© Berdoalah mohon pimpinan Roh Kudus untuk menyatakan Firman-Nya
© Bacaan Alkitab: Ulangan 5: 1-22
Kesepuluh firman
1, Musa memanggil seluruh orang Israel berkumpul dan berkata kepada mereka: "Dengarlah, hai orang Israel, ketetapan dan peraturan, yang pada hari ini kuperdengarkan kepadamu, supaya kamu mempelajarinya dan melakukannya dengan setia.
2, TUHAN, Allah kita, telah mengikat perjanjian dengan kita di Horeb.
3, Bukan dengan nenek moyang kita TUHAN mengikat perjanjian itu, tetapi dengan kita, kita yang ada di sini pada hari ini, kita semuanya yang masih hidup.
4, TUHAN telah bicara dengan berhadapan muka dengan kamu di gunung dan di tengah-tengah api--
5, aku pada waktu itu berdiri antara TUHAN dan kamu untuk memberitahukan firman TUHAN kepadamu, sebab kamu takut kepada api dan kamu tidak naik ke gunung--dan Ia berfirman:
6, Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan.
7, Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.
8, Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi.
9, Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya dan kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku,
10, tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintah-Ku.
11, Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan.
12, Tetaplah ingat dan kuduskanlah hari Sabat, seperti yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu.
13, Enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu,
14, tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau lembumu, atau keledaimu, atau hewanmu yang manapun, atau orang asing yang di tempat kediamanmu, supaya hambamu laki-laki dan hambamu perempuan berhenti seperti engkau juga.
15, Sebab haruslah kauingat, bahwa engkaupun dahulu budak di tanah Mesir dan engkau dibawa keluar dari sana oleh TUHAN, Allahmu dengan tangan yang kuat dan lengan yang teracung; itulah sebabnya TUHAN, Allahmu, memerintahkan engkau merayakan hari Sabat.
16, Hormatilah ayahmu dan ibumu, seperti yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, supaya lanjut umurmu dan baik keadaanmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu.
17, Jangan membunuh.
18, Jangan berzinah.
19, Jangan mencuri.
20, Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu.
21, Jangan mengingini isteri sesamamu, dan jangan menghasratkan rumahnya, atau ladangnya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya, atau keledainya, atau apapun yang dipunyai sesamamu.
22, Firman itulah yang diucapkan TUHAN kepada seluruh jemaahmu dengan suara nyaring di gunung, dari tengah-tengah api, awan dan kegelapan, dan tidak ditambahkan-Nya apa-apa lagi. Ditulis-Nya semuanya pada dua loh batu, lalu diberikan-Nya kepadaku."
"Renungkanlah”
Hello Guys, Pasal yang 5:1-5, ini diawali dengan pendahuluan singkat. So guys, FYI nih, ciri sastra naratif Ibrani adalah pengulangan baik secara keseluruhan maupun sebagian. Bagian ini menggambarkan banget nih pengulangan ini. Musa mengumpulkan umat, dan menyampaikan syarat-syarat perjanjian yang telah mereka setujui dan untuk mendesak mereka supaya mereka mempelajari dan menaati perjanjian tersebut (ay 1). Abis itu, dia meninjau secara singkat sejarah mereka dari Sinai hingga saat Musa ngomong (ay2-5). Pola yang sama udah kita liat di pasal pertama Ulangan. Orang orang dikumpulin (1:1-5), mereka mendengarkan ‘segala sesuatu yang diperintahkan Tuhan kepadanya (:3)- yaitu syarat-syarat perjanjian. Kemudian bapak Musa memaparkan kisah panjang mengenai sejarah bangsa itu sejak perjumpaan perjanjian Sinai (1:6-3:29). Ay 1-5 ada unsur baru dalam nasihat yaitu pengamatan Musa bahwa perjanjian Sinai adalah perjanjian baru, yakni perjanjian yang tidak diketahui para leluhur (generasi sebelum mereka yang saat itu kumpul dengerin Musa), dan Musa menyebutkan perannya sebagai perantara (ay 5).
Ay 6-15, Para ahli telah lama mencatat bahwa Sepuluh Perintah Allah dapat dibagi menjadi dua tema utama: (1) perintah yang berbicara tentang hubungan antara manusia dan Tuhan (4 perintah pertama). (2) perintah yang membahas hubungan manusia dengan Tuhan, dan hubungan manusia dengan sesamanya dan makluk hidup lain (16-21). Ada juga kelompok ahli yang membagi dimensi hubungan yaitu Vertikal (dengan Tuhan) dan Horizontal (dengan manusia dan makluk hidup lainnya). Menurut perintah pertama, Yahwe adalah yang satu-satunya. Menurut perintah kedua, Yahwe tidak bisa “dibuat” dalam bentuk apapun (maksudnya kayak “dewa” bangsa lain yang bisa dibuat dari batu dipahat, atau dari kuningan dicetak jadi patung, atau dari kayu). Jika Israel menyembah berhala-(bahkan patung Yahwe-yang dibuat untuk merepresentasi Yahwe)-mereka mengundang ketidaksenangan paling besar, karena DIA adalah ALLAH YANG CEMBURU, yang tidak menerima saingan, baik yang nyata maupun yang khayalan, dan yang menghukum mereka yang gagal menghargai tuntutan unik-Nya dalam beribadah. Mereka diklasifikasikan sebagai orang orang yang “membenci” Dia (menolak Dia), para pelanggar perjanjian. Dampak dari pembangkangan mereka yang murtad akan berdampak pada generasi mendatang.
Mereka yang menahan diri dari upaya-upaya sesat untuk menciptakan Tuhan menurut gambar mereka sendiri dan yang menunjukkan bahwa dengan mengasihi DIA (yaitu dengan menepati perjanjian) dapat mengharapkan kesetiaan dan berkat timbal balik dari-Nya (ay 10). Istilah kasih disini menggunakan kata “khesed” diterjemahkan “cinta yang tak pernah gagal” menggambarkan ANUGERAH TUHAN yang tak bersyarat, kesetiaan-Nya yang tak henti-hentinya dan kekal terhadap mereka yang dipilih-Nya. (Dia telah berkomitmen untuk setia). Mereka adalah orang-orang yang memperlihatkan ketundukan mereka, yang tidak terbagi kepada kedaulatan Allah, dapat mengharapkan limpahan kasih-Nya yang berlimpah bukan hanya untuk Tiga atau Empat generasi, namun untuk seribu generasi. Angka-angka (3 atau 4 atau 1000 generasi itu jangan diartikan harfiah, tapi bisa dilihat dari maksudnya, yaitu untuk menunjukkan bahwa belas kasihan Allah jauh lebih besar daripada kemarahan-Nya.)
Perintah ketiga, (Ay 11) memiliki banyak kesamaan dengan dua perintah pertama, karena perintah ini juga membahas tentang “merendahkan” Tuhan, dengan upaya menggunakan (atau menyalahgunakan) TUHAN untuk tujuan duniawi. Bahasa Ibrani menyatakan secara harfiah “jangan menyebut nama Yahwe, Allahmu, dengan sembarangan”. Idenya adalah larangan penggunaan nama Tuhan sebagai jimat, kayak biar gak menimbulkan kesialan. Kayak Tuhan bisa dipanggil kapan aja untuk melayani manusia semacam jin dalam botol. Karena Tuhan yang berdaulat ya harusnya peran-Nya Tuhan yang ngatur, kalau manusia yang ngatur kan namanya pembalikan peran ya, nah ini disebut penghujatan karena seperti penyembahan berhala, membalikkan peran Tuhan itu sama dengan merampas kedaulatan Tuhan, gitu guys. Perintah keempat (12-15), hanya Tuhan yang harus disembah, nama-Nya tidak boleh dicemarkan. Tuhan yang berdaulat, yang diakui melalui atribut dan karya-Nya adalah Tuhan yang dapat disembah dan manusia dapat menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran dengan menyadari dan mengakui kedaulatannya atas hidup manusia. Salah satu sarana penyembahan adalah hari Sabath, hari “istirahat” dan “penghentian”. Hari ini dikhususkan-dijadikan kudus. Motif kitab Ulangan menghormati Sabat bagi Yahwe adalah mengingat tindakan penebusan-Nya yang perkasa dan penuh kasih karunia, dari perbudakan Mesir. Pemberian istirahat dari perbudakan di Mesir oleh Tuhan sendiri merupakan pembenaran bagi manusia untuk memberikan istirahat kepada diri mereka sendiri dan semua orang yang bekerja dengan dan untuk mereka, dengan cara ini YAHWE DIMULIAKAN.
Perintah ke 5 (:16), Orangtua adalah subjek yang mendapat penghormatan dan ketaatan khusus karena dalam hirarki ILAHI mereka berdiri disamping Tuhan sendiri. Hal ini sudah diisyaratkan dengan jelas dalam ringkasan pernyataan Allah tentang penciptaan umat manusia dalam Kejadian 5. “Ketika Allah menciptakan manusia”, Dia menjadikan mereka serupa dengan diri-Nya…Ketika Adam berumur 130 tahun, ia menjadi ayah dari seorang anak laki-laki yang sama seperti dia-menurut gambarnya (Kej 5:1,3). Dengan demikian, orangtua berdiri sebagai gambaran Tuhan bagi anak dan layak menerima penghormatan yang diperlukan.
Perintah ke 6 (:17) berhubungan dengan pembunuhan. Kata “pembunuhan” (pembunuhan berencana, disengaja, dan melanggar hukum). Jenis “membunuh” dalam perang, hukuman mati, dan untuk alasan serupa lainnya, diperbolehkan (bahkan dituntut lihat 13:5, 9; 20:13, 16-17). Namun pembunuhan harus dihukum setimpal, yaitu hukuman mati. Ganti rugi tersebut berasal dari ide manusia citra Allah.
Larangan terhadap perzinahan (ay 18) dirancang untuk melindungi kesucian keluarga dan menjaga sumpah yang melekat dalam perjanjian pernikahan. Hal ini juga mengarah pada pertimbangan teologis yaitu pernikahan manusia sebagai metafora hubungan Allah dan manusia. Gambaran yang sangat umum digunakan di Perjanjilan Lama seperti di Hosea 2:2-5, dan perjanjian baru Ef 5:23. Jangan mencuri (ay 19), dalam konteks perjanjian, persoalannya adalah penyelewengan barang atau harta benda yang secara kedautalan telah dianugerahkan Allah sesuai kehendak-Nya. Mencuri berarti menunjukkan ketidakpuasan terhadap apa yang dimiliki seseorang. Selanjutnya perintah untuk tidak memberikan kesaksian palsu (ay 20) erat kaitannya dengan pencurian, karena hal itu merampas nama baik seseorang. Secara harfiah, perintah tersebut mengatakan “Jangan bersaksi melawan sesamau dengan kesaksian kosong (atau sia-sia).” Artinya tuduhan harus mempunyai substansi-harus didasarkan pada fakta. Yang terakhir, adalah perintah untuk tidak mengingini (ay.21). Kata kerja yang digunakan untuk mengingini istri khamad memiliki nuansa (1) nafsu seksual (2) materialistis. Ini berkaitan dengan niat atau keinginan batin bukan tindakan eksternal.
Sekali lagi, Musa merenungkan peristiwa-peristiwa yang mengarah pada momen pembaruan perjanjian saat ini. Ia mengemukakan Sepuluh Perintah Allah berasal dari Sinai pada masa lalu. Musa menambahkan informasi bahwa dalam ketakutan bangsa Israel, mereka memohon kepada Musa untuk menjadi perantara mereka, agar melalui dia, Yahwe dapat mengungkapkan diri-Nya dan kehendak-Nya.
Refleksikanlah
Guys, Kali ini Musa ngingetin tentang 10 perintah Allah yang diberikan oleh Allah kepada bangsa Israel sebagai umat perjanjian-Nya sebagai aturan main dalam relasi perjanjian tersebut. Musa menjadi perantara/mediator antara Allah dengan bangsa Israel.
Guys, kita adalah murid TUHAN dengan aturan main yang jelas tertulis semua lengkap di Alkitab. Kecenderungan manusia itu ya cari celah peraturan untuk dilanggar, atau ya pengen aja melanggar aturan main, kayak sengaja nerobos lampu merah gitu. Tapi, kita sekarang udah tau, sebagai umat perjanjian, murid-murid-Nya, kita dipanggil hidup dalam perjanjian dengan-Nya dan mengikuti aturan main-Nya. Dengan pertolongan Roh Kudus, disiplin rohani yang kita lakukan, dan bersama komunitas, kita bisa menghidupi status kita sebagai umat perjanjian dengan sukacita dan damai sejahtera. Puji Tuhan ^^V
© Pertanyaan Reflektif
Apa yang kamu pelajari tentang ALLAH hari ini? Apa yang ALLAH sampaikan kepada-mu melalui perikop ini? Bagaimana kamu menerapkan firman Tuhan ini dalam kehidupanmu sehari lepas sehari, di kantor, di rumah atau di manapun kamu berada?
© Berdoalah sesuai Firman
Tuhan tolong aku untuk bisa memaknai hidupku sebagai umat perjanjian, Amin.
Tetap semangat guys, Tuhan Yesus beserta kita,#kamugaksendiri #TuhanYesusBesertamu *RL-SDG*
Comments
Post a Comment