- Get link
- X
- Other Apps
© Berdoalah mohon pimpinan Roh Kudus untuk menyatakan Firman-Nya
© Bacaan Alkitab: Ulangan 21: 15-17
Hak kesulungan
15, "Apabila seorang mempunyai dua orang isteri, yang seorang dicintai dan yang lain tidak dicintainya, dan mereka melahirkan anak-anak lelaki baginya, baik isteri yang dicintai maupun isteri yang tidak dicintai, dan anak sulung adalah dari isteri yang tidak dicintai,
16, maka pada waktu ia membagi warisan harta kepunyaannya kepada anak-anaknya itu, tidaklah boleh ia memberikan bagian anak sulung kepada anak dari isteri yang dicintai merugikan anak dari isteri yang tidak dicintai, yang adalah anak sulung.
17, Tetapi ia harus mengakui anak yang sulung, anak dari isteri yang tidak dicintai itu, dengan memberikan kepadanya dua bagian dari segala kepunyaannya, sebab dialah kegagahannya yang pertama-tama: dialah yang empunya hak kesulungan."
"Renungkanlah”
Hello Guys, Kalau membaca perikop ini, mungkin kita bertanya, "Mengapa Tuhan mengatur soal hak waris anak sulung? Bukankah itu urusan internal keluarga ?"
Ternyata bukan sekadar urusan keluarga lho guys. Pada zaman itu, hak kesulungan menentukan masa depan seseorang. Anak sulung menerima bagian warisan dua kali lipat dan biasanya menjadi penerus kepemimpinan keluarga. Karena itu, kalau seorang ayah bertindak pilih kasih, akibatnya bisa sangat besar.
Yuk kita lihat ayat demi ayat.
Ayat 15
Musa memulai dengan sebuah situasi yang memang terjadi pada zaman itu.
"Apabila seorang mempunyai dua orang isteri..."
Perhatikan ya guys, ayat ini bukan berarti Tuhan menganjurkan poligami. Sejak awal penciptaan, rancangan Allah adalah satu laki-laki dan satu perempuan menjadi satu daging. Namun karena kekerasan hati manusia, praktik poligami sudah menjadi kenyataan dalam kehidupan bangsa Israel. Oleh sebab itu, Tuhan memberikan hukum untuk membatasi akibat buruk dari praktik tersebut.
Musa menggambarkan seorang suami yang lebih mengasihi satu istri daripada yang lain. Kondisi seperti ini mengingatkan kita pada kisah Yakub yang lebih mengasihi Rahel dibandingkan Lea. Akibatnya, kecemburuan dan konflik memenuhi kehidupan keluarga mereka.
Allah tahu bahwa pilih kasih dalam sebuah keluarga dapat melukai banyak orang.
Ayat 16
Kemudian Musa berbicara tentang pembagian warisan.
Pada saat seorang ayah membagikan hartanya kepada anak-anaknya, ia tidak boleh mengubah status anak sulung hanya karena lebih mencintai ibunya.
Mengapa Tuhan mengatur sampai sedetail ini?
Karena keadilan tidak boleh dikalahkan oleh perasaan. Kasih seorang ayah kepada salah satu istri tidak boleh membuatnya bertindak tidak adil kepada anak-anaknya.
Tuhan sedang mengajar bangsa Israel bahwa pemimpin keluarga harus mengambil keputusan berdasarkan kebenaran, bukan berdasarkan favoritisme.
Ayat 17
Lalu Musa memberikan ketegasan.
Anak sulung harus tetap diakui sebagai anak sulung dan menerima bagian warisan dua kali lipat.
Hak kesulungan bukan diberikan berdasarkan siapa ibu yang paling disayangi, melainkan berdasarkan ketetapan yang sudah Tuhan tetapkan.
Menariknya, Alkitab memang mencatat beberapa pengecualian, seperti Ruben yang kehilangan hak kesulungannya karena dosanya sendiri, kemudian Yusuf menerima bagian ganda melalui kedua anaknya. Tetapi semua itu terjadi karena keputusan Allah, bukan karena pilih kasih manusia.
Dengan demikian, hukum ini melindungi keadilan dalam keluarga dan mencegah seorang ayah menyalahgunakan kuasanya.
Guys, di balik hukum warisan ini kita melihat karakter Allah.
Allah adalah Hakim yang adil. Ia tidak memandang muka dan tidak mengambil keputusan berdasarkan favoritisme. Apa yang menjadi hak seseorang harus diberikan sebagaimana mestinya.
Ketika kita membaca bagian ini dalam terang Perjanjian Baru, kita melihat keadilan Allah bertemu dengan kasih-Nya di dalam Yesus Kristus. Kristus adalah Anak Sulung atas segala ciptaan, tetapi Dia rela datang menjadi hamba supaya kita yang seharusnya tidak memiliki hak apa pun justru diangkat menjadi anak-anak Allah dan menerima warisan Kerajaan-Nya. Di dalam Kristus kita belajar bahwa Allah adalah Bapa yang adil sekaligus penuh kasih. Karena itu, kita pun dipanggil hidup dengan kejujuran, integritas, dan keadilan dalam setiap relasi yang Tuhan percayakan kepada kita.
Refleksikanlah
1. Right Thinking (Head)
Allah adalah Pribadi yang adil dan tidak memandang muka. Ia menghendaki agar setiap orang diperlakukan dengan jujur dan menerima haknya sesuai dengan kebenaran.
2. Right Feeling (Heart)
Mintalah Tuhan membentuk hati yang bebas dari pilih kasih, iri hati, maupun kecenderungan mengutamakan orang-orang tertentu karena kedekatan atau keuntungan pribadi. Kiranya hati kita semakin menyerupai hati Allah yang adil.
3. Right Acting (Hand – Tindakan Benar)
Hiduplah dengan kejujuran, integritas, dan keadilan. Di rumah, di tempat kerja, di gereja, maupun di mana pun Tuhan menempatkan kita, belajarlah mengambil keputusan berdasarkan kebenaran, bukan berdasarkan rasa suka atau tidak suka.
Yuk bisa yuk!!
© Pertanyaan Reflektif
© Berdoalah sesuai Firman
Tuhan, terima kasih karena Dikau adalah Allah yang adil dan tidak memandang muka. Bentuklah hatiku agar tidak hidup berdasarkan pilih kasih, tetapi berdasarkan kebenaran-Mu. Ajarku berlaku jujur, berintegritas, dan adil kepada setiap orang sebagaimana Dikau telah memperlakukan aku dengan kasih dan keadilan melalui Yesus Kristus.
Tolonglah aku agar setiap keputusan yang kuambil mencerminkan karakter-Mu, sehingga hidupku boleh menjadi berkat bagi keluarga, tempat kerja, gereja, dan semua orang di sekitarku.
Dalam nama Tuhan Yesus aku berdoa.
Amin.
Tetap semangat guys, Tuhan Yesus beserta kita,#kamugaksendiri #TuhanYesusBesertamu *RL-SDG*
- Get link
- X
- Other Apps
Comments
Post a Comment