Ulangan 18: 9-14

 © Berdoalah mohon pimpinan Roh Kudus untuk menyatakan Firman-Nya

© Bacaan Alkitab:  Ulangan 18: 9-14

Perumpamaan tentang orang Farisi dengan pemungut cukai

9  Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar  dan memandang rendah semua orang lain, Yesus mengatakan perumpamaan ini: 

10, "Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. 

11, Orang Farisi itu berdiri  dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; 

12, aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh  dari segala penghasilanku. 

13, Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri  dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.  

14, Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan. "

 "Renungkanlah

Hello Guys, Seperti yang kamu tahu,  saat kitab ini ditulis, bangsa Israel sedang bersiap memasuki Tanah Perjanjian.  Mereka akan memasuki wilayah yang subur, kaya, dan penuh peluang.

Tetapi tanah itu juga dipenuhi oleh berbagai praktik keagamaan yang bertentangan dengan kehendak Allah.

Orang-orang Kanaan memiliki banyak cara untuk mencari petunjuk hidup. Mereka menggunakan ramalan, sihir, tenung, jampi-jampi, pemanggilan arwah, bahkan mempersembahkan anak-anak mereka kepada dewa-dewa melalui api. Semua itu dilakukan supaya mereka bisa mengetahui masa depan, bisa mengendalikan hidup, bisa memperoleh kuasa supranatural.

Di tengah situasi itulah Musa menyampaikan peringatan yang sangat tegas.

Ayat 9 berkata:

"Janganlah engkau belajar berbuat sesuai dengan perbuatan-perbuatan yang keji dari bangsa-bangsa itu."

Perhatikan kata "belajar".

Musa tidak hanya melarang praktiknya.

Ia bahkan melarang umat Allah mempelajari dan tertarik kepada praktik-praktik tersebut.

Mengapa?

Karena semua praktik itu berakar pada usaha manusia untuk memperoleh kendali atas hidup tanpa bergantung kepada Allah.

Ayat 10–11 kemudian memberikan daftar panjang praktik-praktik okultisme yang umum pada zaman itu: ramalan, sihir, tenung, pemanggilan arwah, dan berbagai bentuk pencarian petunjuk melalui kuasa-kuasa lain.

Persoalan utama bukan sekadar metode yang digunakan, melainkan sumber otoritas yang dicari. Bangsa-bangsa kafir mencari pengetahuan dan keamanan melalui kuasa-kuasa lain, sedangkan Israel dipanggil untuk memperoleh tuntunan hanya dari Yahweh.

Karena itu ayat 12 menyatakan bahwa semua praktik tersebut adalah kekejian di hadapan Tuhan.

Lalu Musa memberikan panggilan yang sangat indah pada ayat 13:

"Haruslah engkau hidup dengan tidak bercela di hadapan TUHAN, Allahmu."

Kata "tidak bercela" di sini tidak berbicara tentang kesempurnaan tanpa dosa.

Maknanya adalah hidup dengan hati yang utuh, tulus, dan setia kepada Allah.

Dengan kata lain, Tuhan menghendaki umat-Nya mempercayai Dia sepenuhnya tanpa mencari alternatif lain.

Ayat 14 menegaskan kontras yang sangat jelas.

Bangsa-bangsa lain mencari petunjuk melalui para peramal.

Tetapi Israel memiliki Allah yang hidup yang berbicara dan memimpin umat-Nya.

Ketika kita membaca bagian ini dalam terang Perjanjian Baru, kita melihat bahwa Allah akhirnya berbicara secara sempurna melalui Yesus Kristus.  Jika bangsa Israel dipanggil untuk mendengar Yahweh, maka kita dipanggil untuk mendengar dan mengikuti Kristus, Sang Firman yang menjadi manusia. Di dalam Dia kita menemukan kebenaran, hikmat, dan arah hidup yang sejati. 

Refleksikanlah

1. Right Thinking (Head)

Allah adalah satu-satunya sumber kebenaran dan tuntunan yang dapat dipercaya sepenuhnya. Ia tidak menghendaki umat-Nya mencari arah hidup melalui kuasa-kuasa lain, karena hanya Dia yang memegang masa depan dan mengetahui akhir dari segala sesuatu.

2. Right Feeling (Heart)

Biarlah hati kita dipenuhi rasa percaya kepada Tuhan. Kita tidak perlu hidup dalam ketakutan terhadap masa depan, sebab Allah yang memimpin Israel adalah Allah yang sama yang memimpin hidup kita hari ini.

3. Right Acting (Hand – Tindakan Benar)

Jauhilah segala bentuk praktik yang mencoba mencari keamanan, petunjuk, atau kuasa di luar Tuhan. Hiduplah dengan menjadikan Firman Tuhan, doa, dan pimpinan Roh Kudus sebagai dasar dalam mengambil keputusan setiap hari.

© Pertanyaan Reflektif

  • Apa yang kamu pelajari tentang karakter Allah dari perikop ini?
  • Adakah hal-hal dalam hidupmu yang diam-diam lebih kamu percayai daripada Tuhan?
  • Bagaimana kamu dapat menunjukkan kepercayaan penuh kepada Tuhan dalam pekerjaan, keluarga, studi, dan pelayananmu?
  • © Berdoalah sesuai Firman

    Tuhan, ampunilah aku jika selama ini ada hal-hal yang lebih kupercayai daripada Dikau. Ajarku untuk bergantung sepenuhnya kepada-Mu dan menjadikan Firman-Mu sebagai dasar hidupku. Tolong aku hidup dengan hati yang tulus dan tidak bercela di hadapan-Mu. Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin.

    Tetap semangat guys, Tuhan Yesus beserta kita,#kamugaksendiri #TuhanYesusBesertamu  *RL-SDG*

    Comments