Daniel & Adel~ An Appreciation post

"I'm trying to hold back my tears."

Kalimat itu sebenarnya sudah muncul dalam hati saya sejak sehari sebelum pemberkatan.

Saya datang ke Melbourne, Australia, untuk menghadiri pernikahan Daniel dan Adel pada 20 Juni 2026. Awalnya saya pikir saya datang sebagai tamu. Tetapi ternyata, saya pulang dengan hati yang penuh. Penuh syukur. Penuh haru. Penuh air mata.

Semua Dimulai dari Detail Kecil

Salah satu hal yang paling berkesan dari Daniel dan Adel adalah bagaimana mereka mempersiapkan pernikahan ini dengan begitu memperhatikan detail.

Bukan sekadar detail yang indah dilihat mata.

Tetapi detail yang dapat dirasakan langsung oleh hati.

Sehari sebelum pemberkatan, keluarga Daniel menyambut kami dengan makan malam bersama. Saya masih ingat ketika Papa Daniel menghampiri Papa Adel dan berkata, “Adel told me, you love seafood.”

Lalu malam itu kami disajikan seafood yang luar biasa enak. Lobsternya? Mantab.

Tetapi yang membuat saya tersentuh bukan hanya makanannya. Yang membuat saya terharu adalah perhatian di baliknya. Mereka mengingat hal kecil. Mereka memperhatikan orang yang mereka kasihi. Mereka membuat orang lain merasa diterima, dihargai, dan dirayakan. 

Bahkan sebelum makan seafood itu, di kamar yang cukup besar, Adel sudah memberikan briefing rundown acara dari pagi hingga malam kepada keluarga. Semuanya dipersiapkan dengan begitu matang, karena mereka ingin setiap orang merasa menjadi bagian dari hari bahagia mereka.

So sweet.

Dan sejak malam itu, saya mulai melihat kasih tersebar di mana-mana.

Keesokan paginya tibalah hari pemberkatan, setelah perut kenyang seafood, saya dan Vania disambut oleh pagi yang dingin, angin yang seolah ingin membekukan pipi, dan membuat gigi gemeletuk, namun jadi terasa hangat karena Alvin membawa minuman dari hatinya yang memperhatikan anggota keluarga.  So sweet Alvin :)

Saya dan Vania mendapat giliran makeup pertama. Pagi-pagi sekali, ketika kami keluar dari hotel, udara Melbourne begitu dingin.

Hal yang dilakukan Alvin mungkin terlihatsederhana. Tetapi justru hal-hal sederhana seperti itulah yang sering tinggal paling lama di ingatan manusia.

Lalu saya melihat bunga-bunga yang dipakai hari itu. Unik. Cantik. Indah. Berbeda.

Kemudian tibalah momen ketika veil dikenakan.

Wow.

Saya hampir tidak bisa berkata apa-apa.

Gaunnya begitu tepat. Cantik. Elegan. Feminin. Anggun. Semuanya terasa sangat “Adel”. Hair style-nya cocok. Riasannya cocok. Gaunnya cocok. Semua seperti menyatu dengan dirinya.

Dan ya, saya sudah menangis pagi-pagi.

Ya Lord.

Di tengah semua keindahan itu, saya melihat seorang “bocil” perempuan yang selama bertahun-tahun saya doakan, saya temani, saya lihat bertumbuh, kini sedang bersiap memasuki musim hidup yang baru.

Rasanya tidak mudah dijelaskan.

Ada sukacita.

Ada bangga.

Ada haru.

Ada rasa kehilangan kecil yang manis.

Dan ada syukur yang sangat dalam. Well semua campur aduk dihati bikin sesak, hufft

Lalu tibalah bagian yang sama sekali tidak saya duga.

Daniel dan Adel memberikan penghormatan kepada saya seperti layaknya orang tua.

Jujur, saat itu badan saya langsung bergetar.

Saya berusaha menahan diri.

Saya sungguh berusaha.

Tetapi air mata lebih kuat.

Apa daya.

Air mata tidak bisa ditahan.

Di momen itu, saya tidak merasa sedang dihormati.

Saya merasa sedang dikasihi.

Dan bagi seorang pembina rohani, tidak ada hadiah yang lebih indah daripada melihat anak-anak rohaninya bertumbuh, berjalan bersama Tuhan, menemukan pasangan hidupnya, lalu tetap mengingat perjalanan yang pernah dilalui bersama.

Saya menangis.

Dan saya tidak malu mengakuinya.

Speech yang Hancur karena Air Mata

Di resepsi, suasananya hangat dan intim. Makanannya mantab. Percakapannya hangat. Senyumnya tulus.

Lalu tibalah giliran saya memberikan speech.

Saya sudah menyiapkan kata-kata yang cukup rapi. Setidaknya menurut saya.

Saya ingin berkata bahwa merupakan sukacita dan kehormatan bagi saya untuk merayakan hari yang indah ini bersama Daniel dan Adel.

Saya ingin berkata bahwa saya mengenal Adel sebagai pribadi yang memiliki pikiran tajam dan hati yang lembut. Ia bukan orang yang sekadar ikut arus. Ia berpikir dalam, memiliki perasaan yang dalam, bertanya dengan serius, dan menjalani hidup dengan ketulusan. Ia kuat, mandiri, penuh keyakinan, tetapi juga sangat peka terhadap orang-orang di sekitarnya.

Saya ingin berkata bahwa selama bertahun-tahun, karena saya mengenal hatinya, saya sering berdoa agar Tuhan membawa orang yang tepat ke dalam hidupnya. Seseorang yang bukan hanya mengagumi kekuatannya, tetapi juga memahami hatinya. Seseorang yang bisa berjalan bersamanya dalam iman, mendukung impiannya, dan membangun kehidupan bersama dengan kasih, hormat, dan komitmen.

Lalu Tuhan membawa Daniel.

Saya masih ingat pertama kali saya dikenalkan kepada Daniel. Kami bertemu di sebuah restoran Jepang. Itu adalah kesempatan pertama kami untuk duduk, berbicara, dan saling mengenal. Kadang kesan pertama bisa terasa biasa saja atau belum jelas. Tetapi malam itu berbeda.

Ketika saya mendengarkan Daniel berbicara, terutama ketika ia berbicara tentang Adel, saya merasakan sesuatu. Ia bukan seseorang yang hanya sedang lewat dalam hidup Adel. Ada ketulusan. Ada kedewasaan. Ada komitmen yang nyata. Dalam hati saya berkata, “Ini laki-laki yang serius ingin membangun masa depan dengan Adel.”

Beberapa waktu kemudian, kami bertemu lagi di Jakarta, kali ini di Mandarin Hotel bersama orang tua Adel. Di sana kesan saya semakin diteguhkan. Daniel menyampaikan niatnya untuk meminta restu orang tua Adel dan menyatakan keseriusannya untuk membangun komitmen seumur hidup bersama Adel.

Bagi saya, itu momen yang sangat berarti. Karena di sana saya melihat bukan hanya cinta Daniel kepada Adel, tetapi juga hormatnya kepada keluarga Adel dan kesediaannya untuk memikul tanggung jawab bagi masa depan yang akan mereka bangun bersama.

Lalu datanglah momen lamaran. Sebuah kejutan yang penuh sukacita, deg-degan, dan rasa syukur.

Dan hari ini, semua perjalanan itu sampai pada penggenapannya. Daniel dan Adel berdiri di hadapan Tuhan, keluarga, dan orang-orang yang mengasihi mereka, mengucapkan janji suci satu kepada yang lain.

Saya ingin berkata bahwa kisah mereka mengingatkan kita bahwa Tuhan itu setia. Tuhan yang mempertemukan jalan mereka, yang memimpin setiap percakapan, setiap keputusan, dan setiap langkah, adalah Tuhan yang sama yang akan terus memimpin mereka di tahun-tahun yang akan datang.

Saya ingin berkata bahwa pernikahan tidak hanya ditopang oleh perasaan. Pernikahan ditopang oleh pilihan setiap hari untuk mengasihi, mengampuni, melayani, dan tetap setia.

Akan ada musim penuh tawa. Akan ada musim penuh tantangan. Tetapi Daniel dan Adel tidak berjalan sendiri. Tuhan yang membawa mereka sejauh ini juga akan memberi kekuatan untuk saling mengasihi, saling menopang, saling mengampuni, dan tetap bersatu di dalam Dia sampai maut memisahkan.

Saya ingin berkata, “Kiranya rumah kalian dipenuhi kasih karunia, damai sejahtera, tawa, dan iman yang tidak goyah. Kiranya kasih kalian bertumbuh semakin dalam dari tahun ke tahun. Dan kiranya Kristus selalu menjadi pusat pernikahan kalian.”

Saya ingin berkata semua itu.

Tetapi ketika saya berdiri di depan dan melihat Adel...

Selesai sudah.

Kalimat demi kalimat terputus.

Suara bergetar.

Tangan gemetar.

Kaki gemetar.

Air mata mengalir.

Saya teringat begitu banyak peristiwa yang telah kami lalui bersama. Begitu banyak percakapan. Begitu banyak doa. Begitu banyak pergumulan. Begitu banyak cerita. Dan sekarang saya melihatnya berdiri sebagai seorang mempelai.

Ya Tuhan.

Haru sekali.

Bahkan ketika menulis bagian ini, saya kembali meneteskan air mata.

Come on, air mata.

Bisa stop nggak sih?

Huft.

Daniel dan Adel Saling Melengkapi

Salah satu momen yang paling membekas adalah ketika saya mendengarkan sambutan Josef, adik Daniel.

Saat itulah saya semakin menyadari sesuatu.

Daniel dan Adel memang saling melengkapi.

Daniel adalah pribadi yang stabil. Tenang. Konsisten. Kehadirannya memberi rasa aman. Tetapi sejak mengenal Adel, saya melihat Daniel berani keluar dari zona nyamannya. Pakaiannya berubah. Lebih berwarna. Lebih ekspresif. Lebih berani.

Saya juga melihat bagaimana Adel mendorong Daniel untuk bertumbuh. Ia semakin rajin beribadah. Semakin masuk dalam komunitas iman. Semakin terdorong untuk berjalan bersama Tuhan. ITulah kesaksian Josef

Di sisi lain, saya memberikan kesaksian bahwa Adel adalah pribadi yang sangat cerdas dan sangat perasa. Ia berpikir dalam. Ia merasakan dalam. Kadang terlalu dalam. Tetapi justru di situlah Daniel hadir.

Stabilitas Daniel menjadi tempat aman bagi hati Adel.

Ketika pikiran Adel berlari jauh, Daniel membantu menenangkannya. Ketika perasaan Adel menjadi berat, Daniel hadir sebagai jangkar.

Adel boleh.

Adel bisa.

Dan Daniel, dengan ketenangannya, sering menjadi ruang aman agar Adel bisa kembali bernapas.

Mereka tidak sama.

Dan justru karena itulah mereka saling melengkapi.

Saya mengingat satu momen di Bali, ketika saya mengajak Daniel makan sate bawah pohon. Hahaha. Kami pergi terlalu lama sampai Daniel ketiduran di mobil. Ketika sampai di venue, Adel mengekspresikan kekhawatirannya dengan bahasanya, dengan gesturnya. Saya melihat Daniel langsung memeluknya. Dan Adel tenang seketika.

Lalu di hari terakhir di Melbourne, sambil menunggu tram, saya kembali melihat hal yang sama. Daniel menyampaikan pendapatnya. Adel juga menyampaikan isi hatinya. Dan pada akhirnya, Daniel memeluk Adel. Lalu Adel tenang.

Di situ saya menghembuskan napas lega.

Terima kasih, Tuhan Yesus.

Tolong jaga mereka hingga maut memisahkan.

Daniel bisa menenangkan Adel.

Adel bisa memotivasi Daniel.

So sweet ya.

Terima Kasih, Daniel

Banyak orang tahu bahwa saya mengasihi Adel.

Tetapi mungkin tidak banyak yang tahu betapa saya mengasihi dan juga merasa dikasihi oleh Daniel.

Sejak awal, Daniel selalu melibatkan saya.

Dari pertemuan pertama kami di restoran Jepang, lalu pertemuan di Mandarin Hotel bersama orang tua Adel, kemudian momen ketika Daniel menyatakan keseriusannya untuk membangun masa depan bersama Adel, saya melihat Daniel datang dengan hormat.

Dengan kesungguhan.

Dengan tanggung jawab.

Bahkan ketika ia hendak melamar Adel, Daniel bertanya kepada saya, “Siapa dari youth yang sebaiknya diajak?”

Mungkin bagi orang lain itu pertanyaan biasa saja. Tidak perlu didramatisir.

Tetapi bagi saya, itu sangat berarti.

Karena Daniel membuat saya merasa dilibatkan.

Dihargai.

Dianggap sebagai bagian dari perjalanan mereka.

Terima kasih, Dan.

Saya tidak akan melupakan itu.

Bukan hanya Adel yang mengasihi dan menghormati saya.

Daniel pun demikian.

Dan saya merasakan kasih kalian.

Sungguh.

Akhirnya, Tuhan Itu Sungguh Setia

Pada akhirnya, kisah ini bukan hanya tentang Daniel dan Adel.

Ini adalah kisah tentang Tuhan yang setia.

Tuhan yang mempertemukan.

Tuhan yang membentuk.

Tuhan yang memimpin.

Tuhan yang menjawab doa-doa yang dipanjatkan bertahun-tahun.

Dan hari itu, saya melihat salah satu jawaban doa tersebut berdiri di depan altar.

Daniel dan Adel.

Saya mengasihi kalian berdua.

Terima kasih karena telah mengizinkan saya menjadi bagian kecil dari perjalanan kalian.

Terima kasih karena telah menghormati saya sedemikian rupa.

Terima kasih karena telah menunjukkan kasih yang begitu tulus.

Dan yang paling penting, terima kasih karena telah menunjukkan sekali lagi bahwa Tuhan masih menulis kisah-kisah yang indah.

Selamat menempuh hidup baru.

Kiranya rumah tangga kalian dipenuhi kasih karunia, damai sejahtera, tawa, persahabatan, dan kehadiran Kristus setiap hari.

Dan ketika suatu hari nanti kalian membaca tulisan ini kembali, ingatlah:

Pada tanggal 20 Juni 2026, di Melbourne, ada seorang pembina rohani yang berdiri di antara para tamu, berusaha memberikan speech yang baik...

...tetapi gagal total karena terlalu banyak menangis.

Dengan kasih dan syukur,

Pdt. Risma Lumalessil

Comments