alkitab: Ulangan 3: 12-22
Riwayat penyerahan daerah sebelah timur sungai Yordan
12, Adapun negeri itu telah kita duduki pada waktu itu; mulai dari Aroer yang di tepi sungai Arnon, beserta setengah dari pegunungan Gilead dengan kota-kotanya aku berikan kepada orang Ruben dan orang Gad;
13, dan yang masih tinggal dari Gilead beserta seluruh Basan, kerajaan Og, yakni seluruh wilayah Argob, aku berikan kepada suku Manasye yang setengah itu. --Seluruh Basan ini disebut negeri orang Refaim.
14, Yair, anak Manasye, mengambil seluruh wilayah Argob sampai daerah orang Gesur dan orang Maakha, dan menamai daerah itu, yakni Basan, menurut namanya sendiri: Hawot-Yair, sampai sekarang.
15, Kepada Makhir kuberikan Gilead.
16, Kepada orang Ruben dan kepada orang Gad kuberikan sebagian dari Gilead, sebelah sini sampai sungai Arnon, yakni setengah dari sungai itu dengan daerah pinggirnya, dan sebelah sana sampai sungai Yabok, batas daerah bani Amon;
17, selanjutnya Araba-Yordan dan sungai Yordan dengan daerah pinggirnya, mulai dari Kineret sampai ke Laut Araba, yakni Laut Asin di kaki lereng gunung Pisga ke arah timur.
18, Pada waktu itu aku memerintahkan kepadamu, demikian: TUHAN, Allahmu, telah memberikan negeri ini kepadamu untuk dimiliki; namun kamu, yakni semua orang yang gagah perkasa, harus menyeberang dengan bersenjata di depan saudara-saudaramu, orang Israel.
19, Hanya isteri dan anak-anakmu serta ternak-ternakmu--aku tahu ada banyak ternak padamu--boleh tinggal di kota-kota yang telah kuberikan kepadamu,
20, sampai TUHAN mengaruniakan keamanan kepada saudara-saudaramu seperti kepadamu, dan merekapun memiliki negeri, yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepada mereka di seberang sungai Yordan. Sesudah itu bolehlah kamu pulang, masing-masing ke tanah miliknya yang telah kuberikan kepadamu.
21, Dan kepada Yosua kuperintahkan pada waktu itu, demikian: Matamu sendirilah yang melihat segala yang dilakukan TUHAN, Allahmu, terhadap kedua raja itu. Demikianlah akan dilakukan TUHAN terhadap segala kerajaan, ke mana engkau pergi.
22, Janganlah takut kepada mereka, sebab TUHAN, Allahmu, Dialah yang berperang untukmu."
"Renungkanlah”
Hello guys…
Kita melanjutkan kembali perjalanan bersama Musa. Kali ini ia sedang berdiri di ambang akhir hidupnya. Ia tahu ia tidak akan masuk ke tanah perjanjian. Tetapi sebelum itu, ia menata ulang ingatan bangsa Israel.
Ulangan bukan hanya pengulangan sejarah. Ia adalah rekoleksi iman. Musa sedang memastikan generasi baru ini tidak lupa siapa Allah mereka. gitu guys
Ayat 12–17, Wilayah Transyordania telah ditaklukkan: tanah Sihon dan Og. Dan Musa membagikan wilayah itu kepada suku Ruben, Gad, dan setengah Manasye. Sekilas ini terlihat seperti pembagian administratif biasa ya guys. Tapi sebenarnya ini adalah bukti konkret kesetiaan Allah.
Dari Aroer di tepi sungai Arnon…sampai Gilead…sampai Basan…sampai ke Gunung Hermon…
Semua itu dulu dikuasai raja-raja kuat. Sekarang menjadi milik umat perjanjian.
Allah gak cuman janji sesaat, beliau adalah pribadi yang menepati janji-Nya. Allah gak cuman memimpin bangsa Israel keluar dari penjajahan Mesir menuju tanah yang dijanjikan, beliau pribadi yang menyediakan apa yang diperlukan oleh Israel. Menariknya, hanya setengah suku Manasye yang tinggal di wilayah itu. Ada keberagaman keputusan, tetapi tetap dalam kedaulatan Allah. Dan Musa memastikan batas-batasnya jelas. Mengapa harus jelas batasan wilayahnya? Karena Allah tahu persis bagian setiap umat-Nya.
Dalam hidup kita, pernah banget mikir "Sebenernya kenapa sih Tuhan bagian hidupku seperti ini?”
Tapi melalui journey membaca teks ini, kita kembali diingatkan: Bagian kita ditentukan oleh Allah yang setia.
Ayat 18–20 , Namun ada satu syarat penting.
Walaupun Ruben, Gad, dan setengah Manasye sudah menerima tanah mereka, mereka tidak boleh tinggal diam.
Mereka harus tetap maju berperang bersama saudara-saudara mereka.
Ini indah sekali.
Allah tidak membiarkan umat-Nya menikmati berkat secara egois.
Perjanjian selalu bersifat komunal.
“...sampai TUHAN mengaruniakan keamanan kepada saudara-saudaramu seperti kepadamu.”
Artinya:
Keamananmu belum lengkap kalau saudaramu belum aman.
Berkatmu belum utuh kalau saudaramu belum menerima bagian mereka.
Ini spiritualitas yang dewasa.
Bukan, “yang penting aku sudah diberkati.”
Tetapi, “aku akan tetap berjuang sampai semua mengalami janji Allah.”
Guys…
Iman Kristen bukan iman yang individualistis.
Kita berjalan bersama. Kita berjuang bersama. Kita masuk janji bersama. Jadi lebih ringah ga sih ^^
Ayat 21–22, Lalu Musa berbicara kepada Yosua.
Wait, coba deh, kamu membayangkan, kamu ada di momen itu menyaksikan Musa dan Yosua.
Musa tahu tongkat kepemimpinan akan berpindah tangan. Harusnya kan ngomongin hal yang dapat mempertahankan martabat umat Allah ya kan? tapi nggak lho, si Musa ini gak berbicara tentang strategi militer. Gak ngajarin taktik perang.
Beliau berkata:
“Matamu sendirilah yang melihat…”
Beliau meminta bangsa itu untuk mengingat sejarah. Mengingat peristriwa bersama Sihon. Mengingat Og. Mengingat bagaimana Tuhan bertindak.
Iman selalu bertumbuh dari ingatan akan kesetiaan Allah.
Dan kalimat penutupnya luar biasa:
“Janganlah takut… sebab TUHAN, Allahmu, Dialah yang berperang untukmu.”
Bukan Israel yang berperang untuk Allah.
Tetapi Allah yang berperang untuk Israel.
Ini bukan kayak perang ambisi manusia.
Ini perang yang dipimpin oleh Allah sendiri.
Di sinilah letak kekuatan mereka.
Kisah ini adalah bayangan samar dari Injil.
Israel menerima tanah bukan karena kekuatan mereka,
tetapi karena Allah yang berperang bagi mereka.
Dan di Perjanjian Baru, kita melihat penggenapan yang lebih besar.
Di kayu salib, Kristus berperang bagi kita.
Ia menghadapi dosa, maut, dan kuasa kegelapan.
Kita tidak memenangkan keselamatan.
Kita menerimanya.
Seperti Israel berdiri dan melihat Allah menaklukkan raja-raja,
kita berdiri di bawah salib dan melihat Kristus menaklukkan maut.
Refleksikanlah
Guys, Kadang kita seperti Ruben dan Gad, sudah merasa cukup dengan berkat yang kita terima. Tapi iman yang benar (orthodoxy/Right Thinking) mengajarkan bahwa Allah membentuk umat, bukan individu yang berjalan sendiri. Berkat harus diiringi tanggung jawab untuk tetap maju bersama saudara-saudara kita.
Kadang kita seperti Yosua, melihat tantangan besar dan merasa gentar. Namun Roh Kudus (orthopneumati/Right feeling) mengingatkan kita pada kesetiaan Allah di masa lalu supaya kita berani melangkah hari ini.
Karena itu, hiduplah dalam ketaatan nyata (orthopraxy/rightacting):
tetap setia, tetap berdoa, tetap terlibat dalam pelayanan, dan jangan undur iman ya.
Allah yang berperang bagi Israel adalah Allah yang sama hari ini.
Dan itu cukup untuk menyertai kita berjuang hidup seturut kehendak Allah di dunia yang fana ini.
© Pertanyaan Reflektif
Di bagian mana hidupmu kamu perlu mengingat kembali kesetiaan Allah di masa lalu?
Apakah kamu sedang menikmati berkat tanpa memperjuangkan saudara-saudaramu?
Tantangan apa yang membuatmu takut — dan bagaimana firman Tuhan hari ini meneguhkanmu?
© Berdoalah sesuai Firman
Tuhan, ajarku untuk mengingat kesetiaan-Mu.
Ketika aku takut menghadapi masa depan, ingatkan aku bahwa Dikaulah yang berperang bagiku.
Jangan biarkan aku menikmati berkat-Mu secara egois, tetapi pakailah aku untuk berjalan bersama saudara-saudaraku. Aku percaya bahwa Tuhan adalah Allahku yang setia. Amin.
Tetap semangat guys, Tuhan Yesus beserta kita,#kamugaksendiri #TuhanYesusBesertamu *RL-SDG*
- Get link
- X
- Other Apps
Comments
Post a Comment