Ulangan 22: 5-12

 © Berdoalah mohon pimpinan Roh Kudus untuk menyatakan Firman-Nya

© Bacaan Alkitab:  Ulangan 22: 5-12

Berbagai-bagai peraturan

5, "Seorang perempuan janganlah memakai pakaian laki-laki dan seorang laki-laki janganlah mengenakan pakaian perempuan, sebab setiap orang yang melakukan hal ini adalah kekejian bagi TUHAN, Allahmu. 

6, Apabila engkau menemui di jalan sarang burung di salah satu pohon atau di tanah dengan anak-anak burung atau telur-telur di dalamnya, dan induknya sedang duduk mendekap anak-anak atau telur-telur itu, maka janganlah engkau mengambil induk itu bersama-sama dengan anak-anaknya. 

7, Setidak-tidaknya induk itu haruslah kaulepaskan, tetapi anak-anaknya boleh kauambil. Maksudnya supaya baik keadaanmu dan lanjut umurmu. 

8, Apabila engkau mendirikan rumah yang baru, maka haruslah engkau memagari sotoh rumahmu, supaya jangan kaudatangkan hutang darah kepada rumahmu itu, apabila ada seorang jatuh dari atasnya. 

9, Janganlah kautaburi kebun anggurmu dengan dua jenis benih, supaya seluruh hasil benih yang kautaburkan dan hasil kebun anggurmu jangan menjadi milik tempat kudus. 

10, Janganlah engkau membajak dengan lembu dan keledai bersama-sama.  

11, Janganlah engkau memakai pakaian yang dua jenis bahannya, yakni bulu domba dan lenan bersama-sama. 

12, Haruslah engkau membuat tali yang terpilin pada keempat punca kain penutup tubuhmu. "

 

"Renungkanlah

Hello Guys,  pernah gak sih waktu sedang membaca Alkitab kita ketemu bagian yang bikin kita mikir:

“Hah? Kok aturan Tuhan detail banget?”

Pakaian laki-laki dan perempuan dibahas.  Sarang burung dibahas.  Pagar di atap rumah dibahas.  Cara menanam dibahas.  Lembu dan keledai dibahas. Bahkan bahan pakaian pun dibahas.

Kayak... Tuhan ngapain ngurusin masalah beginian juga?

Well guys, justru di situlah menariknya Ulangan 22:5–12.

Bagian ini menunjukkan bahwa hidup sebagai umat Allah tidak terbagi menjadi dua dunia: yang “rohani” dan yang “biasa”.  Bagi Israel, perjanjian dengan YHWH menyentuh seluruh kehidupan—identitas mereka, cara memperlakukan ciptaan, cara membangun rumah, cara bekerja, sampai pakaian yang mereka kenakan.

Dengan kata lain:

Allah peduli terhadap cara umat-Nya menjalani kehidupan sehari-hari.

Yuk kita masuk ke ayat demi ayat.

Ayat 5

Musa memulai dengan sebuah peraturan mengenai pakaian laki-laki dan perempuan.

“Seorang perempuan janganlah memakai pakaian laki-laki dan seorang laki-laki janganlah mengenakan pakaian perempuan....”

Guys, kita perlu hati-hati ketika membaca ayat ini.

Ayat ini lahir dalam konteks Israel kuno dan tidak sedang memberikan daftar lengkap model pakaian mana yang secara universal “khusus laki-laki” atau “khusus perempuan” untuk setiap budaya sepanjang sejarah.

Yang terlihat jelas dalam teks adalah bahwa Allah tidak menghendaki umat-Nya dengan sengaja mengaburkan identitas laki-laki dan perempuan melalui apa yang mereka kenakan.

Mengapa?  Karena sejak awal penciptaan, Allah menciptakan manusia laki-laki dan perempuan. Perbedaan itu bukan sebuah kecelakaan, tetapi bagian dari tatanan ciptaan Allah.

Karena itu, identitas yang Allah berikan bukan sesuatu yang perlu kita hina atau sengaja kita samarkan.

Guys, ada prinsip penting Hello Guys,


Pernah gak sih waktu baca Alkitab kita ketemu bagian yang bikin kita mikir:


“Hah? Kok aturan Tuhan detail banget?”


Pakaian laki-laki dan perempuan dibahas.


Sarang burung dibahas.


Pagar di atap rumah dibahas.


Cara menanam dibahas.


Lembu dan keledai dibahas.


Bahkan bahan pakaian pun dibahas.


Kayak... Tuhan ngurusin beginian juga?


Well guys, justru di situlah menariknya Ulangan 22:5–12.


Bagian ini menunjukkan bahwa hidup sebagai umat Allah tidak terbagi menjadi dua dunia: yang “rohani” dan yang “biasa”. Bagi Israel, perjanjian dengan YHWH menyentuh seluruh kehidupan—identitas mereka, cara memperlakukan ciptaan, cara membangun rumah, cara bekerja, sampai pakaian yang mereka kenakan.


Dengan kata lain:


Allah peduli terhadap cara umat-Nya menjalani kehidupan sehari-hari.


Yuk kita masuk ke ayat demi ayat.


Ayat 5

Musa memulai dengan sebuah peraturan mengenai pakaian laki-laki dan perempuan.

“Seorang perempuan janganlah memakai pakaian laki-laki dan seorang laki-laki janganlah mengenakan pakaian perempuan....”

Guys, kita perlu hati-hati ketika membaca ayat ini.

Ayat ini lahir dalam konteks Israel kuno dan tidak sedang memberikan daftar lengkap model pakaian mana yang secara universal “khusus laki-laki” atau “khusus perempuan” untuk setiap budaya sepanjang sejarah.

Yang terlihat jelas dalam teks adalah bahwa Allah tidak menghendaki umat-Nya dengan sengaja mengaburkan identitas laki-laki dan perempuan melalui apa yang mereka kenakan.

Mengapa?

Karena sejak awal penciptaan, Allah menciptakan manusia laki-laki dan perempuan. Perbedaan itu bukan sebuah kecelakaan, tetapi bagian dari tatanan ciptaan Allah.

Karena itu, identitas yang Allah berikan bukan sesuatu yang perlu kita hina atau sengaja kita samarkan.

Guys, ada prinsip penting di sini:

Hidup sebagai umat Allah berarti belajar menerima kehidupan sebagai pemberian dari Sang Pencipta, bukan sekadar membentuknya menurut keinginan kita sendiri.

Identitas kita pada akhirnya diterima dari Allah dan dijalani di hadapan Allah.

Ayat 6–7

Tiba-tiba Musa pindah topik.   Dari pakaian... ke sarang burung.

Random banget kelihatannya ya guys. Wkwk.

Tetapi sebenarnya ada prinsip penting.

Bayangkan seseorang sedang berjalan lalu menemukan seekor induk burung sedang mengerami telur atau menjaga anak-anaknya.

Musa mengatakan bahwa orang Israel boleh mengambil anak-anaknya, tetapi induknya harus dilepaskan.

Kenapa?

Salah satu prinsip yang dapat kita lihat adalah pemeliharaan terhadap keberlangsungan ciptaan.

Manusia memang boleh menikmati hasil ciptaan Allah. Tetapi manusia tidak diberi kebebasan untuk mengeksploitasi ciptaan tanpa batas.

Bayangin guys.  Kita ambil telurnya.  Ambil anaknya.  Induknya juga kita ambil.

Apa yang akan terjadi besok?

Besok tentu tidak akan ada lagi yang berkembang biak.

Kita menikmati hasilnya hari ini tetapi menghancurkan sumbernya untuk hari esok.

Itu bukan hikmat.  Itu keserakahan.

Karena itu ayat 7 berkata:

“Maksudnya supaya baik keadaanmu dan lanjut umurmu.”

Menarik banget.

Kesejahteraan manusia ternyata berhubungan dengan bagaimana manusia memperlakukan dunia ciptaan Allah.

Allah memberikan bumi untuk dikelola, bukan untuk dihabiskan.

Jadi guys, prinsipnya bukan sekadar:  “Apa yang boleh gue ambil?” tetapi “Bagaimana gue menikmati pemberian Tuhan tanpa menghancurkan sumber kehidupan yang Tuhan percayakan?”

Ini spiritualitas yang sangat relevan dengan zaman kita.

Ayat 8

Kemudian Musa berbicara tentang membangun rumah.

Rumah-rumah Israel kuno umumnya memiliki atap datar yang dapat dipakai untuk berbagai aktivitas. Karena itu Tuhan memerintahkan:

“Haruslah engkau memagari sotoh rumahmu.”  Kenapa?

Supaya orang tidak jatuh.

As Simple as that!. Tapi dalam banget.

Guys, Tuhan sedang mengajarkan bahwa kita bertanggung jawab bukan hanya terhadap apa yang sengaja kita lakukan, tetapi juga terhadap bahaya yang sebenarnya bisa kita cegah.

Bayangin kita punya rumah dengan rooftop.  Kita tahu orang sering naik ke sana.  Kita tahu ada kemungkinan orang jatuh.   Kita mampu memasang pagar.  Tapi kita bilang:  “Ah aman lah.”

Lalu suatu hari...

GUBRAK.

Beneran ada yang jatuh guys, .

Masalahnya bukan sekadar kecelakaan.

Ada kelalaian.

Itulah sebabnya Musa berkata jangan sampai kita mendatangkan “hutang darah” kepada rumah kita.

Artinya, umat Tuhan harus memikirkan:

“Apakah sesuatu yang gue buat, gue miliki, atau gue kerjakan bisa membahayakan orang lain?”

Wow.

Berarti keselamatan orang lain juga merupakan persoalan rohani.

Kekudusan bukan cuma soal apa yang kita lakukan di ruang ibadah.

Memastikan bangunan aman juga kekudusan.

Bekerja sesuai prosedur keselamatan juga kekudusan.

Tidak berkendara sembarangan juga kekudusan.

Tidak membuat keputusan yang membahayakan orang lain juga kekudusan.

Kasih kepada sesama membuat kita memikirkan keselamatan mereka sebelum sesuatu yang buruk terjadi.

Ayat 9–11

Nah, tiga ayat berikutnya unik banget.

Jangan menanam dua jenis benih di kebun anggur.

Jangan membajak dengan lembu dan keledai bersama-sama.

Jangan memakai pakaian yang terbuat dari campuran wol dan linen.

Emang kenapa?

Ada beberapa penjelasan yang pernah diberikan terhadap larangan-larangan ini—mulai dari alasan praktis, simbolis, sampai kemungkinan hubungannya dengan praktik bangsa-bangsa sekitar Israel.

Tetapi kita perlu berhati-hati supaya tidak menjadikan salah satu kemungkinan tersebut sebagai sesuatu yang pasti ketika teks sendiri tidak menjelaskannya secara lengkap.

Yang jelas, rangkaian peraturan ini berhubungan dengan pola yang juga muncul dalam Imamat 19:19: Israel diajar menghormati pembedaan dan keteraturan dalam kehidupan mereka sebagai umat yang kudus.

Mereka bukan bangsa yang hidup sembarangan.

Mereka adalah umat yang telah dipisahkan bagi YHWH.

Bahkan kegiatan sehari-hari mereka mengingatkan bahwa hidup mereka milik Allah.

Ayat 10

Salah satu contohnya adalah:

“Janganlah engkau membajak dengan lembu dan keledai bersama-sama.”

Secara praktis pun kedua binatang ini berbeda.

Ukuran tubuhnya berbeda.

Kekuatan dan langkahnya berbeda.

Memasang keduanya dalam satu kuk dapat menimbulkan beban yang tidak seimbang.

Guys, terkadang hikmat berarti menyadari: tidak semua hal yang bisa disatukan harus disatukan.

Ada perbedaan yang perlu dihormati.

Ada batas yang perlu dijaga.

Ada sesuatu yang memang mempunyai fungsi dan tempatnya masing-masing.

Ayat 11

Begitu juga dengan larangan memakai pakaian dari wol dan linen yang dicampur bersama.

Sekali lagi, teks tidak memberikan penjelasan panjang tentang alasannya.

Tetapi dalam rangkaian peraturan ini, Israel sedang terus diingatkan bahwa mereka adalah umat yang berbeda karena mereka menjadi milik YHWH.

Kehidupan mereka harus mencerminkan keteraturan, kekudusan, dan identitas sebagai umat perjanjian.

Ayat 12

Terakhir, Musa berkata:

“Haruslah engkau membuat tali yang terpilin pada keempat punca kain penutup tubuhmu.”

Nah, ini menarik.

Di bagian lain Taurat, jumbai pada pakaian berfungsi sebagai pengingat terhadap perintah-perintah Tuhan.

Bayangkan guys.  Ketika mereka berjalan... ada jumbai itu.  Ketika bekerja... ada jumbai itu.  Ketika duduk... ada jumbai itu.  Ketika pergi ke pasar... ada jumbai itu.

Seakan-akan kehidupan sehari-hari mereka terus mengingatkan:

“Saya adalah milik Tuhan.”

Wow.

Jadi keseluruhan bagian ini bukan kumpulan aturan random.

Ada benang merah yang indah:  Seluruh kehidupan umat Allah berada di hadapan Allah.

Cara kita memahami diri... 

cara kita memperlakukan ciptaan...

cara kita menjaga keselamatan orang lain...

cara kita bekerja...

cara kita menggunakan sumber daya...

semuanya dapat menjadi bagian dari ketaatan kepada Tuhan.

Dan ketika kita membaca prinsip ini dalam terang Perjanjian Baru, kita melihat bahwa Yesus tidak datang hanya untuk mengubah “bagian rohani” dari kehidupan kita.

Kristus datang untuk menjadi Tuhan atas seluruh kehidupan kita.

Paulus berkata:

“Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.”

(1 Korintus 10:31)

Guys, perhatikan kata:

“semuanya.”

Bukan hanya berdoa.  Bukan hanya pelayanan.  Bukan hanya membaca Alkitab.  Makan.  Minum.  Bekerja.  Belanja.  Menggunakan uang.  Memilih pakaian.  Menggunakan energi.  Memperlakukan binatang.  Menjaga lingkungan.  Memikirkan keselamatan orang lain.  Semuanya dapat dilakukan untuk kemuliaan Allah.  Karena Kristus tidak menebus sebagian hidup kita.  Kristus menebus seluruh hidup kita supaya seluruh hidup kita kembali diarahkan kepada Allah.di sini: 


Refleksikanlah

1. Right Thinking — Head

Allah adalah Allah yang menciptakan dunia dengan keteraturan dan memanggil manusia untuk mengelolanya dengan hikmat.

Tuhan peduli terhadap kehidupan manusia, keselamatan sesama, keberlangsungan ciptaan, dan cara umat-Nya menjalani kehidupan sehari-hari.

Karena itu, tidak ada bagian kehidupan kita yang terlalu “biasa” sehingga Tuhan tidak peduli terhadapnya.

2. Right Feeling — Heart

Mintalah Tuhan membentuk hati yang bersyukur dan tidak serakah.

Hati yang tidak hanya bertanya:

“Apa yang bisa aku nikmati?”

tetapi juga:

“Bagaimana aku menjaga apa yang Tuhan percayakan?”

Kiranya kita belajar menikmati pemberian Tuhan tanpa mengeksploitasinya dan menggunakan kebebasan kita tanpa merugikan kehidupan orang lain.

3. Right Acting — Hand

Guys, coba lihat kehidupan kita sehari-hari.

Bagaimana kita mengelola uang?

Bagaimana kita membeli makanan?

Apakah banyak yang akhirnya terbuang?

Bagaimana kita membeli pakaian?

Apakah karena kebutuhan atau sekadar impuls?

Bagaimana kita menggunakan listrik dan air?

Bagaimana kita membuang sampah?

Bagaimana kita bekerja?

Apakah keputusan kita mempertimbangkan keselamatan orang lain?

Bagaimana kita menggunakan waktu?

Apakah hidup kita mempunyai keseimbangan antara bekerja, beristirahat, beribadah, melayani, dan membangun relasi?

Firman Tuhan hari ini mengajak kita untuk tidak hidup sembarangan.

Kelola kehidupan dengan hikmat.

Hormati keteraturan ciptaan.

Jaga kehidupan sesama.

Rawat apa yang Tuhan percayakan.

Sebab seluruh hidup kita adalah milik Tuhan.

Yuk bisa Yuk!! ^^

© Pertanyaan Reflektif

  • Apa yang kamu pelajari tentang karakter Allah melalui Ulangan 22:5–12?
  • Adakah bagian kehidupan sehari-harimu yang selama ini kamu anggap tidak ada hubungannya dengan Tuhan?
  • Dalam menggunakan uang, makanan, pakaian, energi, waktu, dan sumber daya lainnya, apakah kamu lebih banyak digerakkan oleh rasa syukur atau keinginan untuk terus memiliki?
  • Apa satu kebiasaan yang dapat kamu ubah mulai hari ini untuk lebih menjaga kehidupan sesama dan merawat ciptaan yang Tuhan percayakan kepadamu?
  • © Berdoalah sesuai Firman

    Tuhan, terima kasih karena Dikau adalah Pencipta dan Pemilik seluruh kehidupan.

    Ajarku menyadari bahwa seluruh hidupku berada di hadapan-Mu. Tidak hanya ketika aku berdoa, beribadah, atau melayani, tetapi juga ketika aku bekerja, menggunakan uang, membeli makanan dan pakaian, menggunakan waktuku, serta menikmati ciptaan-Mu.

    Berikan kepadaku hikmat untuk menikmati pemberian-Mu dengan rasa syukur tanpa menjadi serakah.

    Ajarku menjaga dan merawat ciptaan-Mu, memperhatikan keselamatan sesamaku, menghormati keteraturan yang Dikau tetapkan, dan menggunakan segala sesuatu yang Dikau percayakan kepadaku dengan bertanggung jawab.

    Terima kasih karena di dalam Kristus, seluruh hidupku telah ditebus untuk kembali menjadi milik-Mu.

    Biarlah apa pun yang kulakukan, baik dalam perkara besar maupun kecil, kulakukan untuk kemuliaan nama-Mu.

    Dalam nama Tuhan Yesus aku berdoa.

    Amin.

    Tetap semangat guys, Tuhan Yesus beserta kita,#kamugaksendiri #TuhanYesusBesertamu  *RL-SDG*

    Comments