© Berdoalah mohon pimpinan Roh Kudus untuk menyatakan Firman-Nya
©
Bacaan Alkitab: Ulangan 24: 1-5
Tentang perceraian
1, "Apabila
seseorang mengambil seorang perempuan dan menjadi suaminya, dan jika kemudian
ia tidak menyukai lagi perempuan itu, sebab didapatinya yang
tidak senonoh padanya, lalu ia menulis surat cerai dan
menyerahkannya ke tangan perempuan itu, sesudah itu menyuruh dia pergi dari
rumahnya,
2, dan jika
perempuan itu keluar dari rumahnya dan pergi dari sana, lalu menjadi isteri
orang lain,
3, dan jika
laki-laki yang kemudian ini tidak cinta lagi kepadanya, lalu menulis surat
cerai dan menyerahkannya ke tangan perempuan itu serta menyuruh dia pergi dari
rumahnya, atau jika laki-laki yang kemudian mengambil dia menjadi isterinya itu
mati,
4, maka
suaminya yang pertama, yang telah menyuruh dia pergi itu, tidak boleh mengambil
dia kembali menjadi isterinya, setelah perempuan itu dicemari; sebab hal itu
adalah kekejian di hadapan TUHAN. Janganlah engkau mendatangkan dosa atas
negeri yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu menjadi milik
pusakamu.
5, Apabila baru
saja seseorang mengambil isteri, janganlah ia keluar bersama-sama dengan
tentara maju berperang atau dibebankan sesuatu pekerjaan; satu tahun lamanya ia
harus dibebaskan untuk keperluan rumah tangganya dan menyukakan hati perempuan
yang telah diambilnya menjadi isterinya."
"Renungkanlah”
Hello Guys, hari ini kita Sate lagi. Sekilas, pas baca Ulangan 24:1–5 kita mungkin agak bingung.
Wait... kok Alkitab mengatur tentang perceraian?
Apakah ini berarti Tuhan menganggap perceraian sebagai sesuatu yang biasa saja?
Apakah seorang suami zaman itu bisa dengan gampang berkata,
"Aku udah gak suka sama kamu. Ya udah, kita cerai aja."
Terus selesai?
Well... gak sesederhana itu, guys.
Justru supaya kita gak salah memahami perikop ini, kita perlu melihat dunia tempat Musa dan bangsa Israel hidup waktu itu.
Di dunia Timur Dekat Kuno, kehidupan sosial sangat didominasi oleh laki-laki. Seorang perempuan yang diceraikan berada dalam posisi yang sangat rentan secara sosial dan ekonomi.
Karena itu, ketika Musa memberikan aturan mengenai perceraian, fokus teks ini bukan sedang menyuruh orang Israel untuk bercerai. Kayak, kalau udah gak suka, loe gue end. ? Gak gitu cara bacanya guys.
Jadi dalam perikop ini, sebenernya Tuhan sedang memberikan batas terhadap kekerasan hati manusia.
Hukum ini mengatur keadaan yang sudah rusak supaya manusia tidak semakin memperlakukan pasangannya sesuka hati.
So guys, yuk kita masuk ayat demi ayat.
Ayat 1
Musa memulai,
“Apabila seseorang mengambil seorang perempuan dan menjadi suaminya, dan jika kemudian ia tidak menyukai lagi perempuan itu...”
Perhatikan kata “apabila.”
Teks ini sedang menggambarkan sebuah keadaan yang terjadi dalam kehidupan bangsa Israel.
Seorang laki-laki menikahi seorang perempuan. Tetapi setelah menjalani kehidupan pernikahan, ia menemukan sesuatu yang disebut sebagai “yang tidak senonoh” pada istrinya.
Nah, bagian ini memang agak tricky ya guys.
Emang “tidak senonoh” itu maksudnya apa?
Ungkapan Ibraninya adalah ‘ervat dabar, sebuah ungkapan yang memang sulit diterjemahkan secara sangat spesifik.
Tetapi yang perlu kita perhatikan adalah teks ini tidak sedang berbicara dengan sederhana mengenai perzinahan, sebab pelanggaran seksual tertentu sudah memiliki aturan dan konsekuensi tersendiri dalam Taurat.
Jadi Musa sedang berbicara tentang persoalan serius yang menyebabkan relasi perkawinan itu mengalami keretakan.
Nah, masalahnya adalah... dalam masyarakat yang sangat didominasi laki-laki, ketidaksukaan seorang suami bisa membuat kehidupan perempuan menjadi sangat rentan.
Bayangin kalau perceraian hanya dilakukan karena emosi sesaat.
Marah. Kesal. Bosan. Terus ngomong, "Pergi kamu dari rumah!"
Selesai deh si perempuan itu hufftt.
Karena itu Musa mengatakan bahwa laki-laki tersebut harus menulis surat cerai dan menyerahkannya kepada perempuan itu.
Wait...
Kenapa harus ditulis?
Karena perceraian gak boleh sekadar menjadi ledakan emosi. Ada tindakan legal formal yang harus dilakukan. Dengan adanya surat tersebut, status perempuan itu menjadi jelas. Ia tidak sekadar diusir dari rumah lalu dibiarkan hidup dalam ketidakjelasan. Dengan kata lain, bahkan di tengah kerusakan sebuah pernikahan, hukum Tuhan membatasi tindakan sewenang-wenang manusia terhadap manusia lain, DAEBAK!!.
Di tengah kerasnya hati manusia, Tuhan tetap memberikan batas supaya orang yang lebih rentan tidak semakin menjadi korban.
Ayat 2–3
Musa kemudian mengatakan bahwa setelah perempuan tersebut keluar dari rumah suaminya ia dapat menjadi istri laki-laki lain. Artinya, perempuan itu tidak selamanya terikat kepada mantan suaminya.
Surat perceraian tersebut memberikan kejelasan bahwa ia telah dilepaskan dari perkawinan sebelumnya sehingga ia dapat membangun kehidupan yang baru.
Kemudian Musa memberikan sebuah skenario lain.
Bagaimana kalau pernikahan keduanya juga berakhir?
Entah karena suami keduanya menceraikannya atau karena suaminya meninggal?
Nah, di sinilah aturan yang sangat penting muncul diayat berikutnya.
Ayat 4
Musa berkata bahwa suami pertama tidak boleh mengambil perempuan itu kembali menjadi istrinya.
Lho?
Kalau dua-duanya nyesel gimana?
Kalau mantan suaminya bilang, "Aku sadar ternyata aku masih sayang sama kamu."
Tetap gak boleh?
Yup.
Justru di sinilah kita mulai melihat pesan penting dari perikop ini.
Pernikahan bukan permainan.
Seorang laki-laki tidak boleh memperlakukan perempuan seperti barang:
dipakai, dilepaskan, dimiliki orang lain, lalu ketika ingin... diambil kembali.
No.
Manusia bukan properti.
Dan pernikahan bukan hubungan yang boleh dimainkan berdasarkan perubahan perasaan sesaat.
Aturan ini membuat seorang laki-laki harus berpikir sangat serius sebelum menceraikan istrinya.
Karena keputusan itu mempunyai konsekuensi.
Guys, mungkin inilah bagian yang sangat relevan buat kita.
Kita hidup di zaman yang sangat menekankan perasaan.
"Aku udah gak feel."
"Aku udah gak nyaman."
"Kayaknya kita udah gak cocok."
"Dia sekarang beda."
Tetapi Alkitab mengingatkan kita bahwa komitmen tidak selalu berjalan mengikuti perasaan.
Perasaan bisa berubah.
Mood bisa berubah.
Kondisi fisik berubah.
Situasi ekonomi berubah.
Bahkan orang yang kita nikahi juga akan berubah.
Dan kita pun berubah.
Karena itu pernikahan tidak mungkin dibangun hanya dengan,
“Aku mencintaimu selama kamu tetap menjadi orang yang aku sukai.”
Pernikahan membutuhkan komitmen untuk belajar mengasihi seseorang sebagai manusia yang nyata—dengan kekuatan sekaligus kelemahannya.
Ayat 5
Nah, menariknya guys, setelah berbicara mengenai perceraian, Musa tiba-tiba mengatakan:
“Apabila baru saja seseorang mengambil isteri, janganlah ia keluar bersama-sama dengan tentara maju berperang atau dibebankan sesuatu pekerjaan; satu tahun lamanya ia harus dibebaskan untuk keperluan rumah tangganya dan menyukakan hati perempuan yang telah diambilnya menjadi isterinya.”
Lho...Kok tiba-tiba ngomongin pengantin baru?
Actually, penempatan ayat ini indah banget.
Setelah menunjukkan betapa seriusnya kerusakan sebuah perkawinan, Taurat kemudian menunjukkan bahwa perkawinan harus dipelihara sejak awal.
Seorang laki-laki yang baru menikah bahkan diberikan waktu untuk membangun rumah tangganya.
Perhatikan kalimatnya:
“menyukakan hati perempuan yang telah diambilnya menjadi isterinya.”
Wow.
Artinya, pernikahan bukan cuma,
"Yang penting sudah sah."
Bukan.
Relasi itu harus dirawat.
Ada waktu yang harus diberikan.
Ada perhatian.
Ada kehadiran.
Ada kasih yang perlu ditumbuhkan.
Ada proses belajar mengenal pasangan.
Ada proses menerima kelemahannya.
Jadi guys, Ulangan 24 tidak sedang berkata,
“Kalau gak cocok, cerai aja.”
Sebaliknya, bagian ini memperlihatkan betapa seriusnya sebuah komitmen pernikahan.
Dan ketika kita membaca bagian ini dalam terang Perjanjian Baru, kita melihat Yesus membawa kita lebih dalam lagi.
Ketika orang Farisi bertanya kepada Yesus mengenai perceraian, Yesus menjelaskan bahwa Musa memberikan ketentuan tersebut “karena ketegaran hatimu” (Matius 19:8).
Lalu Yesus membawa mereka kembali kepada maksud Allah sejak penciptaan:
“Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.”
(Matius 19:6)
Jadi pusatnya bukan sekadar:
“Boleh cerai atau gak?”
Pertanyaan yang lebih dalam adalah:
“Seperti apakah hati Allah terhadap pernikahan?”
Allah menginginkan kesetiaan.
Allah menghargai komitmen.
Allah memanggil suami dan istri untuk belajar mengasihi bukan hanya ketika pasangannya menyenangkan, tetapi juga ketika mereka harus berhadapan dengan kelemahan satu sama lain.
Dan Injil membawa kita lebih jauh lagi.
Kristus mengasihi kita bukan karena kita selalu menyenangkan hati-Nya.
Ia mengetahui seluruh kelemahan kita.
Kegagalan kita.
Dosa kita.
Bagian hidup kita yang bahkan kita sendiri malu melihatnya.
Yet...
Kristus tetap mengasihi kita.
Ia datang untuk menebus kita.
Karena itu, ketika kasih Kristus semakin memenuhi hati kita, kita belajar berkata kepada orang yang Tuhan tempatkan dalam hidup kita:
“Aku belajar mengasihimu karena aku sendiri telah terlebih dahulu dikasihi Kristus di tengah ketidaksempurnaanku.”
Refleksikanlah
1. Right Thinking — Head
Allah adalah Pribadi yang menghargai kesetiaan dan komitmen.
Ulangan 24:1–5 menunjukkan bahwa Tuhan tidak menghendaki manusia memperlakukan pernikahan maupun pasangannya secara sembarangan.
Bahkan ketika manusia hidup dengan hati yang keras, Allah memberikan batas supaya kelemahan manusia tidak menjadi alasan untuk menyakiti orang lain sesuka hati.
Pernikahan bukan sekadar hubungan berdasarkan perasaan.
Pernikahan adalah komitmen yang harus dihormati dan dipelihara.
2. Right Feeling — Heart
Guys, coba periksa hati kita.
Apakah kita hanya mudah mengasihi orang ketika mereka menyenangkan?
Ketika mereka sesuai ekspektasi?
Ketika mereka memahami kita?
Bagaimana ketika kelemahan mereka mulai kelihatan?
Mintalah Tuhan memberikan hati yang mampu melihat orang lain dengan kasih karunia.
Karena sebenarnya kita pun adalah manusia dengan banyak kelemahan yang setiap hari membutuhkan kasih karunia Allah.
3. Right Acting — Hand
Buat kita yang sedang pacaran dan serius menuju pernikahan:
belajarlah berkomitmen sejak sekarang.
Jangan hanya bertanya,
"Apakah dia membuat aku bahagia?"
Belajarlah bertanya,
“Apakah aku sedang belajar mengasihi, menghormati, dan menerima dia sebagai pribadi?”
Dan buat kita yang sudah menikah:
jangan berhenti merawat pernikahan.
Berikan waktu.
Dengarkan pasangan.
Belajar meminta maaf.
Belajar mengampuni.
Belajar menerima kelemahannya.
Dan jangan lupa—“menyukakan hati” pasanganmu.
Karena sering kali pernikahan tidak hancur dalam satu hari.
Demikian juga pernikahan yang kuat tidak dibangun dalam satu hari.
Ia dibangun melalui keputusan-keputusan kecil untuk tetap hadir, tetap mendengar, tetap mengampuni, dan tetap mengasihi.
Komitmen berkata: “Aku tetap belajar mengasihimu bahkan ketika aku sedang melihat bagian dirimu yang tidak sempurna.”
Yuk bisa yuk!!
© Pertanyaan Reflektif
©
Berdoalah sesuai Firman
Tuhan, terima kasih karena Dikau adalah Allah yang setia.
Dikau mengetahui segala kelemahanku, kegagalanku, bahkan bagian hidupku yang tidak menyenangkan, tetapi di dalam Kristus Dikau tetap mengasihi dan membentukku.
Ajarku untuk memiliki hati yang setia.
Tolong aku supaya tidak membangun relasi hanya berdasarkan perasaan sesaat, tetapi belajar menghormati setiap komitmen yang telah kubuat.
Bagi kami yang sedang mempersiapkan pernikahan, berikan hikmat untuk belajar mengasihi dengan dewasa.
Bagi kami yang telah menikah, mampukan kami untuk terus merawat, menghormati, mengampuni, menerima kelemahan, dan menyukakan hati pasangan yang telah Dikau percayakan kepada kami.
Biarlah melalui kehidupan kami, orang lain dapat melihat sedikit gambaran tentang kasih Kristus yang setia kepada umat-Nya.
Dalam nama Tuhan Yesus aku berdoa.
Amin.
Tetap semangat guys, Tuhan Yesus beserta kita,#kamugaksendiri
#TuhanYesusBesertamu *RL-SDG*
Comments
Post a Comment