Ulangan 5: 23-33

 © Berdoalah mohon pimpinan Roh Kudus untuk menyatakan Firman-Nya

© Bacaan Alkitab:  Ulangan 5: 23-33

Orang Israel takut menghadapi kedatangan TUHAN

23, "Ketika kamu mendengar suara itu dari tengah-tengah gelap gulita, sementara gunung itu menyala, maka kamu, yakni semua kepala sukumu dan para tua-tuamu, mendekati aku,
24, dan berkata: Sesungguhnya, TUHAN, Allah kita, telah memperlihatkan kepada kita kemuliaan dan kebesaran-Nya, dan suara-Nya telah kita dengar dari tengah-tengah api. Pada hari ini telah kami lihat, bahwa Allah berbicara dengan manusia dan manusia itu tetap hidup.
25, Tetapi sekarang, mengapa kami harus mati? Sebab api yang besar ini akan menghanguskan kami. Apabila kami lebih lama lagi mendengar suara TUHAN, Allah kita, kami akan mati.
26, Sebab makhluk manakah yang telah mendengar suara dari Allah yang hidup yang berbicara dari tengah-tengah api, seperti kami dan tetap hidup? 
27, Mendekatlah engkau dan dengarkanlah segala yang difirmankan TUHAN, Allah kita, dan engkaulah yang mengatakan kepada kami segala yang difirmankan kepadamu oleh TUHAN, Allah kita, maka kami akan mendengar dan melakukannya.
28, Ketika TUHAN mendengar perkataanmu itu, sedang kamu mengatakannya kepadaku, maka berfirmanlah TUHAN kepadaku: Telah Kudengar perkataan bangsa ini yang dikatakan mereka kepadamu. Segala yang dikatakan mereka itu baik.  
29, Kiranya hati mereka selalu begitu, yakni takut akan Daku dan berpegang pada segala perintah-Ku, supaya baik keadaan mereka dan anak-anak mereka untuk selama-lamanya!
30, Pergilah, katakanlah kepada mereka: Kembalilah ke kemahmu.
31, Tetapi engkau, berdirilah di sini bersama-sama dengan Aku, maka Aku hendak mengatakan kepadamu segenap perintah, yakni ketetapan dan peraturan, yang harus kauajarkan kepada mereka, supaya mereka melakukannya di negeri yang Kuberikan kepada mereka untuk dimiliki.
32, Maka lakukanlah semuanya itu dengan setia, seperti yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu. Janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri. 
33, Segenap jalan, yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, haruslah kamu jalani, supaya kamu hidup, dan baik keadaanmu serta lanjut umurmu di negeri yang akan kamu duduki."

 

 "Renungkanlah

 

Ayat 23–27, Bangsa Israel berdiri di kaki Gunung Horeb. Gunung itu menyala. Gelap gulita. Api. Suara yang mengguncang jiwa. Mereka bukan hanya mendengar suara.  Mereka mengalami perjumpaan dengan Allah yang hidup.

Ayat 23–24 mencatat bagaimana para kepala suku dan tua-tua mendekati Musa. Mereka mengakui sesuatu yang luar biasa:

“Allah berbicara dengan manusia dan manusia itu tetap hidup.”

Itu pengakuan teologis yang besar.  Allah transenden, kudus, dahsyat, tetapi Beliau berinisiatif berbicara.

Namun pengakuan itu segera berubah menjadi ketakutan:

“Mengapa kami harus mati?” (ay. 25)

Mereka sadar sesuatu yang sangat benar secara teologis:
Manusia berdosa tidak dapat berdiri di hadapan Allah yang kudus tanpa perantara.

Ayat 26 menegaskan:  Siapa yang pernah mendengar suara Allah dari api dan tetap hidup?

Kesadaran akan kekudusan Allah melahirkan gentar.
Dan gentar itu respons yang benar terhadap kemuliaan.

Karena itu mereka meminta Musa menjadi mediator:

“Mendekatlah engkau... dan engkaulah yang mengatakan kepada kami...” (ay. 27)

Mereka membutuhkan perantara.

Ayat 28-29  Tuhan berkata kepada Musa:

“Segala yang dikatakan mereka itu baik.”

Permintaan akan mediator bukanlah penolakan total terhadap Allah, melainkan sebuah pengakuan akan keterbatasan manusia.

Namun ayat 29 membuka isi hati Allah:

“Kiranya hati mereka selalu begitu, yakni takut akan Daku dan berpegang pada segala perintah-Ku…”

Di sini kita melihat sesuatu yang sangat indah:

Allah tidak hanya menginginkan ketaatan formal.
Beliau menginginkan hati yang takut akan Dia.

Ketakutan yang benar melahirkan kesetiaan.
Dan kesetiaan menghasilkan kehidupan:

“Supaya baik keadaan mereka dan anak-anak mereka untuk selama-lamanya.”

Berkat perjanjian selalu terhubung dengan ketaatan perjanjian.

 Ayat 30–31 menciptakan kontras yang dalam.

Bangsa itu diperintahkan kembali ke kemah.
Tetapi Musa diperintahkan:

“Engkau, berdirilah di sini bersama-sama dengan Aku.”

Inilah gambaran mediator sejati.

Ia berdiri di antara Allah dan umat.  Ia menerima firman untuk kemudian menyampaikannya.

Hukum, ketetapan, dan peraturan bukan diberikan untuk menindas, tetapi sebagai pedoman kehidupan di tanah perjanjian.

Ayat 32-33, Penutup bagian ini sangat praktis:

“Janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri.”

Bahasa ini menggambarkan perjalanan.
Kehidupan iman adalah jalan yang harus dijalani dengan konsisten.

Ayat 33 menegaskan hasilnya:

  • Supaya kamu hidup

  • Supaya baik keadaanmu

  • Supaya lanjut umurmu

Ketaatan bukan sekadar kewajiban religius.  Ketaatan adalah jalan menuju kehidupan yang sejati.

Musa berdiri sebagai mediator sementara.  Ia menerima firman dan menyampaikannya.

Tetapi Musa tetap manusia.  Perikop ini menunjuk kepada Mediator yang lebih besar.

Perjanjian Baru menyatakan bahwa Yesus adalah Pengantara yang sempurna (1 Tim. 2:5; Ibr. 12:24).

Di Sinai, umat takut mendengar suara Allah.  Di dalam Kristus, Allah berbicara melalui Anak-Nya.

Di Sinai, api dan gelap gulita membuat manusia gentar.  Di Golgota, Anak Allah menanggung murka itu agar kita tidak binasa.

Kristus tidak hanya menyampaikan firman.  Beliau adalah Firman itu sendiri.

Beliau membawa kita masuk ke hadirat-Nya.

Jika Israel membutuhkan Musa, kita membutuhkan Kristus.

Dan di dalam Kristus, kita tidak lagi mendekat dengan ketakutan yang menghancurkan,  namun dengan hormat dan keyakinan iman.

Refleksikanlah

Right Thinking
→ Allah itu kudus dan setia dalam perjanjian-Nya.

Right Feeling
→ Hati yang terus takut akan Tuhan, bukan hanya pas tersentuh sesaat.

Right Acting
→ Ketaatan yang konsisten, tidak menyimpang ke kiri dan ke kanan.

© Pertanyaan Reflektif

Apa yang kamu pelajari tentang kekudusan dan hati Allah dalam bagian ini?

Apakah rasa takut akan Tuhan masih nyata dalam hidupmu, atau sudah menjadi biasa?

Di bagian mana kamu cenderung “menyimpang ke kanan atau ke kiri”?

Apakah kamu sungguh hidup sebagai umat perjanjian — atau hanya mengakuinya?

© Berdoalah sesuai Firman

Tuhan,  ajar aku memiliki hati yang takut akan Dikau, setiap hari.

Jangan biarkan aku menyimpang dari jalan-Mu.
Terima kasih untuk Kristus, Sang Pengantara sejati,
yang membawa aku masuk dalam hadirat-Mu.

Tolong aku hidup sebagai umat perjanjian-Mu,
dengan ketaatan yang lahir dari kasih.

Amin.

Tetap semangat guys, Tuhan Yesus beserta kita,#kamugaksendiri #TuhanYesusBesertamu  *RL-SDG*

Comments