Ulangan 15: 19-23

 © Berdoalah mohon pimpinan Roh Kudus untuk menyatakan Firman-Nya

© Bacaan Alkitab:  Ulangan 15: 19-23

Anak sulung ternak

19, "Segala anak sulung jantan yang lahir di antara lembu sapimu dan kambing dombamu, haruslah kau kuduskan bagi TUHAN, Allahmu; janganlah engkau memakai anak sulung lembumu, dan janganlah engkau menggunting bulu anak sulung dombamu. 
20, Di hadapan TUHAN, Allahmu, engkau harus memakan dagingnya tahun demi tahun di tempat yang akan dipilih TUHAN, engkau ini dan seisi rumahmu.
21, Tetapi apabila ada cacatnya,  jika timpang atau buta, bahkan cacat apapun yang buruk, maka janganlah engkau menyembelihnya bagi TUHAN, Allahmu. 
22, Di dalam tempatmu boleh engkau, baik orang najis maupun orang tahir, memakan dagingnya, seperti daging kijang atau daging rusa.
23, Hanya darahnya janganlah kaumakan; haruslah kaucurahkan ke tanah seperti air."

 

 "Renungkanlah

Hello Guys, Btw, Kalau hari ini Tuhan meminta kita mempersembahkan sesuatu yang paling berharga dalam hidup kita.  Ga boleh yang sisa.  Bukan yang rusak.  ga boleh yang sudah tidak terpakai.

HANYA yang terbaik. Yang paling bernilai.  Yang paling kita sayangi.

Kira-kira bagaimana respons Kamu?

Mungkin sebagian dari kita akan berpikir:

"Tuhan, yang lain boleh ya?"

"Yang ini jangan deh, masih sayang."

"Yang ini masih bisa aku pakai."

Nah, kurang lebih pergumulan seperti itulah yang disentuh oleh Musa dalam bagian ini.

Bangsa Israel sedang dipersiapkan memasuki Tanah Perjanjian.

Mereka akan memiliki ladang. Mereka akan memiliki kebun anggur.

Mereka akan memiliki ternak.  Mereka akan menerima dan menikmati berkat Tuhan secara nyata.

Tetapi waktu mereka menerima berkat itu, Tuhan memberikan satu pengingat penting:

Jangan pernah lupa siapa sumber berkat itu.

Ayat 19 berkata:

"Segala anak sulung jantan yang lahir di antara lembu sapimu dan kambing dombamu haruslah kaukuduskan bagi TUHAN."

Mengapa anak sulung?  Karena dalam dunia Perjanjian Lama, anak sulung selalu memiliki nilai yang istimewa.

Anak sulung adalah tanda awal dari seluruh hasil yang akan datang.

Anak sulung melambangkan seluruh kawanan.

Dengan mempersembahkan anak sulung, Israel mengakui bahwa seluruh ternak mereka sesungguhnya adalah milik Tuhan.

Musa kemudian menambahkan sesuatu yang menarik.

Anak sulung itu tidak boleh dipakai untuk bekerja.

Lembu sulung tidak boleh dipasang pada bajak.

Domba sulung tidak boleh dicukur bulunya.

Mengapa?

Karena hewan itu sudah dikhususkan bagi Tuhan.

Apa yang telah dikuduskan bagi Tuhan tidak boleh diperlakukan seperti milik biasa.

Dengan kata lain, Tuhan tidak menghendaki umat-Nya memberikan sisa.

Tuhan menghendaki umat-Nya memberikan yang terbaik.

So guys, masih ingat ketika Israel keluar dari Mesir?

Pada malam Paskah, Tuhan menyelamatkan anak-anak sulung Israel dari maut.

Karena itulah dalam Keluaran 13 Tuhan memerintahkan agar semua anak sulung dikuduskan bagi-Nya.

Jadi ketika Israel mempersembahkan anak sulung ternak mereka, mereka sebenarnya sedang mengingat karya keselamatan Allah.

Dalam kitab Ulangan, ibadah selalu berakar pada sejarah keselamatan.  Israel memberi bukan karena Tuhan membutuhkan ternak mereka.  Tuhan adalah pemilik seluruh bumi.

Israel memberi karena mereka mengingat bahwa mereka telah ditebus.

Persembahan menjadi respons syukur atas anugerah.

Bukan usaha untuk membeli berkat.

Kemudian ayat 20 menjelaskan bahwa anak sulung itu dibawa ke tempat yang dipilih Tuhan dan dimakan dalam perjamuan kudus di hadapan-Nya.

Menarik ya guys.

Korban ini bukan sekadar ritual formal.

Korban ini menjadi perayaan sukacita bersama Tuhan.

Israel belajar bahwa penyembahan bukan melulu tentang memberi kepada Tuhan.

Penyembahan adalah saat menikmati persekutuan dengan Tuhan.

Lalu ayat 21 memberikan satu prinsip yang sangat penting.

Jika hewan itu cacat, buta, timpang, atau memiliki cacat lainnya, maka hewan itu tidak boleh dipersembahkan kepada Tuhan.

Mengapa?

Karena Tuhan layak menerima yang terbaik.

Bukan yang rusak.

Bukan yang gagal.

Bukan yang sudah tidak bernilai yang tidak layak.

Bukan berarti Tuhan membenci hewan yang cacat.

Hewan itu tetap boleh dimakan sebagai makanan biasa.

Tetapi untuk persembahan, Tuhan menghendaki sesuatu yang utuh dan terbaik.

Di sinilah kita melihat sebuah prinsip yang terus muncul dalam Alkitab:

Allah layak menerima yang terutama.

Karena pemberian itu mencerminkan posisi Tuhan dalam hati kita.

Apa yang kita berikan kepada Tuhan sering kali menunjukkan seberapa besar kita menghargai Tuhan.

Ketika kita membaca bagian ini dalam terang Perjanjian Baru, kita menemukan sesuatu yang luar biasa.

Semua korban anak sulung ini menunjuk kepada Yesus Kristus.

Kristus adalah Anak Sulung yang sempurna.

Kristus adalah korban yang tidak bercacat dan tidak bercela.

Jika dalam Perjanjian Lama seekor anak sulung dipersembahkan kepada Tuhan, maka dalam Perjanjian Baru Allah sendiri mempersembahkan Anak-Nya yang tunggal bagi keselamatan dunia.

Di kayu salib, Yesus menjadi korban yang sempurna untuk menebus dosa kita.

Karena itulah hari ini kita tidak lagi membawa anak sulung ternak ke mezbah.

Tetapi kita dipanggil untuk mempersembahkan hidup kita kepada Tuhan.

Seperti yang dikatakan Paulus:

"Persembahkanlah tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah." (Roma 12:1)

Tentu kita tidak sempurna.

Kita masih bergumul dengan dosa.

Tetapi melalui karya Kristus, kita dimampukan untuk hidup sebagai persembahan yang berkenan kepada Allah.

Bukan dengan kekuatan kita sendiri.  Tetapi oleh kasih karunia-Nya. 

Refleksikanlah

1. Right Thinking

Allah adalah sumber segala berkat dan pemilik segala sesuatu yang kita miliki. Ia layak menerima yang terbaik dari hidup kita. Semua persembahan dalam Perjanjian Lama pada akhirnya menunjuk kepada Kristus, korban sempurna yang diberikan Allah bagi keselamatan kita.

2. Right Feeling

Biarlah hati kita dipenuhi rasa syukur karena Allah tidak menuntut korban yang sempurna dari kita tanpa terlebih dahulu memberikan Korban yang sempurna bagi kita, yaitu Yesus Kristus. Biarlah kasih-Nya mendorong kita untuk mengasihi dan menghormati Dia lebih dari apa pun.

3. Right Acting (Tindakan Benar)

Mari belajar memberikan yang terbaik bagi Tuhan. Bukan hanya dalam bentuk materi, tetapi juga waktu, talenta, tenaga, pikiran, dan seluruh hidup kita. Hiduplah setiap hari sebagai persembahan yang hidup, kudus, dan berkenan kepada Allah.

 

© Pertanyaan Reflektif

  • Apa yang kamu pelajari tentang karakter Allah dari perikop ini?
  • Mengapa Tuhan meminta anak sulung yang terbaik dipersembahkan kepada-Nya?
  • Adakah area dalam hidupmu yang selama ini hanya kamu berikan "sisanya" kepada Tuhan?
  • Bagaimana kamu dapat mempersembahkan hidupmu sebagai persembahan yang hidup bagi Tuhan minggu ini?
  • © Berdoalah sesuai Firman

    Tuhan, terima kasih karena Engkau telah memberikan Yesus Kristus, Korban yang sempurna bagi keselamatanku.

    Ajarku untuk selalu mengingat bahwa semua yang kumiliki berasal dari-Mu.

    Tolong aku untuk tidak memberikan sisa hidupku kepada-Mu, tetapi memberikan yang terbaik dari waktu, talenta, tenaga, dan seluruh keberadaanku bagi kemuliaan nama-Mu.

    Biarlah hidupku menjadi persembahan yang hidup, kudus, dan berkenan kepada-Mu.

    Dalam nama Yesus aku berdoa.

    Amin.

    Tetap semangat guys, Tuhan Yesus beserta kita,#kamugaksendiri #TuhanYesusBesertamu  *RL-SDG*

    Comments