©
Berdoalah mohon pimpinan Roh Kudus untuk menyatakan Firman-Nya
©
Bacaan Alkitab: Ulangan 24: 6-22
Tentang melindungi sesama
manusia
6, "Janganlah
mengambil kilangan atau batu kilangan atas sebagai gadai, karena yang demikian
itu mengambil nyawa orang sebagai gadai.
7, Apabila
seseorang kedapatan sedang menculik orang, salah seorang saudaranya, dari
antara orang Israel, lalu memperlakukan dia sebagai budak dan menjual dia, maka
haruslah penculik itu mati. Demikianlah harus kauhapuskan
yang jahat itu dari tengah-tengahmu.
8, Hati-hatilah
dalam hal penyakit kusta dan lakukanlah dengan tepat segala yang diajarkan
imam-imam orang Lewi kepadamu; apa yang kuperintahkan kepada
mereka haruslah kamu lakukan dengan setia.
9, Ingatlah apa
yang dilakukan TUHAN, Allahmu, kepada Miryam pada waktu perjalananmu keluar
dari Mesir.
10, Apabila
engkau meminjamkan sesuatu kepada sesamamu, janganlah engkau masuk ke rumahnya
untuk mengambil gadai dari padanya.
11, Haruslah
engkau tinggal berdiri di luar, dan orang yang kauberi pinjaman itu haruslah
membawa gadai itu ke luar kepadamu.
12, Jika ia
seorang miskin, janganlah engkau tidur dengan barang gadaiannya;
13, kembalikanlah
gadaian itu kepadanya pada waktu matahari terbenam, supaya ia dapat tidur
dengan memakai kainnya sendiri dan memberkati engkau. Maka
engkau akan menjadi benar di hadapan TUHAN, Allahmu.
14, Janganlah
engkau memeras pekerja harian yang miskin dan menderita , baik
ia saudaramu maupun seorang asing yang ada di negerimu, di
dalam tempatmu.
15, Pada hari
itu juga haruslah engkau membayar upahnya sebelum matahari terbenam; ia
mengharapkannya, karena ia orang miskin; supaya ia jangan
berseru kepada TUHAN mengenai engkau dan hal itu menjadi dosa bagimu.
16, Janganlah
ayah dihukum mati karena anaknya, janganlah juga anak dihukum mati karena
ayahnya; setiap orang harus dihukum mati karena dosanya sendiri.
17, Janganlah
engkau memperkosa hak orang asing dan anak yatim; juga
janganlah engkau mengambil pakaian seorang janda menjadi
gadai.
18, Haruslah
kauingat, bahwa engkaupun dahulu budak di Mesir dan
engkau ditebus TUHAN, Allahmu, dari sana; itulah sebabnya aku memerintahkan
engkau melakukan hal ini.
19, Apabila
engkau menuai di ladangmu, lalu terlupa seberkas di ladang, maka janganlah
engkau kembali untuk mengambilnya; itulah bagian orang
asing, anak yatim dan janda--supaya TUHAN, Allahmu,
memberkati engkau dalam segala pekerjaanmu.
20 Apabila
engkau memetik hasil pohon zaitunmu dengan memukul-mukulnya, janganlah engkau
memeriksa dahan-dahannya sekali lagi; itulah bagian orang
asing, anak yatim dan janda.
21, Apabila
engkau mengumpulkan hasil kebun anggurmu, janganlah engkau mengadakan pemetikan
sekali lagi; itulah bagian orang asing, anak yatim dan janda.
22, Haruslah
kauingat, bahwa engkaupun dahulu budak di tanah Mesir; itulah sebabnya aku
memerintahkan engkau melakukan hal ini."
"Renungkanlah”
Hello Guys, hari ini kita Sate lagi. So, ini lanjutan dari SaTe kemarin ya.
Setelah Musa berbicara mengenai kehidupan pernikahan, sekarang kita ketemu sekumpulan aturan yang sekilas kayak random banget.
Coba lihat.
Ayat 6 ngomongin batu kilangan.
Ayat 7 tiba-tiba ngomongin penculikan.
Ayat 8–9 penyakit kusta.
Ayat 10–13 utang dan barang gadaian.
Ayat 14–15 upah pekerja.
Ayat 16 hukuman.
Ayat 17–18 orang asing, anak yatim, dan janda.
Terus ayat 19–22 ngomongin panen.
Wait...
Apa hubungannya batu kilangan, penculik, penyakit kulit, utang, gaji, janda, sama buah zaitun?
Kayaknya Musa lagi lompat-lompat topik ya.
But actually, kalau kita melihat lebih dekat, semuanya diikat oleh satu benang merah yang sama:
Tuhan gak mau umat-Nya menggunakan kekuasaan yang mereka miliki untuk menghancurkan kehidupan orang lain.
Terutama kehidupan orang yang sedang berada dalam posisi lemah.
So guys, yuk kita masuk ke bagian demi bagian.
Ayat 6 — Jangan mengambil sumber hidup seseorang
Musa berkata,
“Janganlah mengambil kilangan atau batu kilangan atas sebagai gadai, karena yang demikian itu mengambil nyawa orang sebagai gadai.”
Wait...
Kenapa Tuhan sampai ngurusin batu kilangan?
Well, karena pada zaman itu batu kilangan bukan sekadar perkakas dapur.
Batu itu digunakan untuk menggiling gandum menjadi tepung yang kemudian menjadi makanan sehari-hari.
Jadi bayangin guys.
Ada orang miskin pinjam uang kepada kita.
Terus kita bilang,
"Boleh. Tapi batu kilanganmu jadi jaminannya ya."
Secara bisnis mungkin kita berpikir,
“Fair dong. saya kasih pinjaman, dia kasih jaminan.”
Masalahnya...
Kalau batu kilangannya diambil, dia menggiling gandum pakai apa?
Kalau alat yang menopang kehidupannya diambil, bagaimana dia memenuhi kebutuhan hidupnya?
Karena itu Musa menggunakan kalimat yang ekstrem banget:
“Yang demikian itu mengambil nyawa orang sebagai gadai.”
Wow.
Tuhan melihat bahwa mengambil alat yang menopang kehidupan seseorang bisa berarti mengambil kemampuan orang tersebut untuk mempertahankan kehidupannya.
Dalam bahasa kita sekarang:
Orang lagi susah. Dia pinjam uang. Terus karena pinjam uang, kita ambil alat yang dia butuhkan untuk bekerja. Akibatnya dia gak bisa kerja. Karena gak bisa kerja, dia gak punya penghasilan. Karena gak punya penghasilan, dia malah makin gak mampu bayar utang.
Lha terus gimana dia mau keluar dari kemiskinan?
Hufftt...
Utangnya belum selesai, sumber hidupnya malah ikut hilang.
Jadi Tuhan sedang mengajarkan sesuatu yang jauh lebih besar daripada aturan mengenai batu kilangan:
Jangan menyelesaikan utang seseorang dengan menghancurkan kemampuan orang itu untuk hidup.
Ayat 7 — Manusia bukan barang dagangan
Kemudian Musa tiba-tiba berbicara mengenai penculikan.
Kalau ada seseorang menculik sesama orang Israel, memperlakukannya sebagai budak, kemudian menjualnya, penculik tersebut harus dihukum mati.
Kenapa hukumannya keras banget?
Karena manusia bukan komoditas.
Manusia bukan barang yang bisa diculik, dimiliki, diperdagangkan, lalu menghasilkan keuntungan bagi orang lain.
Perhatikan guys.
Ayat 6 melindungi sumber hidup manusia.
Ayat 7 melindungi kebebasan manusia.
Allah tidak menghendaki seseorang memperkaya dirinya dengan menghancurkan kehidupan orang lain.
Ayat 8–9 — Ingat Miryam
Kemudian Musa berbicara mengenai penyakit kulit yang dalam terjemahan lama sering disebut “kusta.”
Bangsa Israel harus mengikuti dengan tepat petunjuk para imam.
Lalu Musa berkata,
“Ingatlah apa yang dilakukan TUHAN, Allahmu, kepada Miryam...”
Musa membawa bangsa Israel kembali kepada pengalaman mereka sendiri.
Ingat Miryam.
Artinya, umat Tuhan gak boleh memperlakukan ketetapan Tuhan mengenai kenajisan dan penyakit dengan sembarangan.
Mereka harus mengikuti apa yang Tuhan perintahkan dengan setia.
Tapi kemudian kita masuk ke ayat 10–13, dan tema perlindungan kepada sesama muncul lagi dengan sangat jelas.
Ayat 10–13 — Orang berutang tetap punya martabat
Musa berkata, kalau kamu memberikan pinjaman kepada seseorang,
jangan masuk ke rumahnya untuk mengambil barang gadaiannya.
Wait...
Bukankah dia yang punya utang?
Bukankah si pemberi pinjaman punya hak meminta jaminan?
Yes.
Tapi Tuhan memberikan batas.
Orang yang memberikan pinjaman harus berdiri di luar rumah.
Orang yang berutanglah yang membawa barang gadaiannya keluar.
Ini menarik banget guys.
Karena rumah adalah ruang pribadi seseorang.
Jadi sekalipun orang tersebut punya utang kepada kita, itu gak berarti kita punya hak masuk ke rumahnya dan berkata,
"Hmm... mana barang yang paling mahal di sini? TV? Kulkas? Kasur? Sini gue ambil."
No.
Utang seseorang tidak menghilangkan martabatnya.
Dan aturan Tuhan bahkan lebih jauh lagi.
Kalau orang miskin memberikan jubahnya sebagai gadai, jubah itu harus dikembalikan sebelum matahari terbenam.
Lho?
Terus gadaiannya buat apa kalau malam dikembalikan?
Karena bagi orang miskin, jubah itu bukan cuma pakaian.
Pada malam hari jubah tersebut juga dipakai sebagai selimut.
Bayangin guys.
Secara hukum kita mungkin berkata,
"Ini hak saya. Dia punya utang sama saya. Jubah ini jaminannya."
Tetapi Tuhan seperti berkata,
“Iya, tetapi malam ini dia kedinginan.”
Ahhhh...
Indah banget gak sih.
Tuhan memperhatikan hal yang sangat sederhana:
bagaimana seorang miskin tidur malam ini.
Bagi kita mungkin cuma selembar kain.
Bagi dia itu kehangatan malam ini.
Jadi Allah berkata:
kembalikan.
Hak ekonomi kita gak boleh membuat kita kehilangan belas kasihan.
Ayat 14–15 — Jangan tahan upah orang miskin
Kemudian Musa berbicara kepada orang yang punya pekerja.
“Janganlah engkau memeras pekerja harian yang miskin dan menderita...”
Upahnya harus dibayar pada hari itu juga sebelum matahari terbenam.
Karena Musa berkata,
“Ia mengharapkannya, karena ia orang miskin.”
Guys, pekerja harian zaman itu hidup dari upah hari itu.
Kerja hari ini.
Dibayar hari ini.
Uangnya dipakai untuk makan.
Jadi kalau bosnya berkata,
"Besok aja ya."
Buat si bos mungkin cuma telat satu hari.
Buat pekerjanya, bisa jadi keluarganya gak makan malam itu.
Nah, ini yang sering gak kita sadari.
Sesuatu yang kecil bagi orang yang memiliki kuasa bisa menjadi sesuatu yang sangat besar bagi orang yang hidup dalam kekurangan.
Karena itu Tuhan bahkan berkata bahwa kalau orang miskin tersebut berseru kepada-Nya, keterlambatan itu menjadi dosa bagi orang yang menahan upahnya.
Artinya:
Allah mendengar suara pekerja yang diperlakukan tidak adil.
Ayat 16–18 — Jangan menindas yang lemah
Ayat 16 menegaskan bahwa setiap orang bertanggung jawab atas dosanya sendiri.
Ayah gak boleh dihukum karena kesalahan anak.
Anak gak boleh dihukum karena kesalahan ayah.
Kemudian ayat 17 menyebut tiga kelompok yang berulang kali mendapat perhatian khusus dalam Taurat:
orang asing, anak yatim, dan janda.
Karena mereka termasuk orang-orang yang sangat rentan dalam struktur masyarakat pada waktu itu.
Mereka gak selalu punya tanah.
Gak selalu punya keluarga yang bisa melindungi.
Gak selalu punya kekuatan ekonomi.
Gak selalu punya seseorang yang bisa membela hak mereka.
Dan kepada orang yang seperti itu Tuhan berkata:
“Jangan engkau memperkosa hak mereka.”
Lalu Musa memberikan alasan yang luar biasa penting:
“Haruslah kauingat, bahwa engkaupun dahulu budak di Mesir dan engkau ditebus TUHAN, Allahmu, dari sana.”
Nahhh...
Ini kuncinya guys.
Kenapa Israel harus berbelas kasihan?
Karena mereka pernah berada di posisi yang sama.
Mereka pernah lemah.
Mereka pernah menjadi budak.
Mereka pernah gak punya kuasa.
Mereka pernah ditindas.
Dan Tuhan membebaskan mereka.
Jadi Tuhan seperti berkata,
"Jangan setelah Aku bebaskan kamu dari penindasan, sekarang kamu malah menjadi penindas bagi orang lain."
Wow.
Orang yang sudah mengalami pembebasan Tuhan seharusnya menjadi orang yang menghadirkan pembebasan bagi sesamanya.
Ayat 19–22 — Bahkan cara panen pun harus penuh belas kasihan
Nah, bagian terakhir menarik banget.
Musa berbicara kepada pemilik ladang.
Kalau lagi panen terus ada seberkas gandum yang ketinggalan...
jangan balik mengambilnya.
Kalau memukul pohon zaitun dan masih ada buah yang tersisa...
jangan dipukul lagi.
Kalau memanen kebun anggur...
jangan petik untuk kedua kalinya sampai bersih.
Wait...
Kenapa?
Kan itu ladang hak milih saya.
Pohon zaitun saya.
Kebun anggur Saya.
Bukankah secara teknis semua hasilnya milik saya?
Tuhan berkata:
sisakan.
Untuk siapa?
Orang asing.
Anak yatim.
Janda.
Guys, ini keren banget.
Tuhan sedang mengajarkan bangsa Israel bahwa berkat yang mereka terima tidak selalu dimaksudkan untuk dihabiskan bagi diri sendiri.
Ada bagian yang harus dibiarkan supaya orang lain juga bisa hidup.
Dan sekali lagi ayat 22 ditutup dengan kalimat:
“Haruslah kauingat, bahwa engkaupun dahulu budak di tanah Mesir...”
See?
Ternyata pusat seluruh perikop ini adalah INGAT.
Ingat siapa kamu dahulu.
Ingat bagaimana Tuhan memperlakukanmu.
Ingat bahwa kamu pernah gak berdaya.
Ingat bahwa kamu pernah membutuhkan pertolongan.
Dan yang paling penting:
ingat siapa yang menebusmu.
Israel harus memperlakukan orang miskin dengan belas kasihan karena mereka adalah umat yang telah ditebus.
Nah guys, ketika kita membaca bagian ini dalam terang Perjanjian Baru, bukankah cerita kita juga sama?
Kita juga adalah orang-orang yang gak mampu menyelamatkan diri kita sendiri.
Kita hidup di bawah kuasa dosa.
Tetapi Kristus datang.
Ia menebus kita.
Ia datang kepada orang berdosa, orang lemah, orang yang disingkirkan, dan orang yang membutuhkan pertolongan.
Di dalam Kristus, kita menerima kasih karunia yang sebenarnya gak mampu kita bayar.
Karena itu, orang yang sudah menerima kasih karunia Kristus gak mungkin terus hidup dengan prinsip:
“Yang penting hak gue terpenuhi.”
Injil mengajar kita bertanya:
“Bagaimana hak yang aku miliki dapat aku gunakan tanpa menghancurkan kehidupan orang lain?”
Tuhan bukan cuma peduli apakah transaksi kita legal.
Tuhan peduli apakah tindakan kita adil, penuh belas kasihan, dan menjaga martabat manusia.
Karena bagi TUHAN Allah, orang yang berutang tetap manusia. Pekerja tetap manusia. Orang miskin tetap manusia. Orang asing tetap manusia. Janda tetap manusia. Anak yatim tetap manusia. Dan manusia gak boleh dikorbankan hanya demi keuntungan kita.
1. Right Thinking — Head
Allah adalah Pribadi yang membela kehidupan dan martabat manusia, terutama mereka yang lemah.
Allah peduli bukan hanya pada kehidupan rohani kita, tetapi juga bagaimana kita menggunakan uang, memberikan pinjaman, membayar pekerja, menjalankan bisnis, memperlakukan orang miskin, dan menggunakan harta yang dipercayakan kepada kita.
Kesalehan kepada Tuhan gak bisa dipisahkan dari keadilan kepada sesama.
2. Right Feeling — Heart
Mintalah Tuhan memberikan hati yang peka terhadap kehidupan orang lain.
Kadang kita begitu fokus kepada pertanyaan:
“Apa yang menjadi hakku?”
sampai lupa bertanya:
“Apa dampak tindakanku terhadap kehidupan orang lain?”
Ingatlah bahwa kita pun hidup karena belas kasihan.
Israel diingatkan:
“Dahulu kamu budak dan Tuhan menebusmu.”
Kita pun perlu terus mengingat:
“Aku adalah orang berdosa yang hidup karena kasih karunia Kristus.”
Orang yang sadar bahwa dirinya hidup karena belas kasihan akan lebih mudah menunjukkan belas kasihan.
3. Right Acting — Hand
Guys, buat kita hari ini prinsipnya sangat praktis.
Kalau kita memberikan pinjaman, jangan membuat sistem pembayaran atau jaminan yang justru menghancurkan kemampuan orang tersebut untuk bekerja dan keluar dari kesulitannya.
Kalau kita punya pekerja atau menggunakan jasa seseorang, bayarlah dengan adil dan tepat waktu.
Kalau kita punya posisi, uang, jabatan, atau kuasa lebih besar daripada orang lain, jangan gunakan itu untuk mengambil keuntungan dari kelemahan mereka.
Dan kalau Tuhan memberikan kita lebih...belajarlah menyisakan.
Gak semua yang kita punya harus dihabiskan untuk diri sendiri.
Mungkin “sisa panen” kita hari ini berbentuk uang. Waktu. Makanan. Keahlian. Kesempatan kerja. Koneksi. Atau sumber daya yang Tuhan percayakan kepada kita.
Sisakan ruang dalam hidup kita supaya orang lain juga mengalami kebaikan Tuhan melalui kita.
Karena orang yang sudah ditebus dipanggil untuk hidup sebagai orang yang membawa belas kasihan Sang Penebus kepada sesamanya.
Yuk bisa yuk!!
©
Pertanyaan Reflektif
© Berdoalah sesuai Firman
Tuhan, terima kasih karena Dikau adalah Allah yang memperhatikan kehidupan manusia.
Dikau melihat orang miskin, mendengar seruan orang yang diperlakukan tidak adil, dan menjaga martabat mereka yang lemah.
Terima kasih karena aku pun adalah orang yang hidup karena belas kasihan-Mu. Di dalam Kristus, Dikau telah menebus dan menerima aku bukan karena aku layak, tetapi karena kasih karunia-Mu.
Ajarku supaya tidak menggunakan uang, pekerjaan, jabatan, kekuasaan, ataupun hak yang kumiliki untuk mengambil keuntungan dari kelemahan orang lain.
Berikan kepadaku hati yang adil sekaligus penuh belas kasihan.
Ajarku membayar apa yang menjadi hak orang lain, menolong tanpa menghancurkan martabat mereka, dan menyisakan dari apa yang kumiliki supaya orang lain juga dapat merasakan kebaikan-Mu.
Biarlah melalui perkataan, keputusan, pekerjaan, dan penggunaan hartaku, orang lain dapat melihat sedikit gambaran tentang kasih Kristus Sang Penebus.
Dalam nama Tuhan Yesus aku berdoa.
Amin.
Tetap semangat guys, Tuhan Yesus beserta kita,#kamugaksendiri
#TuhanYesusBesertamu *RL-SDG*
Comments
Post a Comment