Catatan Seorang Pembina Rohani tentang Daniel, Adel, dan Kesetiaan Tuhan

"I'm trying to hold back my tears."

Kalimat itu tiba-tiba muncul begitu saja di dalam hati saya ketika pintu kedatangan terbuka.

Di antara kerumunan orang yang menunggu keluarga dan sahabat mereka, saya melihat Alvin berdiri sambil melambaikan tangan. Senyumnya lebar, hangat, seolah berkata, "Akhirnya sampai juga." Entah kenapa, melihatnya di sana membuat hati saya sesak oleh rasa syukur. Saya harus menahan air mata.

Lucunya, saya sebenarnya hanya "nebengers".  Alvin datang untuk menjemput keluarganya yang baru tiba dari Indonesia.  Saya hanya ikut menikmati berkat dari kesetiaannya menjemput mereka.  Tapi justru di situlah saya melihat sesuatu yang indah.  Ada kasih yang tidak banyak bicara, tetapi hadir.  Kasih yang rela meluangkan waktu, menyetir cukup jauh ke bandara, lalu memastikan orang-orang yang dikasihinya tiba dengan aman.

Begitu kami keluar dari Tullamarine Airport, Melbourne, Alvin masih dengan kaus putih dan celana panjang hitamnya langsung mengarahkan kami ke mobil. "Vin, kamu sudah kayak warga lokal saja," celetuk saya sambil tertawa.

Mobilnya membuat kami semua ikut tertawa.  Besarnya hampir seperti mobil travel Jakarta–Bandung. Awalnya saya berpikir, "Segede ini buat apa?" Tetapi beberapa menit kemudian saya mengerti. Koper demi koper masuk tanpa perlu dipaksa.  Semua barang tertata rapi, dan kami tetap bisa duduk dengan lega.  Ternyata, bahkan pilihan mobil itu pun adalah bentuk perhatian kepada orang-orang yang ia jemput.

Perjalanan pun dimulai.  Seperti seorang akamsi yang sudah hafal setiap sudut kota, Alvin membawa kami mampir ke toko pastry dan kedai kopi.  "Kalau sudah di Melbourne, kopi wajib dicoba," katanya. Memang benar, kopi Melbourne punya reputasi yang mendunia. Tetapi bagi saya, yang paling membekas hari itu bukan hanya aroma kopinya atau renyah pastry-nya.

Yang saya ingat adalah perasaan disambut.

Kadang, kasih tidak datang dalam bentuk kata-kata yang besar. Kasih hadir dalam seseorang yang rela datang ke bandara, menunggu dengan sabar, melambaikan tangan ketika kita keluar dari pintu kedatangan, "Ahhhh Alvin...si paling act of service.." 

Well, Saya datang ke Melbourne untuk menghadiri pernikahan Daniel dan Adel pada 20 Juni 2026.  Awalnya saya berpikir saya datang sebagai tamu. Saya membayangkan akan menikmati momen bahagia mereka, memberikan ucapan selamat, lalu pulang seperti biasa.

Ternyata saya salah.

Saya pulang dengan hati yang penuh.

Penuh syukur.

Penuh haru.

Penuh air mata.


Semua Dimulai dari Detail Kecil

Salah satu hal yang paling berkesan dari Daniel dan Adel adalah cara mereka mempersiapkan hari pernikahan mereka.

Mereka tidak hanya memikirkan dekorasi yang indah atau rangkaian acara yang sempurna.

Mereka memikirkan orang-orang yang mereka kasihi.

Dan itu terasa sampai ke hati.

Sehari sebelum pemberkatan, keluarga Daniel mengundang kami -keluarga Adel, plus TimTam, plus Audry dan Feli, plus me- makan malam bersama.

Di tengah percakapan yang hangat, Papa Daniel menghampiri Papa Adel dan berkata,

"Adel told me you love seafood."

Lalu malam itu kami menikmati hidangan seafood yang luar biasa.

Lobsternya? Muaantab.

Tetapi yang membuat saya tersentuh bukanlah makanannya.

Yang membuat saya terharu adalah perhatian di baliknya.

Seorang calon besan yang mengingat dan memedulikan hal kecil, apa yang disukai orang yang sebentar lagi menjadi bagian dari keluarganya.

Seseorang ingin membuat orang lain merasa diterima.

Sebelum makan malam itu pun, Adel sudah mengumpulkan keluarga nya (plus hamba tentu saja) di kamar papanya  yang besarnya segede rumah subsidi pemerintah, emang segede itu ckckck.

Ia menjelaskan rundown acara dari pagi sampai malam.  

Semua dipersiapkan dengan sangat matang.

Bukan karena ia perfeksionis.

Tetapi saya cukup yakin ia ingin setiap orang merasa menjadi bagian dari hari bahagia DanDel.

Dan sejak malam itu saya mulai melihat kasih tersebar di mana-mana.

Di meja makan.

Di percakapan-percakapan kecil.

Di perhatian yang mungkin tidak dilihat banyak orang.

Tetapi sangat dirasakan, oleh kami yang berada di sekitaran pengantin. Puji Tuhan!!


Pagi yang Dingin dan Hati yang Hangat

Keesokan paginya, Melbourne menyambut kami dengan udara musim dingin yang menggigit.

Begitu pintu hotel terbuka, angin dingin langsung menerpa wajah.  Embusannya cukup kencang hingga pipi terasa kebas, ujung hidung memerah, dan tanpa sadar bahu kami sedikit terangkat menahan dingin. Sesekali gigi hampir bergemeletuk.  Saya dan Vania berjalan sambil memperhatikan map sebagai pemandu kami sambil mempercepat langkah, berusaha mencari kehangatan.

Kami mendapat jadwal makeup paling pagi.

Langit Melbourne pagi itu tampak muram, khas musim dingin.  Hamparan awan kelabu menutupi langit tanpa menyisakan sedikit pun warna biru.  Gerimis tipis turun perlahan, membasahi jalanan dan trotoar yang masih lengang.  Pepohonan bergoyang pelan diterpa angin, sementara orang-orang yang lewat berjalan cepat dengan mantel tebal dan secangkir kopi hangat di tangan.

Entah mengapa, suasana yang gloomy itu justru terasa indah.  Seolah-olah alam sedang mengajak kami memperlambat langkah, menghirup setiap momen, dan menyadari bahwa hari itu bukanlah hari yang biasa.

Sesampainya di Aurora, suasananya sangat berbeda dengan dinginnya di luar.  Cahaya lampu-lampu di depan cermin memenuhi ruangan dengan warna hangat.  Di setiap sudut terdengar suara hair dryer yang menyala bergantian, pemandangan kuas makeup yang menyapu wajah, percakapan lirih para bridesmaid, sesekali diselingi tawa kecil yang memecah keheningan pagi.  Aroma hairspray bercampur dengan wangi parfum yang masih samar-samar tercium.  Hari besar itu perlahan mulai hidup.

Adel sudah duduk di kursi makeup.  Wajahnya tertutup sheet mask.  Meski dirinya adalah calon pengantin—orang yang seharusnya paling sibuk dan paling diperhatikan pagi itu—hal pertama yang ia pikirkan justru bukan dirinya.

"Please ask Alvin to buy coffee for everyone."

Saya tersenyum mendengarnya.

See how thoughtful she is.

Sekitar tiga puluh menit kemudian, pintu ruang make up itu terbuka.

Alvin masuk sambil menenteng beberapa gelas minuman hangat dan kantong berisi roti untuk sarapan. Mungkin sejak pagi-pagi sekali ia sudah keluar, menerobos udara dingin Melbourne, mencari kedai yang sudah buka, memastikan setiap orang mendapat pesanan yang tepat—kopi untuk yang membutuhkan suntikan semangat, hot tea untuk yang ingin menghangatkan tubuh, serta roti agar kami tidak memulai hari dengan perut kosong.  Ahhh Alvin si paling Act of Service...

Ia datang membawa beberapa gelas minuman hangat dan roti.

Apa yang dilakukan Alvin tampak sederhana.  Sangat sederhana.

Tetapi sering kali kasih justru paling nyata melalui hal-hal sederhana.

Melalui seseorang yang memperhatikan tanpa diminta.

Melalui seseorang yang mengingat kebutuhan orang lain sebelum kebutuhan dirinya sendiri.

Melalui seseorang yang rela bangun lebih pagi agar orang lain dapat memulai hari dengan lebih nyaman.

Di tengah udara Melbourne yang dingin, secangkir kopi memang menghangatkan tangan.

Tetapi perhatian yang tulus menghangatkan hati.

Dan pagi itu, yang paling saya ingat bukan rasa tehnya.

Melainkan kasih yang hadir diam-diam, tanpa banyak kata, namun tinggal lama di dalam hati.  


--------------------------------------------------

Lalu tibalah momen yang tidak akan pernah saya lupakan.

MUA mengambil veil itu dengan kedua tangannya.

Begitu lembut.

Begitu hati-hati.

Ia meminta Adel sedikit menundukkan kepala, lalu merapikan rambutnya sekali lagi sebelum perlahan membentangkan veil warna salem itu.

Beberapa detik kemudian, kain tipis itu jatuh perlahan, membingkai wajah Adel dengan anggun.

Ruangan mendadak terasa lebih sunyi.

Entah memang semua orang terdiam, atau hanya hati saya yang tiba-tiba berhenti sejenak.

Saya hanya menatap.

Gaunnya begitu indah.

Elegan.

Anggun.

Feminin.

Semuanya terasa begitu "Adel".

Rambutnya.

Riasannya.

Gaunnya.

Veil yang membingkai wajahnya.

Semuanya menyatu dengan begitu sempurna.

Lalu, tanpa saya sadari, sebuah kesadaran datang begitu saja.

Di hadapan saya bukan lagi gadis kecil yang dulu sering saya doakan.

Bukan lagi anak muda yang pernah datang membawa pertanyaan-pertanyaan tentang hidup, iman, dan masa depan.

Bukan lagi seseorang yang sedang mencari arah.

Di hadapan saya berdiri seorang mempelai.

Seorang perempuan dewasa yang sedang bersiap mengucapkan janji seumur hidup dan memasuki musim kehidupan yang baru.

Saya tidak tahu bagaimana menjelaskan perasaan itu.

Ada sukacita, karena melihat Tuhan memimpin setiap langkahnya hingga tiba di hari ini.

Ada rasa syukur, karena saya diizinkan menjadi saksi dari perjalanan yang indah itu.

Ada kebanggaan, melihat seorang anak Tuhan bertumbuh menjadi pribadi yang dewasa.

Dan, entah mengapa, ada pula rasa haru yang sulit diungkapkan.

Mungkin beginilah rasanya ketika kita menyaksikan seseorang yang pernah kita dampingi bertumbuh, lalu pada suatu hari menyadari bahwa ia tidak lagi sedang mencari jalan.

Ia telah menemukan panggilannya.

Ia telah menemukan teman seperjalanannya.

Dan kini ia siap melangkah.

Perasaan-perasaan itu bercampur menjadi satu.

Membuat dada terasa sesak.

Saya hanya bisa tersenyum.

Lalu diam-diam berbisik di dalam hati,

"Tuhan, terima kasih. Engkau sungguh setia menyelesaikan pekerjaan baik yang telah Engkau mulai di dalam hidupnya."


Saat Saya Tidak Lagi Mampu Menahan Air Mata

Setibanya di gedung gereja ICC, saya langsung merasakan bahwa hari itu dipersiapkan dengan begitu penuh perhatian.

Sebelum memasuki ruang ibadah, setiap tamu terlebih dahulu berhenti di meja penerima tamu.  Irene Dennsi, Gab& Ken, dengan ramah menyambut para tamu.  Mereka mengarahkan undangan untuk mengisi daftar hadir dengan cara yang unik, yaitu difoto untuk nantinya menjadi sebuah kenangan bagi mempelai.  



Di atas meja itu terletak sebuah buku tamu yang dirancang begitu cantik.  Di sampingnya ada dua kamera instan berwarna hijau muda.  Setiap kali tombolnya ditekan, terdengar bunyi khas kamera itu bekerja, lalu beberapa detik kemudian selembar foto kecil perlahan keluar.  Foto itu ditempelkan ke dalam buku tamu,  lalu setiap tamu menuliskan doa, ucapan, atau harapan bagi Daniel dan Adelia dengan spidol warna-warni yang telah disediakan.

Saya tersenyum melihat ide itu.

Bertahun-tahun kemudian, ketika mereka membuka kembali buku itu, mereka tidak hanya akan membaca nama-nama tamu.

Mereka akan melihat wajah-wajah yang hadir.

Wajah-wajah yang pernah mendoakan mereka.

Wajah-wajah yang menjadi saksi ketika sebuah keluarga baru dimulai.

Di belakang meja penerima tamu, tersusun rapi pita-pita hijau yang kelak akan menggantikan confetti. Sederhana, tetapi terasa hangat. Seolah setiap detail kecil hari itu dipilih bukan sekadar karena indah, tetapi karena memiliki makna.

Di tengah para tamu yang terus berdatangan, Daniel berjalan menyambut satu demi satu.

Ia mengenakan setelan jas berwarna marun yang begitu serasi.

Ia tersenyum, menyalami setiap orang, sesekali berhenti untuk berbincang singkat.

Namun, kalau diperhatikan lebih saksama, ada sesuatu di wajahnya.

Daniel looked a little nervous before the ceremony began.

Dan itu sangat bisa dimengerti.

Beberapa menit lagi, hidupnya akan berubah untuk selamanya.

Lalu musik mulai mengalun.

Semua orang perlahan mengambil tempat duduk.

Ruangan menjadi hening.

Pintu terbuka.

Adelia melangkah masuk bersama papanya.

Gaun putihnya mengikuti setiap langkah dengan anggun.

Veil yang dikenakannya bergerak lembut setiap kali ia berjalan.

Tidak ada langkah yang tergesa.

Tidak ada kata-kata.

Hanya seorang ayah yang mengantar putrinya menuju altar, dan seorang mempelai wanita yang melangkah dengan tenang menuju babak baru dalam hidupnya.

Di sepanjang lorong itu, semua mata tertuju kepadanya.

Daniel pun menoleh.

Dan untuk sesaat, seolah hanya mereka berdua yang ada di ruangan itu.

Ibadah pun berlangsung.

Jemaat menaikkan pujian bersama.

Firman Tuhan diberitakan.

Janji pernikahan diucapkan dengan penuh kesungguhan.

Dua pribadi mengikat komitmen, bukan hanya di hadapan keluarga dan sahabat, tetapi di hadapan Allah yang menjadi saksi utama perjanjian mereka.

Puji Tuhan, saya pun diberi kehormatan untuk turut menyampaikan doa dan berkat untuk mempelai bersama Prof. Sen Sendjaya dan Pdt. Yonathan Chandra.

Bagi saya, berdiri di altar saat itu bukan sekadar menjalankan sebuah liturgi.

Saya sedang menyaksikan kesetiaan Tuhan.

Tuhan yang mempertemukan.

Tuhan yang membentuk.

Tuhan yang memelihara.

Dan pada hari itu, Tuhan pula yang mempersatukan dua kehidupan menjadi satu perjalanan yang baru.

Ada momen-momen dalam hidup yang begitu indah hingga kita tidak ingin waktu bergerak terlalu cepat.

Hari itu adalah salah satunya.

Terimakasih Timot untuk foto ini


Setelah pemberkatan selesai, tibalah prosesi penandatanganan sertifikat pernikahan negara.

Suasana di altar berubah menjadi begitu tenang.  Cahaya pagi yang lembut menembus jendela gereja dan jatuh di atas meja kayu tempat dokumen pernikahan diletakkan.  Meja itu dihiasi rangkaian bunga yang begitu memesona—mawar merah tua, burgundy, dan anggrek ungu yang menjuntai anggun.  Di sisi altar berdiri bunga-bunga khas Australia yang sejak pagi menjadi buket para bridesmaids. Bentuknya unik, kokoh, dan indah, seakan menjadi simbol negeri yang mempertemukan dua hati.

Saya memperhatikan dekorasi itu cukup lama.

Rasanya bukan sekadar rangkaian bunga.

Melainkan sebuah kisah.

Ada sentuhan Malaysia, tanah kelahiran Daniel.

Ada kehangatan Indonesia, tempat Adel dibesarkan.

Ada akar budaya Tionghoa yang mengalir dalam keluarga mereka.

Dan ada Australia, negeri yang mempertemukan mereka, menumbuhkan kasih, hingga akhirnya menjadi tempat mereka mengikrarkan janji pernikahan.


Setelah penandatanganan selesai, tibalah prosesi penghormatan kepada orang tua.

Daniel dan Adel berjalan terlebih dahulu menuju Grand Pa dan Grand Ma.

Lalu kepada papa dan mama Daniel.

Kemudian kepada papa dan mama Adel.

Mereka memeluk orangtua dengan penuh hormat.

Tidak tergesa.

Tidak terburu-buru.

Setiap langkah seolah mengucapkan, "Terima kasih telah mengasihi kami sampai hari ini."

Saya sempat mengalihkan pandangan kepada kedua keluarga.

Di wajah papa Adel tampak ketenangan yang sulit dilukiskan.  Tidak ada air mata yang jatuh. Namun sorot matanya menyimpan begitu banyak cerita—tentang seorang putri yang dahulu digendong, diajari berjalan, didampingi bertumbuh, dan hari itu melangkah memasuki keluarganya sendiri.

Di sampingnya, mama Adel tersenyum lembut. Senyum yang dipenuhi syukur. Senyum seorang ibu yang melihat doa-doanya selama bertahun-tahun kini dijawab Tuhan dengan cara yang begitu indah.

Papa dan mama Daniel pun memandang putra mereka dengan wajah yang penuh kebanggaan.  Hari itu bukan sekadar mereka menerima seorang menantu. Mereka juga melihat anak yang mereka besarkan kini siap memimpin sebuah keluarga baru.

Di sisi meja penandatanganan, Alvin dan Josef berdiri sebagai saksi.

Mereka menandatangani dokumen yang sama.

Menyaksikan momen yang sama.

Mungkin bagi banyak orang, itu hanyalah formalitas.

Namun saya membayangkan, bagi seorang adik, hari itu selalu memiliki rasa yang berbeda.

Hari itu mereka tidak kehilangan seorang kakak.

Mereka justru memperoleh seorang saudara baru.

Namun tetap saja...

Sebuah bab dalam kehidupan keluarga telah selesai.

Dan bab yang baru sedang dimulai.

Lalu...

Terjadilah sesuatu yang sama sekali tidak saya duga.

Setelah memberikan penghormatan kepada kedua orang tua mereka, Daniel dan Adel tidak kembali ke tempat semula.

Mereka justru berbalik.

Dan berjalan ke arah saya.

Semakin dekat.

Semakin dekat.

Sampai akhirnya mereka berdiri tepat di depan saya.

Lalu mereka memeluk saya.

Memberikan penghormatan kepada saya.

Saat itu juga tubuh saya langsung bergetar.

For real.

Saya tidak siap.

Saya mencoba tetap tenang.

Saya mencoba tersenyum.

Saya mencoba menguasai diri.

Sungguh...

Saya mencobanya.

Tetapi air mata ternyata lebih kuat.

Dan saya kalah.

Pada saat itu saya tidak merasa sedang dihormati.

Saya merasa sedang dikasihi.

Saya merasa Tuhan sedang memperlihatkan kepada saya bahwa tidak ada satu doa yang sia-sia.

Tidak ada satu percakapan yang sia-sia.

Tidak ada satu pendampingan yang sia-sia.

Bagi seorang pembina rohani, mungkin tidak ada hadiah yang lebih indah daripada melihat anak-anak rohaninya bertumbuh, tetap berjalan bersama Tuhan, menemukan pasangan hidup yang Tuhan sediakan, lalu, di tengah sukacita terbesar dalam hidup mereka, masih mengingat perjalanan yang pernah dilalui bersama.

Air mata saya mengalir.

Bukan karena saya merasa pantas menerima penghormatan itu.

Justru sebaliknya.

Karena saya melihat kesetiaan Tuhan.

Dialah yang memanggil.

Dialah yang memelihara.

Dialah yang menumbuhkan.

Saya hanya diberi anugerah untuk berjalan bersama mereka pada sebagian kecil dari perjalanan itu.

Dan bagi saya...

Itu sudah lebih dari cukup.

Puji Tuhan.

Soli Deo Gloria.


Terimakasih Hutami untuk foto ini



Speech yang Hancur Karena Air Mata

Malamnya, tempat resepsi tidak kalah indah.  Sangat intim.  Bunga bunga unik.  Buah segar, semua orang bisa langsung mengambil, anggur, plum.  Makanan Mediterania yang menurut kesaksian teman-teman saya sangat juara, mantab, enak, istimewa.  Di resepsi itu, sebenarnya saya sudah menyiapkan sebuah speech.

Sudah saya tulis.

Sudah saya susun.

Rapi.

Terstruktur.

Setidaknya menurut saya.

Saya membayangkan akan menyampaikannya dengan tenang.

Saya ingin menceritakan kepada semua orang tentang Adel.

Tentang seorang perempuan yang saya kenal bukan hanya karena kecerdasannya, tetapi juga karena kedalaman hatinya.

Orang sering melihat pikirannya yang tajam.

Tetapi saya mengenal kelembutan yang ia simpan.

Orang melihat keberaniannya.

Tetapi saya juga pernah melihat air matanya.

Saya ingin menceritakan bahwa selama bertahun-tahun, ada satu doa yang terus saya panjatkan kepada Tuhan.

"Tuhan, kirimkan seseorang yang mampu memahami hati Adel."

Bukan sekadar seseorang yang mengagumi kelebihannya.

Tetapi seseorang yang juga mau memeluk kelemahannya.

Seseorang yang bukan hanya berjalan di sampingnya ketika hidup sedang mudah, tetapi tetap tinggal ketika musim kehidupan berubah.

Seseorang yang mengasihinya sebagaimana Kristus mengasihi jemaat-Nya.

Lalu...

Tuhan menjawab doa itu.

Namanya Daniel.

Saya masih mengingat pertemuan pertama kami di sebuah restoran Jepang.

Tidak ada suasana yang istimewa.

Semangkuk makanan hangat.

Dan percakapan yang mengalir.

Tetapi di sanalah saya mulai mengenal Daniel.

Setiap kali ia berbicara tentang Adel, matanya berbinar.

Ia tidak sedang berusaha membuat siapa pun terkesan.

Ia hanya sedang menceritakan seseorang yang sungguh ia kasihi.

Saya melihat ketulusan.

Saya melihat kesungguhan.

Saya melihat komitmen.

Dan diam-diam saya berkata di dalam hati,

"Laki-laki ini serius."

Setelah makan, kami masih melanjutkan percakapan sambil menikmati secangkir cokelat hangat.

Entah mengapa, bukan hanya minuman itu yang menghangatkan saya.

Hati saya juga terasa hangat.

Saya melihat seorang pria yang tidak sedang mengejar sebuah pernikahan.

Ia sedang mempersiapkan sebuah kehidupan bersama.

Beberapa waktu kemudian kami kembali bertemu.

Kali ini bersama papa dan mama Adel.

Saya memperhatikan bagaimana Daniel berbicara.

Bagaimana ia mendengarkan.

Bagaimana ia menghormati kedua orang tua Adel.

Tidak berlebihan.

Tidak dibuat-buat.

Ada hormat yang lahir dari hati.

Dalam hati saya sempat tersenyum sendiri.

"Bibit, bebet, bobot... centang semua ya, Bro."

Tetapi lebih dari semua itu...

Saya melihat seorang laki-laki yang datang bukan hanya membawa cinta.

Ia membawa tanggung jawab.

Saya ingin menceritakan semua itu dalam speech saya.

Saya ingin berbicara tentang kesetiaan Tuhan.

Tentang doa-doa yang dijawab-Nya.

Tentang kasih yang bertumbuh.

Tentang pernikahan yang dibangun di atas Kristus.

Saya ingin mengucapkan begitu banyak hal.

Tetapi...

Ketika nama saya dipanggil...

Dan saya berdiri...

Lalu memandang Adel...

Semua kalimat yang sudah saya siapkan seolah menguap begitu saja.

Saya melihatnya berdiri di sana.

Bukan lagi anak muda yang dulu sering datang membawa pertanyaan tentang hidup.

Bukan lagi pribadi yang pernah bergumul mencari arah hidup.

Di hadapan saya berdiri seorang mempelai.

Seorang perempuan yang telah Tuhan pimpin, bentuk, dan pelihara hingga hari itu.

Tenggorokan saya mendadak tercekat.

Suara saya bergetar.

Tangan saya ikut bergetar.

Saya menggenggam mikrofon sedikit lebih erat.

Saya mencoba mengingat kalimat pertama.

Saya mencoba menarik napas lebih dalam.

Di kepala saya ada begitu banyak kata.

Tetapi di hati saya hanya ada rasa syukur.

Dan air mata.

Air mata itu datang tanpa meminta izin.

Saya kalah.

Di balik wajah Adel, seolah-olah saya melihat kembali begitu banyak potongan perjalanan.

Percakapan-percakapan panjang.

Doa-doa yang dipanjatkan di tengah kebingungan.

Harapan-harapan yang pernah kami titipkan kepada Tuhan.

Penantian.

Pertumbuhan.

Pemulihan.

Lalu hari itu...

Saya melihat jawaban Tuhan berdiri tepat di depan mata saya.

Saya tidak sedang melihat sebuah pesta pernikahan.

Saya sedang menyaksikan kesetiaan Allah.

Dan saya sadar...

Kadang-kadang, ketika Tuhan menjawab doa yang sudah terlalu lama kita nantikan...

Kata-kata memang tidak lagi cukup.

Air mata yang mengambil alih.

Bahkan sekarang...

Ketika saya menulis kembali kisah ini...

Mata saya masih basah.

Bukan karena saya sulit melepaskan.

Melainkan karena saya sekali lagi diingatkan...

Tuhan sungguh setia.

Selalu.

Soli Deo Gloria.

Pic by Tami

(Speech nya akan disertakan di bagian akhir tulisan ini)


Mereka Saling Melengkapi

Salah satu momen yang paling membekas bagi saya saat mendengarkan Josef, adik Daniel, memberikan specch setelah saya.

Ia bercerita tentang kakaknya.

Tentang Daniel yang ia kenal sejak kecil.

Lalu, dengan senyum yang hangat, ia berkata bahwa sejak mengenal Adel, Daniel berubah.

Saya tersenyum.

Daniel adalah pribadi yang tenang.

Stabil.

Konsisten.

Tidak banyak bicara.

Ia bukan tipe orang yang selalu menjadi pusat perhatian.

Namun justru karena itulah, kehadirannya membuat orang lain merasa aman.

Seperti sebuah rumah yang lampunya selalu menyala ketika malam tiba.

Kita tahu...

Ketika pulang, rumah itu akan tetap ada.

Tetapi sejak mengenal Adel, saya melihat sisi lain dari Daniel.

Ia lebih berani keluar dari zona nyamannya.

Lebih mudah tertawa.

Lebih ekspresif.

Lebih menikmati setiap momen.

Seolah-olah Adel menghadirkan warna-warna baru dalam hidupnya.

Sebaliknya, saya mengenal Adel sebagai pribadi yang berpikir sangat dalam.

Ia tidak hanya memikirkan sesuatu.

Ia menghidupinya.

Ia merasakannya.

Kadang begitu dalam hingga pikirannya terus bekerja, bahkan ketika persoalan itu sebenarnya sudah selesai.

Dan justru di situlah saya melihat keindahan cara Tuhan bekerja.

Daniel tidak datang untuk mengubah Adel.

Ia hadir.

Menjadi tempat pulang.

Menjadi ruang yang aman.

Menjadi seseorang yang berkata tanpa banyak kata,

"Aku di sini."

Saya masih mengingat satu momen di Bali.

Kami sama-sama menghadiri pernikahan seorang sahabat.

Daniel dan Adel datang dari Melbourne.

Saya datang dari Jakarta.

Setelah pemberkatan selesai, ternyata resepsi masih cukup lama dimulai. Adel harus berada di venue untuk sesi foto.

Sambil menunggu, saya mengajak Daniel mencari makan.

Kami pergi ke Sate bawah Pohon.  Ahh saya ingin menunjukkan pada Daniel sate legendaris ini.  Kami duduk cukup lama.

Mengobrol tentang hidup.

Tentang pekerjaan.

Tentang pelayanan.

Tentang masa depan.

Tentang begitu banyak hal.

Obrolan kami begitu panjang hingga, ketika kembali ke mobil, Daniel tertidur pulas di kursi penumpang.

Sesampainya di venue, Adel langsung menghampiri.

Ia mengekpresikan kekhawatirannya.

Daniel tidak menjelaskan panjang lebar.

Ia hanya mendekat.

Lalu memeluk Adel.

Sesederhana itu.

Dan saya melihat sesuatu yang indah.

Dalam beberapa detik saja, wajah Adel berubah.

Ketegangan yang tadi tampak perlahan menghilang.

Ia kembali tenang.

Saya menyimpan momen itu di dalam hati.

Beberapa bulan kemudian, saya melihat pemandangan yang hampir sama di Melbourne.

Hari itu kami sedang menunggu tram.

Udara musim dingin terasa menusuk.

Angin berembus cukup kencang.

Mereka sedang berdiskusi.

Masing-masing menyampaikan pendapatnya.

Tidak ada suara yang meninggi.

Tidak ada keinginan untuk menang sendiri.

Hanya dua orang yang sedang belajar saling mendengarkan.

Lalu Daniel kembali melakukan hal yang sama.

Ia melangkah mendekat.

Memeluk Adel.

Dan sekali lagi...

Saya melihat wajah Adel berubah.

Tenang.

Saya hanya berdiri beberapa langkah dari mereka.

Menghela napas panjang.

Lalu berbisik pelan di dalam hati,

"Terima kasih, Tuhan Yesus."

Pada saat itu saya mengerti.

Tuhan tidak mempertemukan dua orang yang sama.

Ia mempertemukan dua pribadi yang saling menolong untuk semakin menjadi serupa dengan Kristus.

Daniel menghadirkan ketenangan bagi Adel.

Adel membangunkan keberanian dalam diri Daniel.

Yang satu menjadi tempat pulang.

Yang satu mengajak melangkah lebih jauh.

Mereka tidak saling menyempurnakan.

Mereka saling menopang.

Di situlah keindahan pernikahan mereka.

Bukan ketika dua orang menemukan pasangan yang sempurna.

Melainkan ketika dua orang yang sama-sama sedang dibentuk Tuhan memilih untuk terus bertumbuh bersama, saling mengasihi, saling menguatkan, dan saling membawa satu sama lain semakin dekat kepada Kristus.

Saat melihat mereka, hati saya kembali dipenuhi syukur.

Saya tidak sedang mengagumi kisah cinta mereka.

Saya sedang mengagumi Tuhan yang, dengan cara-Nya yang begitu indah, mempertemukan dua kehidupan, membentuk keduanya melalui perjalanan yang berbeda, lalu merajut mereka menjadi satu.

Puji Tuhan.

Soli Deo Gloria.

Terima Kasih, Daniel

Ada satu hal tentang Daniel yang terus saya ingat.

Sejak awal hubungan mereka, ia selalu melibatkan saya.

Bukan karena saya harus tahu semua hal.

Bukan karena saya perlu mengambil keputusan.

Tetapi karena ia memilih untuk berjalan bersama.

Saya masih mengingat pertemuan pertama kami.

Lalu percakapan-percakapan berikutnya.

Tentang relasi.

Tentang masa depan.

Tentang langkah-langkah yang hendak mereka ambil.

Dan ketika waktunya tiba untuk melamar Adel, Daniel kembali menghubungi saya.

Ia tidak datang membawa pidato panjang.

Tidak pula meminta sesuatu yang rumit.

Ia hanya bertanya,

"Menurut Kak Risma, siapa dari teman-teman youth yang sebaiknya aku ajak?"

Saat itu saya merasa Daniel sedang berkata tanpa mengucapkannya,

"Kak, perjalanan ini juga adalah perjalanan kita bersama."

Ia tidak melupakan orang-orang yang Tuhan pakai dalam proses hidupnya.

Ia menghargai relasi.

Ia menghargai perjalanan.

Ia menghargai orang-orang yang pernah berjalan bersamanya.

Dan bagi seorang pembina rohani...

Perasaan itu sulit dilukiskan.

Bukan karena saya merasa penting.

Justru sebaliknya.

Saya merasa bersyukur karena Tuhan mengizinkan saya mengambil bagian, walau hanya sedikit, dalam kisah yang sedang Ia tulis atas hidup Daniel dan Adel.

Sering kali, dalam pelayanan, seorang pembina hanya menabur.

Lalu perlahan mundur ke belakang layar.

Tidak semua benih yang ditanam dapat ia lihat bertumbuh.

Tidak semua doa dapat ia saksikan jawabannya.

Tetapi Tuhan begitu baik.

Melalui Daniel dan Adel, Tuhan mengizinkan saya melihat salah satu jawaban itu dengan mata kepala sendiri.

Dan...

Itu adalah anugerah.

Terima kasih, Dan.

Bukan karena engkau selalu melibatkan saya.

Tetapi karena melalui hal-hal sederhana itu, engkau mengajarkan bahwa menghargai perjalanan dan mengingat orang-orang yang pernah berjalan bersama kita adalah bagian dari kedewasaan.

Saya tidak akan melupakan itu.

Dan saya berdoa, kiranya keluarga yang sedang kalian bangun akan terus menjadi keluarga yang tidak hanya mengasihi Tuhan, tetapi juga menghargai setiap orang yang Tuhan hadirkan dalam perjalanan hidupnya.

Puji Tuhan.

Soli Deo Gloria.


Tuhan Masih Menulis Kisah-Kisah yang Indah

Pada akhirnya...

Saya menyadari bahwa tulisan ini bukan terutama tentang Daniel.

Bukan juga tentang Adel.

Bahkan bukan tentang perjalanan saya ke Melbourne.

Tulisan ini adalah tentang Tuhan.

Tentang Tuhan yang diam-diam bekerja ketika manusia belum melihat apa-apa.

Tuhan yang mempertemukan dua orang dari perjalanan hidup yang berbeda.

Tuhan yang membentuk mereka melalui musim-musim yang tidak selalu mudah.

Tuhan yang memimpin setiap langkah, bahkan ketika jalan di depan belum terlihat jelas.

Tuhan yang mendengar doa-doa yang dipanjatkan dalam kesunyian.

Dan Tuhan yang, pada waktu-Nya yang sempurna, menjawabnya dengan cara yang jauh lebih indah daripada yang pernah kami bayangkan.

Ketika saya mengingat kembali semuanya...

Bandara.

Secangkir kopi hangat di pagi Melbourne yang dingin.

Ruang makeup yang dipenuhi tawa dan doa.

Veil yang perlahan dikenakan.

Langkah kaki menuju altar.

Pelukan-pelukan yang menenangkan.

Janji yang diucapkan.

Air mata yang tidak berhasil saya sembunyikan.

Saya menyadari...

Tidak ada satu pun momen itu yang berdiri sendiri.

Semuanya adalah benang-benang kecil yang sejak lama sedang ditenun oleh Tuhan.

Dan pada tanggal 20 Juni 2026, di sebuah gereja di Melbourne, saya seolah melihat permadani itu dibentangkan di depan mata saya.

Saya melihat salah satu jawaban doa berdiri di altar.

Namanya...

Daniel dan Adelia.

Dan kepada kalian berdua, izinkan saya mengatakan sekali lagi apa yang mungkin tidak sempat saya sampaikan dengan baik karena air mata yang lebih dahulu berbicara.

Terima kasih.

Terima kasih karena telah mempercayakan sebagian perjalanan hidup kalian kepada saya.

Terima kasih karena telah mengizinkan saya berjalan bersama, mendengarkan cerita, mendoakan pergumulan, menyaksikan pertumbuhan, dan akhirnya berdiri sebagai saksi ketika Tuhan mempersatukan kalian.

Bagi seorang pembina rohani...

Itu adalah anugerah yang tidak ternilai.

Saya berdoa, kiranya rumah tangga yang sedang kalian bangun menjadi tempat di mana Kristus selalu menjadi pusat.

Kiranya kasih tetap lebih keras daripada ego.

Pengampunan lebih cepat daripada kemarahan.

Doa lebih sering terdengar daripada keluhan.

Tawa lebih banyak daripada air mata.

Dan ketika air mata benar-benar datang, kiranya itu adalah air mata yang membuat kalian semakin berpegang kepada Tuhan dan semakin mengasihi satu sama lain.

Kiranya rumah kalian menjadi tempat yang penuh damai.

Tempat di mana anak-anak kelak belajar mengenal Yesus.

Tempat di mana sahabat menemukan kehangatan.

Tempat di mana setiap orang yang datang dapat melihat bahwa Kristus sungguh hidup di tengah keluarga itu.

Dan suatu hari nanti...

Mungkin bertahun-tahun dari sekarang...

Ketika kalian membuka kembali tulisan sederhana ini, mungkin rambut sudah mulai memutih.

Mungkin sudah ada anak-anak yang berlari memenuhi rumah.

Mungkin hidup sudah membawa begitu banyak cerita baru.

Saya berharap kalian tersenyum ketika membaca bagian ini.

Lalu mengingat...

Bahwa pada tanggal 20 Juni 2026, di Melbourne, ada seorang pembina rohani yang berdiri di antara para tamu.

Ia datang membawa sebuah speech yang sudah disiapkan dengan rapi.

Ia sudah berlatih.

Ia sudah menyusun setiap kalimat.

Tetapi begitu melihat adik rohaninya berdiri di altar...

Semua kalimat itu hilang.

Yang tersisa hanyalah air mata.

Dan ternyata...

Air mata itu adalah cara Tuhan mengingatkan saya bahwa ada doa-doa yang memang terlalu indah untuk dijelaskan dengan kata-kata.

Semoga, ketika kalian membaca kembali kisah ini, hati kalian juga dipenuhi rasa syukur yang sama.

Bukan terutama karena pernikahan yang indah.

Tetapi karena Allah yang setia.

Allah yang dahulu memimpin.

Allah yang hari ini tetap menyertai.

Dan Allah yang sampai selamanya tidak pernah berhenti menulis kisah-kisah yang indah bagi setiap anak-Nya.

Soli Deo Gloria.

Dengan penuh kasih, syukur, dan doa,

Pdt. Risma Lumalessil



Appendix
The Speech I Tried to Give
For anyone who would like to read it.

Good evening, everyone,

Shalom, May the peace, grace, and abundant blessing of God be with us as we celebrate this special occasion.

It is such a joy and privilege to celebrate this special day with Daniel and Adel.

I have had the blessing of walking alongside Adel for many years, and one of the things I have always admired about her is her sharp mind. Adel has never been someone who simply follows the crowd. She thinks deeply, asks meaningful questions, and carefully considers the things that truly matter in life. She has always carried a quiet strength—strong in her convictions, yet deeply compassionate toward the people around her.

But beyond her mind and strength, I have also seen her heart. I have seen her care for others, carry burdens that many people never knew about, and faithfully continue walking with God through different seasons of life. Like many of us, she has experienced moments of uncertainty, moments of waiting, and moments when the future was not entirely clear.

And because I knew her heart, I often found myself praying for her. I prayed that God would bring someone who would not only admire her strengths but also understand her deeply. Someone who would appreciate both her sharp mind and her tender heart. Someone who would walk beside her not only during the joyful seasons, but also through the challenges and uncertainties that every life brings.

Then God brought Daniel.

From the very first time I met him, I sensed his sincerity and genuine affection for Adel. As I got to know him better, I became increasingly grateful. I saw a man who genuinely loves her, respects her, and desires to build a life centered on God together with her. And quietly, I realized that God had answered those prayers in a beautiful way.

Today, as I look at both of you standing here together, my heart is filled with gratitude. This moment reminds us that God is faithful.

Marriage was God's idea long before it was ours, and the same God who brought you together will continue to walk with you throughout your journey.

Daniel and Adel, there will be days filled with joy, laughter, and wonderful memories. There may also be seasons that are difficult and unexpected. But remember this: you will never walk through them alone. The God who called you into this marriage will also sustain it. When loving feels easy, thank Him. When loving feels difficult, lean on Him. He will give you the grace to remain faithful, the humility to forgive, and the strength to keep choosing one another every day.

A lasting marriage is not built simply because two people love each other. It is built because God's love continually renews and strengthens their love for one another.

My prayer is that Christ will always remain at the very center of your lives and your marriage.

Congratulations, Daniel and Adel. I love you both dearly, and I am so happy for you.

May God bless your marriage abundantly.

Thank you.


Ka-Ki: Sam,Vania, pak AS, Tim, Tam, RL, bu Wan ni, Jov, Alvin,Adel, Feli,Sharon





Comments