Ulangan 25: 5-19

 © Berdoalah mohon pimpinan Roh Kudus untuk menyatakan Firman-Nya

© Bacaan Alkitab:  Ulangan 25: 5-19

Tentang kawin dengan isteri saudara yang telah mati

5, "Apabila orang-orang yang bersaudara tinggal bersama-sama dan seorang dari pada mereka mati dengan tidak meninggalkan anak laki-laki, maka janganlah isteri orang yang mati itu kawin dengan orang di luar lingkungan keluarganya; saudara suaminya haruslah menghampiri dia dan mengambil dia menjadi isterinya dan dengan demikian melakukan kewajiban perkawinan ipar.  

6, Maka anak sulung yang nanti dilahirkan perempuan itu haruslah dianggap sebagai anak saudara yang sudah mati itu, supaya nama itu jangan terhapus dari antara orang Israel. 

7, Tetapi jika orang itu tidak suka mengambil isteri saudaranya, maka haruslah isteri saudaranya itu pergi ke pintu gerbang menghadap para tua-tua serta berkata: Iparku menolak menegakkan nama saudaranya di antara orang Israel, ia tidak mau melakukan kewajiban perkawinan ipar dengan aku.  

8, Kemudian para tua-tua kotanya haruslah memanggil orang itu dan berbicara dengan dia. Jika ia tetap berpendirian dengan mengatakan: Aku tidak suka mengambil dia sebagai isteri-- 

9, maka haruslah isteri saudaranya itu datang kepadanya di hadapan para tua-tua, menanggalkan kasut orang itu dari kakinya, meludahi mukanya sambil menyatakan: Beginilah harus dilakukan kepada orang yang tidak mau membangun keturunan saudaranya. 

10, Dan di antara orang Israel namanya haruslah disebut: Kaum yang kasutnya ditanggalkan orang."

 

Larangan berbuat biadab

11 "Apabila dua orang berkelahi dan isteri yang seorang datang mendekat untuk menolong suaminya dari tangan orang yang memukulnya, dan perempuan itu mengulurkan tangannya dan menangkap kemaluan orang itu,

12 maka haruslah kaupotong tangan perempuan itu; janganlah engkau merasa sayang kepadanya."

 

Sukatan dan timbangan yang benar

13 "Janganlah ada di dalam pundi-pundimu dua macam batu timbangan, yang besar dan yang kecil.

14 Janganlah ada di dalam rumahmu dua macam efa, yang besar dan yang kecil.

15 Haruslah ada padamu batu timbangan yang utuh dan tepat; haruslah ada padamu efa yang utuh dan tepat--supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu.

16 Sebab setiap orang yang melakukan hal yang demikian, setiap orang yang berbuat curang, adalah kekejian bagi TUHAN, Allahmu."

 

Amalek harus dihapuskan

17 "Ingatlah apa yang dilakukan orang Amalek kepadamu pada waktu perjalananmu keluar dari Mesir;

18 bahwa engkau didatangi mereka di jalan dan semua orang lemah pada barisan belakangmu dihantam mereka, sedang engkau lelah dan lesu. Mereka tidak takut akan Allah.

19 Maka apabila TUHAN, Allahmu, sudah mengaruniakan keamanan kepadamu dari pada segala musuhmu di sekeliling, di negeri yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu untuk dimiliki sebagai milik pusaka, maka haruslah engkau menghapuskan ingatan kepada Amalek dari kolong langit. Janganlah lupa!"

Hello Guys!

Pernah nggak sih kamu merasa hidup ini tidak selalu adil?

Ada orang yang kehilangan pasangan hidupnya, lalu harus menghadapi masa depan sendirian kayak kasihan ya kan. Trus ada orang yang kerja keras, tapi dimanfaatin orang lain. Ada orang yang berusaha hidup jujur, sementara orang-orang yang curang kliatan nya lebih cepat berhasil.  Bahkan terkadang, mereka yang paling lemah justru menjadi orang yang paling mudah disakiti.

Waktu kita  melihat semua itu, mungkin kita bertanya, "Tuhan, apakah Dikau benar-benar peduli terhadap orang-orang yang diperlakukan tidak adil?"

Menariknya, Ulangan 25:5–19 membawa kita kepada empat ketentuan hukum yang sekilas terlihat tidak saling berhubungan.

Ada peraturan tentang seorang janda yang kehilangan suaminya, tindakan kekerasan dalam perkelahian, timbangan yang tidak jujur, dan penghukuman terhadap bangsa Amalek.

Mungkin kita bertanya, "apa hubungannya semua ini dengan kehidupan kita sekarang?"

Untuk memahaminya, kita perlu mengingat bahwa Kitab Ulangan berisi pengajaran Musa kepada Israel menjelang mereka memasuki Tanah Perjanjian.  Allah telah membebaskan mereka dari perbudakan di Mesir. Sekarang mereka dipanggil untuk menjalani kehidupan yang mencerminkan karakter Allah yang telah menyelamatkan mereka.

Karena itu, hukum-hukum ini bukan sekadar kumpulan aturan yang berdiri sendiri. Hukum itu membentuk kehidupan umat perjanjian dalam konteks sosial dan sejarah mereka.

Mari kita melihatnya satu per satu.

1. Allah memperhatikan masa depan mereka yang kehilangan (ayat 5–10)

So Guys, waktu kita baca ada seorang perempuan Israel yang suaminya RIP  pada zaman itu, ia mengalami kesedihan karena kehilangan orang yang dikasihinya, tetapi mungkin juga kehilangan perlindungan ekonomi dan menghadapi ketidakpastian mengenai masa depan keluarganya.

Dalam masyarakat Israel kuno, keberlangsungan keluarga, nama, dan warisan tanah memiliki arti se penting itu guys.

Karena itu, Musa menjelaskan ketentuan yang dikenal sebagai perkawinan levirat, dari bahasa Latin levir, yang berarti saudara laki-laki suami.

Apabila seorang laki-laki meninggal tanpa meninggalkan keturunan dalam keadaan keluarga yang disebutkan oleh teks, saudara laki-lakinya memiliki tanggung jawab untuk melanjutkan nama keluarga saudaranya melalui perkawinan dengan janda tersebut.

Anak sulung yang lahir dari perkawinan itu akan meneruskan nama saudara yang telah meninggal.

Tujuannya dinyatakan dalam ayat 6:

"Supaya nama itu jangan terhapus dari antara orang Israel."

Guys, dalam dunia Israel kuno, ketentuan ini berhubungan dengan kesinambungan garis keluarga dan warisan, sekaligus dapat memberikan perlindungan bagi janda dalam masyarakat yang sangat bergantung pada struktur keluarga.

Namun, jangan salah memahami bagian ini.

Perempuan tersebut bukan sekadar alat untuk menghasilkan keturunan. Teks justru memberikan kepadanya ruang untuk membawa penolakan saudara iparnya kepada para tua-tua kota.

Jika laki-laki itu menolak menjalankan kewajibannya, ia menghadapi tindakan simbolis berupa pelepasan kasut dan penghinaan di hadapan masyarakat.

Tindakan itu memperlihatkan bahwa tanggung jawab terhadap keluarga tidak dipandang sebagai urusan pribadi semata.

Pelajaran pentingnya buat kita hari ini adalah kesetiaan kepada Allah harus tampak dalam tanggung jawab terhadap orang-orang yang menghadapi kehilangan dan ketidakpastian.

2. Allah memandang serius tindakan kekerasan (ayat 11–12)

Bagian berikutnya mungkin membuat kita terkejut.

Musa menggambarkan dua laki-laki yang sedang berkelahi. Istri salah seorang laki-laki itu berusaha menolong suaminya dengan memegang kemaluan lawannya.

Hukum yang diberikan sangat keras: tangan perempuan tersebut harus dipotong.

Guys, jujur aja, bagian ini susah dimengerti ya.

Kita mungkin bertanya, "Mengapa hukumannya begitu berat? Bukankah perempuan itu sedang berusaha menolong suaminya?"

Sebagian penafsir menghubungkan ketentuan ini dengan perlindungan terhadap organ reproduksi dan keberlangsungan keturunan. Namun, teks sendiri tidak secara eksplisit menjelaskan alasan hukuman tersebut.

Karena itu, kita perlu berhati-hati agar tidak menyatakan dugaan penafsiran sebagai kepastian.

Yang jelas, hukum ini menunjukkan bahwa tindakan dalam suatu konflik, sekalipun dilakukan untuk membela orang terdekat, tetap berada dalam wilayah pertanggungjawaban hukum.

Kita juga perlu mengakui bahwa hukuman tersebut sangat berat menurut pemahaman hukum dan etika masa kini. Teks ini tidak boleh digunakan untuk membenarkan mutilasi atau kekerasan terhadap perempuan.

Sebagai pengikut Kristus, kita tidak berada di bawah sistem hukum pidana Israel kuno. Kita membaca bagian ini dengan memperhatikan konteks perjanjian serta pengajaran Yesus tentang kasih, keadilan, dan cara memperlakukan sesama.

Guys, dalam kehidupan sekarang, kita mungkin tidak menghadapi situasi yang sama. Tetapi konflik sering memperlihatkan bagaimana kemarahan dapat mendorong seseorang melampaui batas.

Ketika merasa disakiti, kita bisa tergoda menggunakan cara apa pun untuk memenangkan pertengkaran.

Padahal, memperjuangkan sesuatu yang benar tidak otomatis membenarkan setiap cara yang kita gunakan.

Tujuan yang baik tidak membebaskan kita dari tanggung jawab untuk memilih tindakan yang benar.

3. Allah membenci keuntungan yang diperoleh melalui kecurangan (ayat 13–16)

Sekarang Musa membawa kita kepada kehidupan perdagangan.

Pada zaman Israel kuno, transaksi jual beli menggunakan batu timbangan dan alat ukur.

Bayangkan seorang pedagang memiliki dua jenis batu timbangan: satu digunakan ketika membeli, sedangkan yang lain digunakan ketika menjual.

Dengan cara itu, ia dapat memperoleh keuntungan melalui ukuran yang tidak jujur.

Pembelinya mungkin tidak menyadari bahwa ia sedang dirugikan.

Tetapi Allah mengetahuinya.

Dalam ayat 16, Musa menyatakan bahwa setiap orang yang melakukan kecurangan seperti itu adalah kekejian bagi TUHAN.

Perhatikan, Guys.

Allah tidak hanya memperhatikan apa yang dilakukan umat-Nya di tempat ibadah. Ia juga memperhatikan apa yang mereka lakukan dalam transaksi ekonomi sehari-hari.

Kejujuran merupakan bagian dari kesetiaan kepada Allah.  Dalam konteks Israel, perintah ini juga disertai janji mengenai kehidupan yang panjang di negeri yang diberikan TUHAN. Janji tersebut merupakan bagian dari berkat perjanjian Israel, bukan rumus bahwa setiap orang jujur pasti akan hidup lebih lama atau selalu berhasil secara finansial.

Bagaimana dengan kita?

Mungkin kita tidak menggunakan batu timbangan.

Tetapi bagaimana ketika kita membuat laporan pekerjaan? Apakah kita menyampaikan data yang benar?

Bagaimana ketika menjual barang secara online? Apakah deskripsi produk sesuai dengan kondisi sebenarnya?

Bagaimana ketika mengelola uang pelayanan, menggunakan anggaran perusahaan, atau melaporkan hasil pekerjaan?

Apakah kita tetap jujur ketika tidak ada seorang pun yang mengawasi?

Guys, kadang integritas justru diuji ketika kita memiliki kesempatan untuk berbuat curang tanpa diketahui orang lain.

Kesetiaan kepada Tuhan bukan hanya terlihat dari bagaimana kita beribadah, tetapi juga dari bagaimana kita memperlakukan orang lain ketika ada keuntungan yang bisa kita ambil.

4. Allah tidak mengabaikan kejahatan terhadap mereka yang lemah (ayat 17–19)

Bagian terakhir berbicara tentang bangsa Amalek.

Musa memerintahkan Israel untuk mengingat apa yang dilakukan Amalek ketika mereka keluar dari Mesir.

Menurut ayat 18, Amalek menyerang orang-orang yang lemah dan tertinggal di belakang ketika Israel sedang kelelahan.

Serangan tersebut berkaitan dengan peristiwa yang dicatat dalam Keluaran 17:8–16.

Perhatikan siapa yang menjadi sasaran: orang-orang yang berada dalam kondisi paling rentan.

Musa menyatakan bahwa Amalek tidak takut akan Allah.

Kemudian Israel menerima perintah untuk menghapuskan ingatan tentang Amalek setelah TUHAN memberikan keamanan kepada mereka.

Guys, ini merupakan bagian yang sulit karena berisi perintah penghukuman yang keras terhadap suatu bangsa.

Kita tidak boleh mengubahnya menjadi slogan sederhana seperti, "Tuhan ingin kita memusnahkan semua orang jahat."

Perintah tersebut berada dalam konteks khusus sejarah Israel dan penghakiman ilahi yang dinyatakan melalui perjanjian mereka. Perintah itu tidak memberikan kewenangan kepada gereja atau individu untuk melakukan kekerasan terhadap kelompok yang dianggap sebagai musuh Allah.

Sebagai murid Kristus, kita justru mendengar Yesus berkata:

"Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu." (Matius 5:44)

Lalu bagaimana kita memahami bagian ini?

Setidaknya, kita melihat bahwa tindakan Amalek terhadap orang-orang yang lemah bukanlah sesuatu yang dianggap sepele dalam kisah Israel.

Allah memandang serius kejahatan dan ketidakadilan.

Namun cara umat Allah merespons musuh dalam Perjanjian Baru dibentuk oleh kehidupan dan pengajaran Kristus, bukan oleh penerapan langsung perintah perang Israel kuno.

Kita dipanggil untuk melindungi mereka yang rentan, melawan ketidakadilan melalui cara yang benar, dan tidak menjadikan kebencian sebagai dasar tindakan kita.

Kita tidak boleh menggunakan nama Allah untuk membenarkan kekerasan yang justru bertentangan dengan panggilan Kristus untuk mengasihi.


Guys, setelah membaca keempat ketentuan ini, mungkin kita mulai melihat satu persoalan yang lebih dalam.

Manusia sering kali mengetahui apa yang benar, tetapi tidak selalu mau melakukannya.

Kita tahu bahwa orang yang kehilangan membutuhkan pertolongan, tetapi terkadang kita memilih tidak terlibat.

Kita tahu bahwa kekerasan dapat menghancurkan kehidupan, tetapi ketika marah, kita sulit mengendalikan diri.

Kita tahu bahwa kecurangan itu salah, tetapi keuntungan pribadi bisa menjadi godaan yang begitu kuat.

Kita tahu bahwa orang yang lemah perlu dilindungi, tetapi terkadang kita lebih memilih berada di pihak yang kuat.

Persoalan manusia terletak pada hati yang membutuhkan pembaruan.

Menariknya, Kitab Ulangan sendiri telah menyinggung kebutuhan ini.

Dalam Ulangan 30:6, Musa berbicara tentang tindakan Allah yang akan menyunat hati umat-Nya supaya mereka mengasihi TUHAN dengan segenap hati dan jiwa.

Dengan demikian, bahkan dalam Kitab Ulangan, kehidupan umat Allah tidak dapat dipahami hanya sebagai persoalan menaati ketentuan lahiriah.

Umat membutuhkan karya Allah di dalam hati mereka.

Dan di sinilah kita melihat pentingnya Injil Yesus Kristus.

Yesus datang untuk menggenapi maksud Allah dalam sejarah penebusan.

Dalam Matius 5:17, Yesus menyatakan bahwa Ia datang bukan untuk meniadakan Taurat dan kitab para nabi, melainkan untuk menggenapinya.

Melalui kehidupan, kematian, dan kebangkitan-Nya, Kristus membuka jalan bagi manusia berdosa untuk diperdamaikan dengan Allah.

Di dalam Dia, kita menerima pengampunan, dan melalui karya Roh Kudus, kita dibentuk untuk menjalani kehidupan yang baru.

Karena itu, kita tidak berbuat baik supaya Allah akhirnya bersedia mengasihi kita.

Kita belajar hidup benar sebagai respons terhadap kasih Allah yang telah dinyatakan kepada kita melalui Kristus.

Anugerah yang menyelamatkan kita juga mendidik kita untuk meninggalkan kefasikan dan menjalani kehidupan yang benar (Titus 2:11–14).

Guys, inilah kabar baiknya.

Kristus tidak hanya memperlihatkan standar kebenaran Allah. Ia juga menyelamatkan dan membentuk umat yang dipanggil untuk mencerminkan karakter-Nya.

Injil mengubah cara kita memperlakukan sesama.

Refleksikanlah

Guys, setelah membaca Ulangan 25:5–19, kita mungkin masih memiliki pertanyaan tentang beberapa ketentuan hukum yang terasa asing bagi kehidupan sekarang.

Dan itu tidak masalah. Memahami firman Tuhan dengan bertanggung jawab memang menuntut kita untuk belajar, meneliti, dan tidak terburu-buru menarik kesimpulan.

Namun ada pertanyaan yang perlu kita rengungkan hari ini:

Apakah orang-orang di sekitar kita dapat melihat kasih, keadilan, dan kebenaran Allah melalui cara kita menjalani kehidupan?

Ketika ada teman yang sedang berduka, apakah kita bersedia hadir?

Ketika terjadi konflik, apakah kita memilih tindakan yang benar daripada sekadar melampiaskan kemarahan?

Ketika ada kesempatan memperoleh keuntungan melalui ketidakjujuran, apakah kita tetap menjaga integritas?

Ketika melihat seseorang diperlakukan tidak adil, apakah kita memiliki keberanian untuk membelanya dengan cara yang benar?

Mungkin kita tidak dapat menyelesaikan seluruh persoalan dunia.

Tetapi kita dapat memulai dari hal-hal kecil yang berada dalam tanggung jawab kita.

Kita dapat menjadi rekan kerja yang jujur, pemimpin yang adil, sahabat yang peduli, dan pengikut Kristus yang tidak menutup mata terhadap penderitaan sesama.

Dan ketika kita gagal, kita tidak perlu berpura-pura seolah-olah kita selalu benar.

Kita dapat datang kepada Kristus, mengakui dosa, menerima pengampunan-Nya, dan memohon pertolongan Roh Kudus untuk berubah.

Guys, menjadi murid Kristus adalah belajar menghidupi kebenaran karena kita telah menerima anugerah-Nya.

Jangan hanya menjadi orang yang hafal firman Tuhan, tetapi tidak memiliki kepedulian terhadap sesama. 

Jangan hanya menjadi orang yang berbicara tentang kasih, tetapi mengabaikan kejujuran.

Dan jangan hanya memperjuangkan keadilan bagi diri sendiri, tetapi menutup mata ketika orang lain diperlakukan tidak adil.

Biarlah orang lain dapat merasakan sesuatu tentang kasih dan kebenaran Kristus melalui cara kita memperlakukan mereka.

Yuk, bisa yuk! 

Pertanyaan Reflektif

  1. Mengenal Allah: Apa yang Ulangan 25:5–19 nyatakan tentang kepedulian Allah terhadap keluarga, kejujuran, tanggung jawab, dan kejahatan?

  2. Mengenal diri: Dalam situasi apa saya paling mudah mengabaikan kebutuhan orang lain, membenarkan tindakan yang salah, atau mengorbankan integritas demi kepentingan pribadi?

  3. Memandang Kristus: Bagaimana Injil mengubah motivasi saya untuk hidup benar, dari sekadar kewajiban menjadi respons syukur atas anugerah Allah?

  4. Menjadi murid: Satu tindakan nyata apa yang akan saya lakukan hari ini untuk menunjukkan kepedulian, kejujuran, atau keberpihakan kepada mereka yang lemah?

Berdoalah Sesuai Firman

Tuhan, terima kasih karena Dikau adalah Allah yang adil, kudus, dan penuh kasih.

Ampunilah aku ketika terlalu sibuk memikirkan kepentinganku sendiri sampai mengabaikan mereka yang membutuhkan pertolongan.

Ampunilah aku ketika tergoda untuk tidak jujur, ketika kemarahan menguasai tindakanku, dan ketika aku memilih diam melihat ketidakadilan.

Tuhan Yesus, terima kasih karena melalui kematian dan kebangkitan-Mu, Dikau telah membuka jalan keselamatan bagiku.

Aku menyadari bahwa aku tidak mampu menjalani kehidupan yang benar hanya dengan kekuatanku sendiri.

Karena itu, bentuklah hatiku melalui Roh Kudus.

Ajarlah aku untuk mengasihi mereka yang terlupakan, menjaga integritas sekalipun tidak ada yang melihat, memperjuangkan keadilan tanpa kebencian, dan memperlakukan sesama dengan kasih yang mencerminkan karakter-Mu.

Biarlah melalui kehidupanku, orang lain semakin mengenal Dikau.

Dalam nama Tuhan Yesus, amin.

Tetap semangat, Guys! Tuhan Yesus beserta kita.

#kamugaksendiri #TuhanYesusBesertamu

RL–SDG


Comments