Ulangan 25: 1-4

 Menentang kekerasan yang sewenang-wenang

1, "Apabila ada perselisihan di antara beberapa orang, lalu mereka pergi ke pengadilan, dan mereka diadili dengan dinyatakannya siapa yang benar dan siapa yang salah,  

2, maka jika orang yang bersalah itu layak dipukul, haruslah hakim menyuruh dia meniarap dan menyuruh orang memukuli dia di depannya dengan sejumlah dera setimpal dengan kesalahannya. 

3, Empat puluh kali harus orang itu dipukuli,  jangan lebih; supaya jangan saudaramu menjadi rendah di matamu, apabila ia dipukul lebih banyak lagi. 

4, Janganlah engkau memberangus mulut lembu yang sedang mengirik.

Hello Guys!

Pernah nggak sih kamu begitu kecewa sama seseorang sampai berharap orang itu merasakan sakit yang sama seperti yang kamu alami?

Mungkin kamu pernah dikhianati oleh orang yang kamu percaya, diperlakukan tidak adil oleh teman kerja, atau disakiti oleh seseorang yang bahkan tidak merasa bersalah. nggak banget kan ya...huftt

Dalam situasi seperti itu, rasanya wajar kalau kita ingin keadilan ditegakkan. Kita ingin orang yang bersalah bertanggung jawab atas perbuatannya.

Tetapi ada satu pertanyaan penting: Ketika kita memperjuangkan keadilan, apakah kita masih mampu melihat martabat orang yang bersalah?

Pertanyaan inilah yang membawa kita kepada Ulangan 25:1–4.

1. Keadilan tidak boleh merampas martabat manusia (ayat 1–3)

Dalam Ulangan 25, Musa sedang memberikan ketentuan mengenai kehidupan umat Israel sebagai komunitas perjanjian Allah.

Ketika terjadi perselisihan, mereka harus membawa perkara tersebut kepada hakim. Hakim bertugas menyatakan siapa yang benar dan siapa yang bersalah.

Jika seseorang terbukti bersalah dan pelanggarannya dianggap layak menerima hukuman cambuk, hukuman tersebut harus dilaksanakan secara terukur dan berada di bawah pengawasan hakim.

Namun ada satu ketentuan yang menarik.

Allah menetapkan bahwa jumlah cambukan tidak boleh melebihi empat puluh kali.

Mengapa harus ada batas?

Perhatikan alasan yang diberikan dalam ayat 3:

"Supaya jangan saudaramu menjadi rendah di matamu."

Guys, perhatikan kata saudaramu.

Orang yang sedang menerima hukuman itu memang bersalah. Ia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Tetapi kesalahannya tidak membuat ia kehilangan martabat sebagai manusia dan sebagai anggota umat perjanjian.

Allah tidak mengizinkan hukuman menjadi sarana untuk mempermalukan seseorang tanpa batas.

Dengan kata lain, keadilan harus dijalankan secara proporsional dan tidak boleh berubah menjadi tindakan yang merendahkan manusia.

Ini bukan berarti kesalahan boleh dibiarkan.

Justru karena Allah menghendaki keadilan, kesalahan harus ditangani dengan benar. Namun karena Allah juga memperhatikan martabat manusia, penghukuman tidak boleh menjadi kesempatan untuk melampiaskan kebencian.

Keadilan yang benar tidak hanya bertanya apakah seseorang bersalah, tetapi juga bagaimana orang yang bersalah harus diperlakukan.

2. Belas kasihan Allah juga terlihat dalam cara kita memperlakukan ciptaan-Nya (ayat 4)

Setelah berbicara tentang hukuman terhadap manusia, Musa memberikan perintah yang sekilas tampak tidak berhubungan:

"Janganlah engkau memberangus mulut lembu yang sedang mengirik."

Pada zaman Israel kuno, lembu digunakan untuk mengirik hasil panen, yaitu membantu memisahkan biji-bijian dari bagian tanaman lainnya.

Sebagian pekerjaan itu dilakukan dengan membiarkan lembu berjalan di atas hasil panen.

Namun pemiliknya bisa saja menutup mulut lembu agar hewan tersebut tidak memakan biji-bijian yang sedang dikerjakannya.

Perintah Allah melarang tindakan tersebut.

Lembu yang sedang bekerja tidak boleh dihalangi untuk makan dari hasil panen yang sedang diiriknya.

Alasannya karena Allah memperhatikan bagaimana manusia menggunakan tenaga makhluk hidup yang berada dalam tanggung jawabnya.

Hewan bukan sekadar alat produksi yang dapat diperlakukan sesuka hati.

Menariknya, Rasul Paulus kemudian mengutip Ulangan 25:4 dalam 1 Korintus 9:9–14 untuk menjelaskan prinsip bahwa mereka yang bekerja dalam pemberitaan Injil berhak menerima dukungan dari pelayanannya.

Paulus tidak sedang menghapus kepedulian terhadap hewan. Ia memperlihatkan bahwa ketentuan tersebut juga mengandung prinsip yang lebih luas tentang perlakuan yang adil terhadap mereka yang bekerja.

Guys, ada benang merah yang menghubungkan ayat 1–3 dan ayat 4.

Dalam ruang pengadilan, manusia yang bersalah tidak boleh diperlakukan secara sewenang-wenang.

Dalam pekerjaan sehari-hari, makhluk yang bekerja tidak boleh diperlakukan secara eksploitatif.

Keduanya mengingatkan kita bahwa kekuasaan dan kewenangan harus dijalankan dengan tanggung jawab, bukan digunakan untuk menindas.

3. Melihat keadilan dan belas kasihan melalui Yesus Kristus

Guys, ketika membaca bagian ini, kita juga perlu mengingat bahwa Alkitab tidak berhenti pada ketentuan hukum Israel kuno.

Kita melihat kepedulian Allah terhadap manusia semakin nyata dalam kehidupan dan pelayanan Yesus Kristus.

Yesus tidak pernah menganggap dosa sebagai sesuatu yang sepele. Ia memanggil manusia untuk bertobat dan hidup dalam kebenaran.

Namun Yesus juga tidak memperlakukan manusia berdosa sebagai pribadi yang tidak lagi memiliki nilai.

Dalam Yohanes 8:1–11, kisah perempuan yang tertangkap berzina memperlihatkan bagaimana Yesus menghadapi orang-orang yang ingin menjadikan kesalahan seseorang sebagai kesempatan untuk menghukumnya. Yesus menolak sikap penghukuman yang munafik, sekaligus memanggil perempuan itu untuk meninggalkan dosanya.

Lebih jauh lagi, di kayu salib kita melihat betapa seriusnya Allah memandang dosa dan betapa besar kasih-Nya kepada manusia berdosa.

Kristus menyerahkan diri-Nya untuk menanggung dosa kita, sehingga mereka yang percaya kepada-Nya menerima pengampunan dan dipanggil menjalani kehidupan yang baru.

Kita yang telah menerima belas kasihan Allah tidak dipanggil untuk membenarkan kejahatan, tetapi untuk memperjuangkan kebenaran tanpa kehilangan kasih.

Kasih tidak meniadakan keadilan. Keadilan tidak boleh kehilangan belas kasihan. Dan di dalam Kristus, kita menemukan anugerah yang membentuk kita untuk hidup dalam keduanya.


Refleksikanlah

Guys, sekarang kita udah gak  lagi hidup dalam sistem peradilan Israel kuno. Kita juga gak punya lembu yang bekerja di ladang.

Tetapi prinsip firman Tuhan hari ini tetap menantang cara kita memperlakukan orang lain.

Bayangkan seorang teman kerja melakukan kesalahan.

Kamu mungkin memiliki kesempatan untuk menegurnya. Bahkan mungkin kamu memiliki wewenang untuk memberikan sanksi sesuai aturan yang berlaku.

Tetapi bagaimana kamu melakukannya?

Apakah kamu ingin memperbaiki keadaan dan menegakkan keadilan? Atau diam-diam kamu menikmati kesempatan untuk mempermalukannya?

Atau bayangkan kamu menjadi seorang pemimpin.

Kamu memiliki anggota tim yang bekerja keras memenuhi target. Mereka memberikan waktu, tenaga, dan perhatian untuk menyelesaikan tanggung jawabnya.

Apakah kamu memperhatikan kebutuhan dan kesejahteraan mereka? Atau kamu hanya peduli pada hasil pekerjaan mereka?

Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita bahwa martabat/dignity orang gak hilang begitu aja karena dia melakukan kesalahan tertentu guyss jadi kalau ada orang yang melakukan kesalahan jangan langsung memandang dia se rendah itu kayak  dia gak layak lagi mengemban martabat/dignity sebagai manusia. Demikian pula, mereka yang bekerja bersama kita tidak boleh dipandang semata-mata sebagai alat untuk mencapai tujuan.

Kita perlu belajar menegakkan batas, menuntut tanggung jawab secara adil, memberikan penghargaan yang layak, dan memperlakukan setiap pribadi dengan hormat.

Mengampuni tidak berarti membiarkan kekerasan atau menghapus konsekuensi kesalahan. Kita tetap dapat mencari perlindungan, melaporkan tindakan yang salah, dan memperjuangkan keadilan melalui cara yang benar.

Namun di tengah semua itu, kita dipanggil untuk tidak membiarkan kebencian menguasai hati.

Guys, jangan sampai ketika kita berusaha melawan ketidakadilan, kita justru menjadi orang yang melakukan ketidakadilan.

Pertanyaan reflektif

  1. Apa yang Ulangan 25:1–4 ajarkan tentang karakter Allah, khususnya mengenai keadilan, martabat manusia, dan kepedulian terhadap ciptaan-Nya?

  2. Ketika seseorang melakukan kesalahan terhadap saya, apakah respons saya didorong oleh keinginan menegakkan kebenaran atau membalas rasa sakit?

  3. Adakah orang yang berada di bawah tanggung jawab atau kewenangan saya yang perlu saya perlakukan dengan lebih adil dan penuh perhatian?

Langkah praktis hari ini: Pikirkan satu hubungan atau situasi ketika kamu memiliki kewenangan atas orang lain. Tentukan satu tindakan nyata untuk menunjukkan keadilan yang disertai belas kasihan.

Berdoalah sesuai firman

Tuhan, terima kasih karena Dikau adalah Allah yang adil dan penuh belas kasihan.

Ampunilah aku ketika kemarahan membuatku ingin mempermalukan orang yang bersalah. Ampunilah aku ketika kepentingan pribadi membuatku mengabaikan kebutuhan orang lain.

Ajarlah aku untuk mencintai kebenaran tanpa kehilangan kasih, menegakkan keadilan tanpa merendahkan martabat manusia, dan menggunakan setiap tanggung jawab yang Dikau percayakan dengan bijaksana.

Bentuklah hatiku semakin serupa dengan Kristus.

Dalam nama Tuhan Yesus, amin.

Tetap semangat, Guys! Tuhan Yesus beserta kita.

#kamugaksendiri #TuhanYesusBesertamu

RL–SDG 



Comments