©
Berdoalah mohon pimpinan Roh Kudus untuk menyatakan Firman-Nya
©
Bacaan Alkitab: Ulangan 23: 15-16
Kesayangan terhadap budak yang
melarikan diri
15, "Janganlah
kauserahkan kepada tuannya seorang budak yang melarikan diri dari
tuannya kepadamu.
16, Bersama-sama
engkau ia boleh tinggal, di tengah-tengahmu, di tempat yang dipilihnya di salah
satu tempatmu, yang dirasanya baik; janganlah engkau menindas dia."
"Renungkanlah”
Hello Guys, cuma dua ayat nih. Tapi menarik banget.
Bayangin ada seorang budak melarikan diri dari tuannya, lalu datang mencari perlindungan di tengah bangsa Israel.
Apa yang harus dilakukan Israel?
Dikembalikan kepada tuannya?
Ternyata enggak.
Musa berkata, “Janganlah kauserahkan kepada tuannya.”
Supaya kita memahami bagian ini, kita perlu melihat dunia pada zaman Musa. Perbudakan merupakan bagian dari kehidupan masyarakat Timur Dekat Kuno. Seorang budak yang melarikan diri berada dalam posisi yang sangat rentan. Jika dikembalikan kepada tuannya, ia dapat mengalami hukuman atau perlakuan yang keras.
Di tengah dunia seperti itulah Tuhan memberikan hukum yang melindungi orang yang sedang mencari perlindungan.
Yuk kita masuk ke ayat demi ayat.
Ayat 15, Musa berkata:
“Janganlah kauserahkan kepada tuannya seorang budak yang melarikan diri dari tuannya kepadamu.”
Kemungkinan yang dimaksud adalah seorang budak dari luar Israel yang melarikan diri dan mencari perlindungan di tengah bangsa Israel.
Guys, perhatikan apa yang Tuhan perintahkan.
Israel tidak boleh menangkapnya lalu meminta budak itu kembali ke tuannya.
Mereka juga tidak boleh memanfaatkan keadaan orang tersebut untuk keuntungan mereka sendiri.
Sebaliknya, orang yang sedang melarikan diri itu diberikan perlindungan.
Karena Allah tidak menutup mata terhadap orang yang tertindas.
Israel sendiri pernah mengalami bagaimana rasanya hidup sebagai budak di Mesir. Mereka tahu rasanya ditindas, dipaksa bekerja, dan hidup di bawah kekuasaan orang lain.
Tetapi Tuhan mendengar seruan mereka.
Tuhan melihat penderitaan mereka.
Dan Tuhan membebaskan mereka.
Karena itu, bangsa yang pernah dibebaskan oleh Allah seharusnya tidak menjadi bangsa yang menyerahkan kembali orang lain kepada penindasan.
Orang yang sudah mengalami pembebasan Tuhan dipanggil untuk menjadi tempat yang aman bagi orang lain.
Ayat 16, bahkan lebih menarik lagi.
Budak yang melarikan diri itu boleh tinggal:
“di tempat yang dipilihnya... yang dirasanya baik.”
Wow.
Dia tidak sekadar diperbolehkan bersembunyi sementara.
Dia diberikan kesempatan untuk tinggal di tengah komunitas Israel.
Bahkan ia boleh memilih tempat yang dirasanya baik.
Dan Musa menutupnya dengan perintah yang sangat jelas:
“Janganlah engkau menindas dia.”
Guys, ini memperlihatkan sesuatu tentang hati Allah.
Allah bukan Allah yang menikmati penindasan.
Allah adalah Allah yang memperhatikan orang yang lemah dan tertindas.
Dan umat Allah dipanggil untuk mencerminkan karakter yang sama.
Ketika kita membaca bagian ini dalam terang Perjanjian Baru, kita melihat hati Allah itu secara sempurna di dalam Yesus Kristus.
Yesus datang kepada orang-orang yang sering disingkirkan masyarakat.
Ia mendekati mereka. Mendengarkan mereka. Menerima mereka. Memulihkan mereka.
Bahkan Yesus berkata:
“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.”
(Matius 11:28)
Indah banget ya guys.
Di dalam Kristus, orang berdosa seperti kita pun menemukan tempat perlindungan.
Kita datang kepada-Nya membawa dosa, kegagalan, ketakutan, dan beban kita.
Dan Kristus tidak mengusir kita.
Ia menerima kita.
Ia menyelamatkan kita melalui salib-Nya.
Karena kita sudah menemukan tempat perlindungan di dalam Kristus, kita pun dipanggil menjadi orang yang menghadirkan rasa aman, keadilan, dan kasih bagi sesama.
Refleksikanlah
1. Right Thinking (Head)
Allah adalah Pribadi yang membela dan memperhatikan orang yang tertindas.
Tuhan tidak menghendaki umat-Nya memanfaatkan kelemahan orang lain. Sebaliknya, mereka dipanggil menjadi komunitas yang memberikan perlindungan dan memperlakukan sesama dengan adil.
2. Right Feeling (Heart)
Mintalah Tuhan membentuk hati yang peka terhadap orang-orang yang sedang mengalami ketidakadilan.
Jangan sampai kita melihat penderitaan seseorang lalu berpikir:
“Bukan urusan saya.”
Kiranya hati kita semakin menyerupai hati Kristus yang penuh belas kasihan.
3. Right Acting (Hand – Tindakan Benar)
Guys, mungkin kita tidak bertemu seorang budak yang melarikan diri seperti dalam Ulangan 23.
Tetapi kita bisa bertemu orang yang diperlakukan tidak adil.
Teman yang di-bully.
Rekan kerja yang diperlakukan semena-mena.
Orang yang direndahkan karena status sosialnya.
Atau seseorang yang membutuhkan tempat aman untuk bercerita.
Ketika kita melihatnya, jangan ikut menindas, jangan diam karena takut repot, dan jangan memanfaatkan kelemahannya.
Belajarlah hadir, mendengarkan, menolong, dan membela sesuai kemampuan kita.
Karena kita sendiri telah menemukan tempat perlindungan di dalam Kristus.
Yuk bisa yuk^^
©
Pertanyaan Reflektif
• Apa yang kamu pelajari tentang karakter Allah melalui Ulangan 23:15–16?
• Bagaimana perasaanmu mengetahui bahwa Allah memperhatikan orang yang lemah dan tertindas?
• Adakah seseorang di sekitarmu yang sedang mengalami ketidakadilan dan dapat kamu tolong?
• Apa satu tindakan sederhana yang dapat kamu lakukan untuk menjadi tempat yang aman bagi orang lain?
Berdoalah sesuai Firman
Tuhan, terima kasih karena Dikau adalah Allah yang memperhatikan dan membela orang yang tertindas.
Terima kasih karena di dalam Kristus aku pun menemukan tempat perlindungan, kasih, dan keselamatan.
Ajarku memiliki hati seperti hati-Mu. Berikan kepadaku keberanian untuk tidak diam ketika melihat ketidakadilan, tetapi menolong, membela, dan memperlakukan sesamaku dengan kasih dan hormat.
Biarlah melalui hidupku, orang lain dapat merasakan kasih dan perlindungan-Mu.
Dalam nama Tuhan Yesus aku berdoa.
Amin.
Tetap semangat guys, Tuhan Yesus beserta kita,#kamugaksendiri
#TuhanYesusBesertamu *RL-SDG*
Comments
Post a Comment