© Berdoalah mohon pimpinan Roh Kudus untuk menyatakan Firman-Nya
© Bacaan Alkitab: Ulangan 21: 1-9
Cara mengadakan pendamaian karena pembunuhan oleh seorang yang tak dikenal
1, "Apabila di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu untuk menjadi milikmu, terdapat seorang yang mati terbunuh di padang, dengan tidak diketahui siapa yang membunuhnya,
2, maka haruslah para tua-tuamu dan para hakimmu keluar mengukur jarak ke kota-kota yang di sekeliling orang yang terbunuh itu.
3,Kota yang ternyata paling dekat dengan tempat orang yang terbunuh itu, para tua-tua kota itulah harus mengambil seekor lembu betina yang muda, yang belum pernah dipakai, yang belum pernah menghela dengan kuk.
4, Para tua-tua kota itu haruslah membawa lembu muda itu ke suatu lembah yang selalu berair dan yang belum pernah dikerjakan atau ditaburi, dan di sana di lembah itu haruslah mereka mematahkan batang leher lembu muda itu.
5, Imam-imam bani Lewi haruslah tampil ke depan, sebab merekalah yang dipilih TUHAN, Allahmu, untuk melayani Dia dan untuk memberi berkat demi nama TUHAN; menurut putusan merekalah setiap perkara dan setiap hal luka-melukai harus diselesaikan.
6, Dan semua tua-tua dari kota yang paling dekat dengan tempat orang yang terbunuh itu, haruslah membasuh tangannya di atas lembu muda yang batang lehernya dipatahkan di lembah itu,
7, dan mereka harus memberi pernyataan dengan mengatakan: Tangan kami tidak mencurahkan darah ini dan mata kami tidak melihatnya.
8, Adakanlah pendamaian bagi umat-Mu Israel yang telah Kautebus itu, TUHAN, dan janganlah timpakan darah orang yang tidak bersalah ke tengah-tengah umat-Mu Israel. Maka karena darah itu telah diadakan pendamaian bagi mereka.
9, Demikianlah engkau harus menghapuskan darah orang yang tidak bersalah itu dari tengah-tengahmu, sebab dengan demikian engkau melakukan apa yang benar di mata TUHAN."
"Renungkanlah”
Hello Guys, aku ajak kalian membayangkan situasi di kemahnya orang Israel. Suatu pagi, di sebuah padang yang sunyi, ada orang yang ditemukan telah terbunuh. Sayang nya tidak ada saksi dalam kasus orang meninggal tersebut. Tidak ada jejak pelaku. Tidak ada seorang pun yang tahu siapa pembunuhnya.
Kalau peristiwa orang meninggal itu terjadi di zaman sekarang mungkin polisi akan melakukan olah TKP, mencari sidik jari, memeriksa CCTV, atau melakukan tes DNA. Tetapi pada zaman Musa, semua teknologi itu belum ada.
Lalu bagaimana keadilan harus ditegakkan?
Apakah kasus itu dibiarkan begitu saja?
Ternyata tidak.
Melalui Ulangan 21:1–9, Tuhan memberikan sebuah prosedur yang sangat unik. Para tua-tua dan para hakim harus mengukur jarak dari lokasi ditemukannya mayat menuju kota-kota di sekitarnya. Kota yang paling dekat harus mengambil tanggung jawab atas penyelesaian perkara itu.
Mengapa demikian?
Karena di mata Allah, darah orang yang tidak bersalah tidak boleh dianggap remeh. Kehidupan manusia begitu berharga sehingga sekalipun pelakunya tidak diketahui, komunitas tetap harus bertanggung jawab untuk memulihkan keadilan.
Hukum ini menunjukkan betapa seriusnya Allah memandang kehidupan manusia. Darah yang tertumpah bukan hanya persoalan pribadi antara korban dan pelaku, tetapi persoalan seluruh komunitas perjanjian yang hidup di hadapan Allah. Kejahatan yang tidak diselesaikan akan mencemarkan tanah yang telah Tuhan berikan kepada umat-Nya.
Ayat 3–4 kemudian memerintahkan para tua-tua membawa seekor lembu betina muda yang belum pernah dipakai bekerja ke sebuah lembah yang berair dan belum pernah digarap. Di sana leher lembu itu dipatahkan.
Perlu dipahami bahwa tindakan ini bukan korban bakaran di mezbah. Lembu itu tidak dipersembahkan sebagai korban ibadah, melainkan menjadi sebuah tindakan hukum yang bersifat simbolis.
Para imam hadir bukan untuk mempersembahkan korban, tetapi menjalankan fungsi hukum dan memastikan bahwa seluruh proses dilakukan sesuai ketetapan Allah (ayat 5).
Sesudah itu para tua-tua membasuh tangan mereka sambil berkata,
"Tangan kami tidak mencurahkan darah ini dan mata kami tidak melihatnya."
Ini bukan berarti mereka sedang mencuci tangan dari tanggung jawab. Justru sebaliknya, mereka sedang menyatakan di hadapan Tuhan bahwa komunitas mereka tidak melindungi pembunuh dan sungguh-sungguh menyerahkan perkara ini kepada keadilan Allah.
Lalu mereka berdoa,
"Adakanlah pendamaian bagi umat-Mu Israel..." (ayat 8).
Melalui ritual ini Tuhan memulihkan damai di tengah masyarakat. Bayangkan jika keluarga korban mulai menaruh curiga kepada kota tetangga. Desas-desus berkembang, kebencian muncul, lalu balas dendam terjadi. Satu pembunuhan bisa berubah menjadi konflik antarkampung yang berkepanjangan.
Tetapi Tuhan tidak menghendaki itu.
Melalui hukum ini, Tuhan menjaga supaya keadilan ditegakkan sekaligus perdamaian dipelihara.
Hukum ini memperlihatkan bahwa keadilan dalam Israel tidak pernah hanya bersifat individual, tetapi juga komunal. Seluruh umat dipanggil memelihara kehidupan, menolak kekerasan, dan menjaga damai sebagai umat perjanjian.
Ketika kita membaca bagian ini dalam terang Perjanjian Baru, kita melihat bahwa lembu muda itu hanyalah bayangan dari karya Kristus.
Lembu itu mati sebagai pengganti dalam sebuah tindakan simbolis. Namun Yesus Kristus datang sebagai Pengganti yang sesungguhnya. Ia menanggung hukuman dosa manusia yang bersalah agar kita memperoleh pendamaian dengan Allah.
Refleksikanlah
1. Right Thinking (Head)
Allah adalah Allah yang menghargai kehidupan manusia. Ia membenci ketidakadilan, tetapi juga menyediakan jalan pendamaian. Sebagai umat-Nya, kita dipanggil ikut bertanggung jawab membangun masyarakat yang menjunjung keadilan dan damai.
2. Right Feeling (Heart)
Biarlah hati kita dipenuhi rasa syukur karena Kristus telah menjadi Pengganti yang sempurna bagi kita. Mintalah hati yang mengasihi perdamaian, bukan hati yang mudah dipenuhi prasangka, kebencian, atau keinginan membalas.
3. Right Acting (Hand – Tindakan Benar)
Hiduplah sebagai pembawa damai di mana pun Tuhan menempatkan kita. Hindari gosip yang memecah belah, jangan mudah menghakimi tanpa fakta, dan jadilah pribadi yang menghadirkan rekonsiliasi dalam keluarga, tempat kerja, gereja, maupun lingkungan sekitar.
© Pertanyaan Reflektif
© Berdoalah sesuai Firman
Tuhan, terima kasih karena Dikau adalah Allah yang mengasihi keadilan sekaligus menyediakan jalan pendamaian bagi umat-Mu. Terima kasih karena Yesus Kristus telah menjadi Pengganti yang sempurna bagiku melalui kematian-Nya di kayu salib. Bentuklah aku menjadi pribadi yang mencintai kebenaran, menolak prasangka, dan menghadirkan damai di mana pun Dikau menempatkanku. Pakailah hidupku menjadi alat pendamaian bagi sesama. Di dalam nama Tuhan Yesus aku berdoa. Amin.
Tetap semangat guys, Tuhan Yesus beserta kita,#kamugaksendiri #TuhanYesusBesertamu *RL-SDG*
Comments
Post a Comment