© Berdoalah mohon pimpinan Roh Kudus untuk menyatakan Firman-Nya
©
Bacaan Alkitab: Ulangan 23: 21-23
Tentang nazar
21, "Apabila
engkau bernazar kepada TUHAN, Allahmu, janganlah engkau
menunda-nunda memenuhinya, sebab tentulah TUHAN, Allahmu,
akan menuntutnya dari padamu, sehingga hal itu menjadi dosa bagimu.
22, Tetapi
apabila engkau tidak bernazar, maka hal itu bukan menjadi dosa bagimu.
23, Apa yang keluar dari
bibirmu haruslah kaulakukan dengan setia, sebab dengan sukarela kaunazarkan
kepada TUHAN, Allahmu, sesuatu yang kaukatakan dengan mulutmu sendiri."
"Renungkanlah”
Hello Guys, pernah gak sih kita ngomong ke Tuhan: “Tuhan, kalau Engkau tolong aku kali ini, aku janji...”
Terus Tuhan jawab. Masalahmu beneran selesai. Hidup kembali normal.
Eh... janjinya lupa. Wkwk.
Nah guys, hari ini Musa berbicara tentang nazar. Nazar adalah janji yang seseorang buat secara sukarela kepada Tuhan. Bisa berupa persembahan atau sesuatu yang ingin dilakukan bagi Tuhan sebagai bentuk ucapan syukur dan pengabdian.
Menariknya, Tuhan tidak mewajibkan seseorang untuk bernazar.
Tetapi kalau sudah berjanji, lakukanlah.
Yuk kita masuk ke ayat demi ayat dari perikop ini.
Ayat 21, Musa berkata, “Apabila engkau bernazar kepada TUHAN, Allahmu, janganlah engkau menunda-nunda memenuhinya.”
Guys, nazar bukan sesuatu yang wajib dilakukan.
Tetapi ketika seseorang dengan sukarela mengatakan sesuatu kepada Tuhan, perkataan itu harus dipandang serius.
Karena kita sedang berbicara kepada Tuhan.
Jadi jangan sampai ketika lagi terdesak:
“Tuhan, kalau aku diterima kerja, aku bakal...”
“Tuhan, kalau masalah ini selesai, aku janji...”
“Tuhan, kalau Engkau kasih aku ini, aku akan...”
Begitu Tuhan menolong...
“Janji apa ya kemarin?” Mendadak lupa semua hufttt
Musa berkata, jangan menunda-nunda.
Karena semakin lama kita menunda, semakin besar kemungkinan semangat kita berkurang, keadaan berubah, bahkan akhirnya kita tidak melakukan apa yang sudah kita katakan.
Karena itu, kalau sudah berjanji kepada Tuhan, setialah melakukannya.
Ayat 22, kemudian Musa mengatakan sesuatu yang menarik:
“Tetapi apabila engkau tidak bernazar, maka hal itu bukan menjadi dosa bagimu.”
Lho?
Berarti sebenarnya gak harus bernazar?
Yup.
Tuhan tidak membutuhkan janji-janji besar kita.
Kalau memang tidak bernazar, itu bukan dosa.
Jadi guys, lebih baik jangan sembarangan berjanji daripada membuat janji yang tidak sungguh-sungguh ingin kita tepati.
Tuhan tidak terkesan dengan kalimat-kalimat rohani yang besar.
Tuhan menginginkan kesetiaan.
Ayat 23, Musa kemudian berkata:
“Apa yang keluar dari bibirmu haruslah kaulakukan dengan setia....”
Nah, ini inti perikopnya.
Apa yang keluar dari bibirmu, lakukanlah dengan setia.
Karena nazar itu dibuat dengan sukarela.
Tidak ada yang memaksa.
Kitalah yang mengatakannya dengan mulut kita sendiri.
Karena itu, perkataan kita kepada Tuhan tidak boleh dianggap remeh.
Guys, ada prinsip yang lebih luas di sini.
Allah menghargai kesetiaan.
Apa yang kita katakan harus selaras dengan apa yang kita lakukan.
Jangan sampai mulut kita berkata:
“Tuhan, aku mau hidup bagi-Mu.”
Tetapi kehidupan kita berkata sebaliknya.
Mulut kita berkata:
“Tuhan, aku mau melayani-Mu.”
Tetapi ketika sudah mendapat tanggung jawab, kita melakukannya asal-asalan.
Mulut kita berkata:
“Aku akan lakukan.”
Tetapi kita tidak pernah benar-benar melakukannya.
Karena integritas adalah ketika perkataan dan tindakan kita berjalan bersama.
Keren ya guys.
Ketika kita membaca bagian ini dalam terang Perjanjian Baru, kita melihat kesetiaan Allah dinyatakan secara sempurna di dalam Yesus Kristus.
Manusia berkali-kali gagal setia kepada Allah.
Kita berjanji tetapi melanggar.
Kita berkata mengasihi Tuhan tetapi sering hidup menurut keinginan sendiri.
Tetapi Allah tetap setia.
Janji keselamatan yang Tuhan berikan digenapi-Nya di dalam Kristus.
Yesus datang.
Yesus taat.
Yesus menyelesaikan pekerjaan yang diberikan Bapa kepada-Nya.
Bahkan sampai mati di kayu salib.
Karena itu, kita belajar setia bukan supaya Tuhan akhirnya mengasihi kita.
Kita belajar setia karena kita sudah terlebih dahulu menerima kesetiaan Allah di dalam Kristus.
Refleksikanlah
1. Right Thinking (Head)
Allah adalah Pribadi yang setia dan menghargai kesetiaan.
Tuhan menghendaki perkataan dan tindakan umat-Nya berjalan bersama. Karena itu, apa yang kita katakan kepada Tuhan tidak boleh dianggap sebagai perkataan kosong.
2. Right Feeling (Heart)
Mintalah Tuhan membentuk hati yang sungguh-sungguh dan berintegritas.
Jangan mudah mengucapkan janji hanya karena sedang emosional, takut, atau membutuhkan sesuatu dari Tuhan.
Biarlah hati kita berkata:
“Tuhan, aku mau setia karena Dikau terlebih dahulu setia kepadaku.”
3. Right Acting (Hand – Tindakan Benar)
Guys, coba ingat lagi.
Adakah sesuatu yang pernah kita katakan akan kita lakukan tetapi terus kita tunda?
Komitmen pelayanan?
Janji kepada seseorang?
Tanggung jawab di kantor?
Tugas kuliah?
Atau sesuatu yang pernah kita katakan kepada Tuhan?
Kalau memang sudah berkomitmen, lakukan dengan setia.
Jangan gampang berjanji. Tetapi kalau sudah berkata “ya”, belajarlah bertanggung jawab terhadap perkataan kita.
Biarlah perkataan kita dapat dipercaya karena hidup kita sedang dibentuk oleh Allah yang setia.
Yuk bisa Yuk!!
©
Pertanyaan Reflektif
©
Berdoalah sesuai Firman
Tuhan, terima kasih karena Dikau adalah Allah yang setia dan selalu menepati janji-Mu.
Ampunilah aku ketika aku mudah berjanji tetapi tidak sungguh-sungguh melakukannya. Ajarku menjaga perkataanku dan melakukan dengan setia setiap komitmen yang telah kubuat.
Tolong aku supaya perkataan, tindakan, pekerjaan, pelayanan, dan seluruh hidupku memiliki integritas, sebagaimana Kristus telah menunjukkan kesetiaan-Nya kepadaku sampai di kayu salib.
Dalam nama Tuhan Yesus aku berdoa.
Amin.
Tetap semangat guys, Tuhan Yesus beserta kita,#kamugaksendiri
#TuhanYesusBesertamu *RL-SDG*
Comments
Post a Comment