© Berdoalah mohon pimpinan Roh Kudus untuk menyatakan Firman-Nya
©
Bacaan Alkitab: Ulangan 23: 24-25
Dari hal memetik buah anggur
dan bulir gandum di tanah orang lain
24, "Apabila
engkau melalui kebun anggur sesamamu, engkau boleh makan buah anggur
sepuas-puas hatimu, tetapi tidak boleh kaumasukkan ke dalam bungkusanmu.
25, Apabila
engkau melalui ladang gandum sesamamu yang belum dituai, engkau boleh memetik
bulir-bulirnya dengan tanganmu, tetapi sabit tidak boleh kauayunkan kepada
gandum sesamamu itu."
"Renungkanlah”
Hello Guys, sekilas aturan hari ini unik banget ya.
Masa boleh masuk kebun orang, petik anggurnya, terus dimakan sampai kenyang? Bukannya itu mencuri?
Sabarrr guys. Supaya tidak salah memahami bagian ini, kita perlu melihat kehidupan Israel pada zaman Musa. Orang yang sedang melakukan perjalanan dapat melewati kebun anggur atau ladang milik orang lain. Tuhan mengizinkan orang yang lapar mengambil makanan untuk memenuhi kebutuhan langsungnya. Tetapi tetap ada batasnya.
Boleh makan. Jangan mengambil keuntungan.
Di sini Tuhan sedang mengajarkan dua hal sekaligus: kemurahan hati dan penghormatan terhadap milik sesama.
Yuk kita masuk ke ayat demi ayat dari perikop ini.
Ayat 24, Musa berkata bahwa ketika seseorang melewati kebun anggur sesamanya, ia boleh memakan buah anggur “sepuas-puas hatimu.”
Bayangin guys, kita lagi perjalanan jauh. Capek banget. Lapar parah. Bekal habis pula.
Terus lewat kebun anggur. Tuhan berkata, boleh makan.
Pemilik kebun tidak boleh berkata:
“Eh! Bayar dulu!”
Ada ruang dalam hukum Israel bagi orang yang sedang membutuhkan untuk menikmati kemurahan hati sesamanya.
Keren ya guys.
Tuhan sedang membentuk Israel menjadi sebuah komunitas di mana orang yang memiliki sesuatu bersedia berbagi dengan orang yang sedang membutuhkan.
Tetapi perhatikan kelanjutannya:
“Tidak boleh kaumasukkan ke dalam bungkusanmu.”
Karena kalau sudah kenyang lalu kita berpikir:
“Mumpung gratis nih, masukin tas ah buat besok.”
Nah, beda cerita. Wkwk.
Tuhan mengizinkan seseorang memenuhi kebutuhannya, bukan mengambil keuntungan dari kemurahan hati orang lain.
Makanlah sampai kebutuhanmu terpenuhi.
Tetapi jangan bawa pulang hasil kebun orang lain.
Karena kemurahan hati tidak boleh disalahgunakan.
Hak orang yang sedang membutuhkan diperhatikan, tetapi hak pemilik kebun juga tetap dihormati.
Ayat 25, prinsip yang sama berlaku ketika seseorang melewati ladang gandum sesamanya.
Ia boleh memetik bulir gandum dengan tangannya.
Tetapi tidak boleh menggunakan sabit.
Kenapa dibedain?
Karena tangan mengambil untuk makan. Sabit mengambil untuk memanen.
Nahhh, beda kan guys?
Kalau sedang lapar lalu mengambil beberapa bulir dengan tangan untuk dimakan, itu memenuhi kebutuhan.
Tetapi kalau mulai keluarin sabit...
“Srek... srek... srek...”
Itu mah bukan makan lagi.
Itu panen kebun orang. wadidaww
Jadi Tuhan memberikan batas yang sangat jelas.
Ambillah yang kamu butuhkan, tetapi jangan mengambil apa yang menjadi hak orang lain.
Indah banget ya guys.
Di satu sisi, pemilik ladang diajar:
“Jangan pelit. Bermurah hatilah.”
Di sisi lain, orang yang menerima diajar:
“Jangan serakah. Tahu batas.”
Jadi komunitas umat Allah dibangun bukan hanya oleh orang yang suka memberi, tetapi juga oleh orang yang tidak menyalahgunakan pemberian.
Ada kemurahan hati.
Ada penguasaan diri.
Ada kepedulian.
Ada penghormatan terhadap hak milik sesama.
Dan semuanya berjalan bersama.
Pada akhirnya, bangsa Israel perlu mengingat bahwa kebun anggur, ladang gandum, tanah, hujan, dan hasil panen yang mereka miliki merupakan pemberian Tuhan.
Karena itu, orang yang diberkati Tuhan tidak perlu menggenggam semua yang dimilikinya hanya untuk dirinya sendiri.
Berkat Tuhan dapat menjadi jalan supaya orang lain ikut merasakan pemeliharaan-Nya.
Ketika kita membaca bagian ini dalam Perjanjian Baru, kita menemukan hukum ini dipraktikkan oleh Yesus dan murid-murid-Nya.
Dalam Matius 12, murid-murid Yesus sedang lapar ketika berjalan melewati ladang gandum. Mereka memetik bulir gandum dengan tangan dan memakannya.
Menariknya, orang-orang Farisi tidak mempersoalkan bahwa mereka mengambil gandum milik orang lain. Karena Taurat memang mengizinkannya.
Yang mereka persoalkan adalah murid-murid melakukannya pada hari Sabat.
Jadi guys, prinsip dalam Ulangan 23 ini benar-benar menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Israel.
Tetapi ketika kita melihat kepada Kristus, kita menemukan sesuatu yang lebih indah.
Yesus bukan hanya mengajarkan kemurahan hati. Ia memberikan diri-Nya sendiri bagi kita.
Kita adalah orang-orang yang membutuhkan pertolongan, dan Allah tidak menutup tangan-Nya terhadap kita.
Ia memberikan Anak-Nya. Ia memberikan pengampunan. Ia memberikan keselamatan. Ia memberikan kehidupan kekal.
Karena kita telah menerima kemurahan hati Allah yang begitu besar di dalam Kristus, kita pun dipanggil untuk menjadi orang yang bermurah hati kepada sesama.
Refleksikanlah
1. Right Thinking (Head)
Allah adalah Pribadi yang murah hati dan peduli terhadap kebutuhan manusia.
Tuhan memberikan berkat kepada umat-Nya bukan hanya untuk dinikmati sendiri, tetapi supaya melalui apa yang mereka miliki, orang lain juga dapat merasakan pemeliharaan-Nya.
2. Right Feeling (Heart)
Mintalah Tuhan membentuk hati yang bersyukur dan murah hati.
Jangan sampai semakin banyak Tuhan memberkati kita, semakin erat pula kita menggenggam semuanya untuk diri sendiri.
Biarlah hati kita berkata:
“Tuhan, apa yang kumiliki berasal dari-Mu. Pakailah juga hidupku untuk menjadi berkat.”
3. Right Acting (Hand – Tindakan Benar)
Guys, hari ini kita tentu gak bisa sembarangan masuk kebun orang terus:
“Tenang Pak, Ulangan 23:24.”
Ya jangan. Wkwk.
Tetapi prinsip kemurahan hatinya tetap berlaku.
Kita diberkati Tuhan dengan kesehatan sehingga bisa bekerja.
Kita diberi kesempatan belajar.
Kita menerima gaji.
Kita punya makanan.
Kita bisa memenuhi berbagai kebutuhan hidup.
Nah, dari apa yang Tuhan percayakan itu, sisakan ruang untuk bermurah hati.
Mungkin membelikan makanan bagi seseorang.
Membantu teman yang sedang kesulitan.
Mendukung pelayanan.
Atau sesederhana membelikan vitamin dan kebutuhan bagi anak-anak yang kita layani.
Ketika kita memberi, mungkin bagi kita itu sederhana.
Tetapi melalui pemberian itu, seseorang bisa berkata:
“Ternyata Tuhan masih memelihara aku.”
Kita merasakan Tuhan memberkati kita.
Orang lain merasakan Tuhan memelihara mereka melalui kita.
Mantul gak tuh.
Yuk bisa Yuk!!
©
Pertanyaan Reflektif
©
Berdoalah sesuai Firman
Tuhan, terima kasih karena Dikau adalah Allah yang murah hati dan selalu memelihara hidupku.
Ajarku menyadari bahwa kesehatan, pekerjaan, kemampuan, uang, makanan, waktu, dan segala sesuatu yang kumiliki berasal dari-Mu. Jauhkan aku dari hati yang serakah dan hanya memikirkan diriku sendiri.
Tolong aku yang telah menerima begitu banyak kemurahan hati-Mu untuk dengan rela bermurah hati kepada sesamaku, sehingga melalui apa yang kubagikan, orang lain dapat merasakan kasih dan pemeliharaan-Mu, sebagaimana aku telah menerima kemurahan-Mu yang terbesar di dalam Kristus.
Dalam nama Tuhan Yesus aku berdoa.
Amin.
Tetap semangat guys, Tuhan Yesus beserta kita,#kamugaksendiri
#TuhanYesusBesertamu *RL-SDG*
Comments
Post a Comment