© Berdoalah mohon pimpinan Roh Kudus untuk menyatakan Firman-Nya
© Bacaan Alkitab: Ulangan 9: 1-6
Orang Israel diperingatkan supaya jangan membanggakan jasanya
1, "Dengarlah, hai orang Israel! Engkau akan menyeberangi sungai Yordan pada hari ini untuk memasuki serta menduduki daerah bangsa-bangsa yang lebih besar dan lebih kuat dari padamu, yakni kota-kota besar yang kubu-kubunya sampai ke langit
2, suatu bangsa yang besar dan tinggi, orang Enak, yang kaukenal dan yang tentangnya kaudengar orang berkata: Siapakah yang dapat bertahan menghadapi orang Enak?
3, Maka ketahuilah pada hari ini, bahwa TUHAN, Allahmu, Dialah yang berjalan di depanmu laksana api yang menghanguskan; Dia akan memunahkan mereka dan Dia akan menundukkan mereka di hadapanmu. Demikianlah engkau akan menghalau dan membinasakan mereka dengan segera, seperti yang dijanjikan kepadamu oleh TUHAN.
4, Janganlah engkau berkata dalam hatimu, apabila TUHAN, Allahmu, telah mengusir mereka dari hadapanmu: Karena jasa-jasakulah TUHAN membawa aku masuk menduduki negeri ini; padahal karena kefasikan bangsa-bangsa itulah TUHAN menghalau mereka dari hadapanmu.
5, Bukan karena jasa-jasamu atau karena kebenaran hatimu engkau masuk menduduki negeri mereka, tetapi karena kefasikan bangsa-bangsa itulah, TUHAN, Allahmu, menghalau mereka dari hadapanmu, dan supaya TUHAN menepati janji yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni Abraham, Ishak dan Yakub.
6, Jadi ketahuilah, bahwa bukan karena jasa-jasamu TUHAN, Allahmu, memberikan kepadamu negeri yang baik itu untuk diduduki. Sesungguhnya engkau bangsa yang tegar tengkuk!"
"Renungkanlah”
Bayangin deh guys, Hari itu Fajar, matahari belum benar-benar terang.
Kabut tipis masih menyelimuti tepian sungai Yordan.
Di kejauhan terlihat tanah yang selama ini hanya mereka dengar dari cerita:
tanah yang dijanjikan kepada Abraham, Ishak, dan Yakub-bapanya orang Israel.
Empat puluh tahun perjalanan di padang gurun akhirnya hampir selesai.
Tetapi anehnya… di tengah sukacita, ada ketegangan yang dirasakan oleh bangsa Israel.
Karena di balik tanah perjanjian itu, berdiri kota-kota besar dengan benteng tinggi.
Ada bangsa-bangsa kuat. Ada pasukan perang yang menakutkan.
Dan ada satu nama yang membuat lutut banyak orang gemetar: Orang Enak. Mereka adalah Bangsa raksasa.
Sampai muncul pepatah terkenal waktu itu:
“Siapakah yang dapat bertahan menghadapi orang Enak?”
Mungkin malam itu sebagian orang Israel mulai membandingkan diri.
“Mereka besar…”
“Kita kecil…”
“Mereka kuat…”
“Kita cuma bekas budak…”
Di tengah kecamuk ketakutan itulah Musa mengarahkan mata Israel kepada Allah YHWH.
1. Allah YHWH yang Berjalan di Depan Umat-Nya (ayat 1–3)
Musa berkata:
“Ketahuilah pada hari ini, bahwa TUHAN, Allahmu, Dialah yang berjalan di depanmu laksana api yang menghanguskan…”
TUHAN berjalan di depanmu.
Bukan Israel yang memimpin Tuhan.
Tetapi Tuhan yang memimpin Israel.
Dan Musa memakai gambaran yang sangat kuat:
Allah seperti api yang menghanguskan.
Ini mengingatkan Israel pada tiang api di padang gurun.
Allah yang memimpin mereka di malam gelap.
Allah yang membuka jalan.
Allah yang menjaga mereka ketika mereka tidak tahu arah.
Artinya kemenangan Israel bukan bergantung pada kemampuan militer mereka,
tetapi pada kehadiran Allah.
Dan ini penting sekali.
Karena sering kali manusia lebih fokus pada besarnya masalah, daripada besarnya Allah.
Israel melihat raksasa. Tetapi Musa meminta mereka melihat Tuhan.
Kadang kita juga begitu ga sih.
Kita melihat:
tagihan,
penyakit,
masa depan,
kegagalan,
luka batin,
ketidakpastian.
Dan ketakutan menjadi lebih besar daripada iman.
Tetapi Ulangan 9 mengingatkan:
Allah yang berjalan di depan Israel adalah Allah yang sama yang berjalan di depan hidup kita hari ini.
2. Bahaya Setelah Kemenangan: Kesombongan Rohani (ayat 4–5)
bagian ini berubah arah secara mengejutkan.
Kita mungkin mengira setelah Musa membangkitkan keberanian Israel,
ia akan berkata:
“Kalian umat pilihan!”
“Kalian bangsa hebat!”
Tetapi Musa justru berkata:
“Janganlah engkau berkata dalam hatimu: Karena jasa-jasakulah TUHAN membawa aku masuk menduduki negeri ini.”
Wow.
Ternyata musuh Israel bukan hanya bangsa Kanaan.
Tetapi hati mereka sendiri.
Musa tahu sesuatu tentang manusia:
setelah mengalami kemenangan, manusia mudah mencuri kemuliaan Tuhan.
Awalnya bersandar pada Tuhan. Tetapi setelah berhasil, mulai berkata:
“Karena aku kerja keras.”
“Karena aku pintar.”
“Karena aku layak.”
Dan Musa menghancurkan ilusi itu.
“Bukan karena jasa-jasamu atau karena kebenaran hatimu…”
Secara literal,
Musa sedang berkata:
“Jangan salah paham. Kalian masuk tanah perjanjian bukan karena kalian lebih benar.”
Ini sangat dalam secara teologis.
Keselamatan dan anugerah Allah tidak pernah lahir dari kelayakan manusia.
Israel dipilih bukan karena mereka paling kudus. Bahkan nanti Musa menyebut mereka bangsa yang tegar tengkuk.
Artinya:
kalau Israel menerima tanah perjanjian, itu karena kasih karunia.
Inilah Injil?
Kita diselamatkan bukan karena moralitas kita.
Bukan karena pelayanan kita.
Bukan karena kita cukup baik.
Kita diselamatkan karena Kristus.
3. Allah yang Tetap Setia kepada Umat yang Tegar Tengkuk (ayat 6)
Lalu Musa menutup bagian ini dengan kalimat yang sangat keras:
“Sesungguhnya engkau bangsa yang tegar tengkuk!”
Istilah “tegar tengkuk” menggambarkan lembu liar yang menolak diarahkan.
Keras kepala.
Sulit tunduk.
Mau jalannya sendiri.
Namun justru di sinilah keindahan kasih karunia Allah.
Allah tetap memimpin Israel.
Allah tetap setia pada perjanjian-Nya.
Allah tetap membawa mereka masuk ke tanah perjanjian.
Bukan karena Israel layak.
Tetapi karena Allah setia.
Puji Tuhan ya, tangan Tuhan tidak melepaskan umat-Nya
Ketika membaca bagian ini dalam terang Perjanjian Baru,
kita melihat bayangan Injil dengan sangat jelas.
Kita adalah manusia yang “tegar tengkuk.”
Penuh dosa. Tidak layak.
Tetapi Kristus datang berjalan di depan kita.
Beliau menghadapi “musuh raksasa” terbesar:
dosa, maut, dan penghukuman.
Di kayu salib, Yesus menanggung apa yang seharusnya kita tanggung.
Karena itu keselamatan kita benar-benar:
“bukan karena jasa kita.”
Paulus berkata:
“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu.”
Ulangan 9 sedang mempersiapkan hati umat untuk memahami kasih karunia Allah yang sempurna di dalam Kristus..
Refleksikanlah
1. Right Thinking
Keselamatan dan kemenangan hidup bukan berasal dari jasa manusia, tetapi dari kasih karunia Allah yang setia pada perjanjian-Nya. Karena itu jangan berpusat pada kekuatan diri, tetapi pada Allah yang berjalan di depan hidupmu.
2. Right Feeling
Biarlah hati kita dipenuhi kerendahan hati dan rasa syukur. Kita tidak layak, tetapi tetap dikasihi Tuhan. Pada saat yang sama, jangan biarkan ketakutan mengalahkan imanmu, sebab Tuhan menyertai umat-Nya.
3. Right Acting
Hiduplah dengan rendah hati. Jangan mencuri kemuliaan Tuhan ketika berhasil, dan jangan menyerah ketika menghadapi “raksasa” dalam hidupmu. Belajarlah berjalan setiap hari dengan bergantung kepada Kristus.
© Pertanyaan Reflektif
© Berdoalah sesuai Firman
Tetap semangat guys, Tuhan Yesus beserta kita,#kamugaksendiri #TuhanYesusBesertamu *RL-SDG*
Comments
Post a Comment