18 Maret: Hari yang Ingin Kulewati… Kini Kusyukuri

Waktu kecil, ulang tahun adalah hari yang paling kutunggu.

Hari itu terasa seperti hari milikku sendiri.
Aku menantikannya jauh-jauh hari, menghitung mundur dengan hati berdebar.
Yang kutunggu adalah: ucapan selamat, perhatian, dan perasaan bahwa aku diingat.

Diingat.
Wow… diingat.

Ada sesuatu yang hangat ketika orang berkata, “Selamat ulang tahun.”
Seolah-olah keberadaanku berarti.

“Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku… aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib.” (Mazmur 139:13–14)

Sejak kecil, tanpa aku sadari, hidupku sudah ada dalam tangan-Nya.
Aku diingat—bukan hanya oleh manusia, tetapi oleh Tuhan sendiri.

Masuk masa remaja, maknanya bertambah.
Aku mulai ingin mentraktir teman-teman, berbagi kebahagiaan.

Tapi apa daya… orangtuaku tidak punya cukup uang untuk itu.

Namun di tengah keterbatasan itu, mama selalu memasak sesuatu yang istimewa.
Dengan segala daya upaya—di tengah kekurangan yang tidak sedikit—
ia tetap menghadirkan rasa “dirayakan” di rumah kecil kami.

Saat usiaku 17 tahun, mama mengajakku ke salon.
Make up sederhana ala perempuan Jawa, kebaya yang anggun,
lalu kami pergi ke studio foto.

Itu bukan sekadar foto.
Itu adalah cara mama berkata:
“Anakku berharga.”

Orangtuaku mungkin tidak punya banyak,
tetapi mereka selalu mengusahakan yang terbaik dari apa yang mereka punya.

Terima kasih, mama… papa.

Biasanya teman-teman dekat juga memberi kado.
Dan di masa itu, kado terasa begitu istimewa.

Ada rasa penasaran:
Apa ya isinya?
Siapa yang ingat?

Ulang tahun adalah campuran antara sukacita, kejutan, dan rasa syukur karena bertambah usia.

“Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.” (Kisah Para Rasul 20:35)

Namun semuanya berubah di tahun 2007.

Sebelas hari setelah hari ulang tahunku,
aku sudah mengatur cuti untuk pulang—
bertemu papa, mama, dan Rio, adik bungsuku.

Kami sudah berjanji.
Aku dan papa.

Kami akan makan bersama.
Merayakan ulang tahunku, meskipun terlambat.

Aku masih bisa membayangkannya…
mungkin kami duduk berhadapan,
mungkin papa tersenyum seperti biasa—tenang, sederhana, tapi penuh kasih.

Tapi hari itu… papa pergi.

Tanpa aba-aba.
Tanpa sempat menepati janji kecil
yang bagiku begitu besar.

Dan sejak saat itu,
ulang tahun tidak pernah lagi sama.

Hari yang dulu manis
berubah menjadi pahit.

Bukan lagi hari yang kunantikan,
melainkan hari yang mengingatkanku pada kehilangan papa.

Setiap kali tanggal itu datang,
yang hadir bukan kue, bukan tawa papa mama
melainkan sebuah janji yang menggantung di antara waktu…
sebuah kursi yang kosong…
dan suara yang tidak lagi bisa kupanggil.

Papa…
namamu kini tinggal gema di dalam hati.

Namun kasihmu tidak pernah benar-benar pergi.
Ia hadir diam-diam,
seperti angin yang tak terlihat,
namun menyentuh setiap ruang dalam jiwaku.

Dan mama…
kasihmu adalah pelukan yang tetap hidup bahkan di tengah kehilangan.
Doa-doamu menjadi jembatan
yang menolongku tetap berdiri
ketika hatiku ingin menyerah.

Aku kehilangan.
Tetapi aku tidak pernah benar-benar ditinggalkan.

“TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.” (Mazmur 34:18)

Namun tetap saja…
rasanya kosong.

Flat.

Seperti tidak ada emosi yang benar-benar hidup.

Surprise…
kado…
ucapan…

semuanya seperti lewat begitu saja.
Tidak menyentuh apa-apa.

Di dalam hati, yang ada justru keinginan untuk melewati hari itu secepat mungkin.
Seolah-olah jika aku bisa “skip”,
aku tidak perlu merasakan apa-apa.

Tahun-tahun berlalu seperti itu.

Sampai tahun lalu.

Untuk pertama kalinya, aku memilih sesuatu yang berbeda.

Bukan karena rasa pahit itu sudah hilang, belum.

Pedih itu masih ada.
Tapi aku memilih untuk tidak lari.

Aku merayakan ulang tahun bersama anak-anak youth ARK.
Aku yang merancang.
Aku yang memesan makanan.

Dan… aku juga menceritakan luka itu.

Untuk pertama kalinya,
aku tidak menyembunyikan rasa sakitku.

Dan untuk pertama kalinya,
aku mengizinkan diriku untuk dirayakan.

Mereka bernyanyi.
Mereka tertawa.
Kami berfoto bersama.

Itu bukan momen yang sempurna.

Tapi merupakan langkah kecil, 
langkah untuk berdamai.

“Aku akan mendatangkan kepadanya kesehatan dan kesembuhan…” (Yeremia 33:6)

Dan tahun ini…
langkah itu menjadi lebih jauh.

Aku merayakannya bersama:
3 panti jompo,
1 panti sosial,
dan 1 panti asuhan.

Di tengah mereka,
aku menemukan sesuatu yang dulu hilang.

Bukan dalam bentuk yang sama.
Bukan seperti waktu kecil.
Bukan seperti saat papa masih ada.

Tetapi dalam bentuk yang baru.

Makna.

Bahwa mungkin…
janji makan bersama papa memang tidak pernah terjadi.

Tetapi kasih yang papa tanamkan, itu tetap hidup.

Dan jika papa masih ada,
aku percaya…
ia tidak ingin aku berhenti hidup di hari itu.

Ia ingin aku hidup.
Ia ingin aku bersukacita.
Ia ingin aku menjadi berkat—
seperti doa yang dulu kami ucapkan bersama:

Tuhan, jadikan aku berkat-Mu.

“Kita ini buatan Allah… untuk melakukan pekerjaan baik…” (Efesus 2:10)

Terima kasih, TUHAN.

Pelan tapi pasti,
Engkau memulihkan hari ini.

Hari yang dulu ingin kulewati,
kini mulai bisa kusambut kembali.

Hari untuk mengingat tujuan:

menjadi murid-Mu
dan memuridkan.

“Setiap orang yang mau mengikut Aku… ia harus memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.” (Lukas 9:23)

Hari ini…
aku belajar mencintai hari yang dulu menyakitiku.

Karena aku bukan milikku sendiri.
Aku milik-Mu.

“Kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar…” (1 Korintus 6:20)

Love You, God. Always.

Dan untuk papa…
suatu hari nanti,
aku percaya kita akan duduk kembali.

Bukan di meja makan dunia ini,
tetapi di rumah Bapa yang kekal.

Untuk mama…
terima kasih karena tetap menjadi rumah,
tetap memasak, menyediakan, dan bertahan,
ketika saat dunia begitu keras pada kita.

Dan untuk Rio…
yang lebih dulu pulang,
hari ini aku mengenangmu juga.

Aku merindukan kalian.
Dalam diam. Dalam doa. Dalam setiap langkah yang Tuhan pulihkan.

Dan aku mengasihi kalian,
lebih dari kata-kata bisa menjelaskan.

Selalu.


Terimakasih untuk Ci Melly, Naomi, dan Nina yang hari ini bisa menemani dan meraayakan ^^

Terimakasih untuk banyak cinta, berupa kado-kado, kue ulangtahun, dan pesan kasih 

Terimakasih Tuhan, maafkan, kurang banyak foto foto ^^







PS: Terimakasih TimTam, memberikan hairdryer Ona yang besar, (dulu nerima kado hati flat, now ketawa ketawa, dan hatiku berbunga, karena kalian memikirkan yang kuperlukan -how did u know Hd ku yg lama rip haha, tengs bro and sist) 


Terimakasih BuPer pas sampe gereja malam hari, ada makanan dengan lauk pauk lengkap bisa dinikmati bersama brother O, mie ulangtahun, Lemon Tea.    Ahhh lengkapnya. 

Comments