© Berdoalah mohon pimpinan Roh Kudus untuk menyatakan Firman-Nya
© Bacaan Alkitab: Ulangan 26: 1-11
Mempersembahkan hasil pertama
1, "Apabila engkau telah masuk ke negeri yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu menjadi milik pusakamu, dan engkau telah mendudukinya dan diam di sana,
2, maka haruslah engkau membawa hasil pertama dari bumi yang telah kaukumpulkan dari tanahmu yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, dan haruslah engkau menaruhnya dalam bakul, kemudian pergi ke tempat yang akan dipilih TUHAN, Allahmu, untuk membuat nama-Nya diam di sana.
3, Dan sesampainya kepada imam yang ada pada waktu itu, haruslah engkau berkata kepadanya: Aku memberitahukan pada hari ini kepada TUHAN, Allahmu, bahwa aku telah masuk ke negeri yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyang kita untuk memberikannya kepada kita.
4, Maka imam harus menerima bakul itu dari tanganmu dan meletakkannya di depan mezbah TUHAN, Allahmu.
5, Kemudian engkau harus menyatakan di hadapan TUHAN, Allahmu, demikian: Bapaku dahulu seorang Aram, seorang pengembara. Ia pergi ke Mesir dengan sedikit orang saja dan tinggal di sana sebagai orang asing, tetapi di sana ia menjadi suatu bangsa yang besar, kuat dan banyak jumlahnya.
6, Ketika orang Mesir menganiaya dan menindas kami dan menyuruh kami melakukan pekerjaan yang berat,
7, maka kami berseru kepada TUHAN, Allah nenek moyang kami, lalu TUHAN mendengar suara kami dan melihat kesengsaraan dan kesukaran kami dan penindasan terhadap kami.
8, Lalu TUHAN membawa kami keluar dari Mesir dengan tangan yang kuat dan lengan yang teracung, dengan kedahsyatan yang besar dan dengan tanda-tanda serta mujizat-mujizat.
9, Ia membawa kami ke tempat ini, dan memberikan kepada kami negeri ini, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya.
10, Oleh sebab itu, di sini aku membawa hasil pertama dari bumi yang telah Kauberikan kepadaku, ya TUHAN. Kemudian engkau harus meletakkannya di hadapan TUHAN, Allahmu; engkau harus sujud di hadapan TUHAN, Allahmu,
11, dan haruslah engkau, orang Lewi dan orang asing yang ada di tengah-tengahmu bersukaria karena segala yang baik yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu dan kepada seisi rumahmu."
"Renungkanlah”
Hello Guys! 👋 Pernahkah kamu begitu sibuk mengejar sesuatu sampai akhirnya lupa mengapa kamu bisa berada di tempatmu sekarang?
Kita bekerja keras untuk mendapatkan pekerjaan yang baik. Kita belajar untuk meraih masa depan. Kita melayani dan mengembangkan berbagai kemampuan. Ketika akhirnya berhasil, kita merasa bangga. Dan memang, bekerja keras bukanlah sesuatu yang salah.
Tetapi ada satu bahaya yang sering tidak kita sadari: kita begitu sibuk menikmati hasilnya sampai melupakan Sang Pemberi.
Kita mulai berpikir, “Semua ini karena kemampuan saya. Karena usaha saya. Karena kerja keras saya.”
Perlahan-lahan, berkat Allah berubah menjadi alasan untuk memuliakan diri sendiri.
Menariknya, Ulangan 26:1–11 justru mengajarkan Israel untuk melakukan sesuatu yang berbeda.
Ketika mereka menikmati hasil tanah yang baik, Allah memerintahkan mereka untuk mengingat perjalanan hidup mereka.
Bukan mengingat betapa hebatnya mereka. Melainkan mengingat betapa setianya Allah.
Ayat 1–4, Ulangan 26 berada pada bagian penutup kumpulan ketetapan dalam pasal 12–26. Musa sedang mempersiapkan Israel untuk hidup di tanah yang telah dijanjikan Allah kepada nenek moyang mereka.
Perhatikan bagaimana ayat pertama dimulai:
“Apabila engkau telah masuk ke negeri yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu menjadi milik pusakamu...”
Kata yang penting adalah “diberikan.”
Tanah itu bukan pencapaian Israel. Tanah itu adalah pemberian Allah sesuai dengan janji perjanjian-Nya.
Karena itu, ketika mereka memanen hasil tanah, mereka harus membawa hasil pertama ke tempat yang dipilih TUHAN.
Tindakan ini bukan sekadar ritual pertanian.
Persembahan tersebut merupakan pengakuan bahwa hasil yang mereka nikmati berasal dari Allah.
Guys, Pekerjaan, kemampuan, kesempatan, keluarga, dan sumber daya yang kita miliki merupakan hal-hal yang patut kita syukuri di hadapan Allah.
Tentu saja, kita tetap harus bekerja, belajar, dan bertanggung jawab. Namun, kerja bukan berarti membuat kita nantinya meng klaim, semua perolehan dan hal baik itu karena kerja keras kita, ingat semua adalah pemberian Allah guys, kemampuan kita juga adalah pemberian Allah.
Iman menolong kita bekerja dengan sungguh-sungguh tanpa menjadikan diri sendiri sebagai pusat kemuliaan.
Ayat 5-9, Inilah bagian yang sangat menarik.
Ketika orang Israel datang membawa hasil pertama, mereka tidak diminta menyampaikan daftar pencapaian pribadi.
Sebaliknya, mereka harus mengucapkan suatu pengakuan tentang sejarah umat mereka.
“Bapaku dahulu seorang Aram, seorang pengembara...”
Ungkapan ini umumnya dipahami merujuk kepada Yakub, leluhur Israel.
Pengakuan tersebut kemudian menceritakan bagaimana keluarga kecil itu berkembang menjadi bangsa yang besar di Mesir, mengalami penindasan, berseru kepada TUHAN, dan diselamatkan oleh kuasa-Nya.
Perhatikan siapa yang menjadi tokoh utama dalam pengakuan iman tersebut.
Bukan kehebatan Israel. Melainkan tindakan Allah.
Allah mendengar. Allah melihat. Allah membebaskan. Allah membawa. Allah memberikan.
Israel diminta mengingat bahwa sebelum mereka menikmati tanah perjanjian, mereka pernah hidup dalam penindasan.
Sebelum mereka memiliki hasil panen, mereka telah menerima pembebasan.
Sebelum mereka membawa persembahan, Allah telah bertindak menyelamatkan mereka.
Inilah pola yang sangat penting dalam teologi Ulangan: Anugerah Allah mendahului respons ketaatan umat-Nya.
Allah tidak berkata, “Berikanlah hasil pertamamu supaya Aku mau membebaskanmu dari Mesir.”
Sebaliknya, Allah telah membebaskan mereka. Karena itu, mereka dipanggil hidup dalam syukur dan kesetiaan kepada-Nya.
Guys, bukankah kita juga sering melupakan perjalanan anugerah Allah dalam hidup kita?
Ketika hidup berjalan baik, kita mudah merasa mampu berdiri sendiri.
Namun, ketika kita mengingat kembali berbagai pertolongan, kesempatan, penghiburan, dan pemeliharaan yang telah kita terima, kita menyadari bahwa hidup bukan sekadar kisah tentang kemampuan kita. Ada kasih setia Allah yang menopang perjalanan kita.
Ulangan 26:1–11 secara langsung berbicara tentang pengalaman Israel: Allah membebaskan mereka dari Mesir dan memberikan tanah yang telah dijanjikan-Nya.
Kita tidak boleh mengabaikan makna historis tersebut.
Namun, ketika membaca keseluruhan Alkitab, kita menemukan bahwa pembebasan dari Mesir merupakan bagian dari kisah penebusan Allah yang lebih luas.
Dalam Perjanjian Baru, Yesus Kristus dinyatakan sebagai Dia yang membawa keselamatan melalui kematian dan kebangkitan-Nya.
Dalam Markus 10:45, Yesus mengatakan bahwa Anak Manusia datang untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.
Dan dalam Kolose 1:13–14, Paulus menjelaskan bahwa melalui Kristus kita menerima pembebasan dari kuasa kegelapan dan pengampunan dosa.
Ada hubungan teologis yang indah di sini. Israel diingatkan bahwa mereka tidak membebaskan diri sendiri dari Mesir.
Demikian pula, kita tidak dapat menyelamatkan diri sendiri dari dosa melalui prestasi moral atau kegiatan keagamaan.
Kita membutuhkan karya penyelamatan Allah di dalam Yesus Kristus.
Tetapi kita juga perlu memahami perbedaannya: pembebasan Israel dari Mesir adalah peristiwa historis dalam kehidupan umat perjanjian, sedangkan karya Kristus merupakan penggenapan rencana penebusan Allah yang membawa pengampunan dosa dan kehidupan baru.
Karena itu, Injil mengubah cara kita memahami persembahan dan ketaatan.
Kita tidak memberi supaya dapat membeli kasih Allah.
Kita tidak melayani supaya layak diselamatkan.
Kita tidak berbuat baik supaya Allah akhirnya mau menerima kita.
Di dalam Kristus, keselamatan adalah anugerah yang kita terima melalui iman. Ketaatan merupakan respons syukur terhadap anugerah tersebut.
Inilah yang membedakan kehidupan Kristen dari agama yang sekadar berpusat pada usaha manusia.
Kita bukan sedang berusaha memperoleh keselamatan melalui persembahan.
Kita sedang belajar mempersembahkan kehidupan karena telah menerima kasih Allah di dalam Kristus.
Ayat 10-11, Setelah mengingat karya penyelamatan Allah, orang Israel meletakkan hasil pertama di hadapan TUHAN dan sujud menyembah-Nya.
Namun, bagian ini tidak berhenti pada tindakan persembahan pribadi.
Ayat 11 mengatakan bahwa orang Israel harus bersukacita bersama orang Lewi dan orang asing yang ada di tengah-tengah mereka.
Ini penting sekali!
Sukacita atas pemberian Allah tidak boleh hanya dinikmati oleh mereka yang memiliki tanah dan hasil panen.
Orang Lewi, yang tidak memiliki bagian tanah pusaka seperti suku-suku lainnya, dan orang asing yang hidup di tengah umat juga dilibatkan dalam sukacita tersebut.
Dengan demikian, penyembahan kepada Allah memiliki dimensi sosial.
Syukur kepada Allah seharusnya membuat kita semakin memperhatikan sesama.
Bukan semakin egois. Bukan semakin merasa lebih unggul.
Bukan semakin sibuk menikmati berkat sendirian.
Guys, kalau kita sungguh-sungguh percaya bahwa semua yang kita miliki merupakan pemberian Allah, kita akan belajar memandang orang lain dengan cara yang berbeda.
Kita tidak akan mudah merendahkan orang yang belum mencapai keberhasilan seperti kita.
Kita akan lebih peka terhadap mereka yang mengalami kesulitan.
Kita akan belajar menggunakan sumber daya yang kita miliki untuk menjadi berkat.
Bahkan dalam pekerjaan dan pelayanan, kita dapat bertanya:
“Bagaimana melalui apa yang Tuhan percayakan kepadaku, orang lain juga dapat merasakan kebaikan-Nya?”
Itulah salah satu buah kehidupan yang dibentuk oleh Injil.
Refleksikanlah
Guys, ada satu hal yang ingin kita ingat hari ini:
Sebelum kita memberikan sesuatu kepada Allah, Allah telah terlebih dahulu memberikan begitu banyak kepada kita. Dan pemberian terbesar-Nya adalah Yesus Kristus.
Karena itu, marilah kita belajar menjalani hidup bukan dengan sikap merasa paling berjasa, melainkan dengan hati yang bersyukur.
Ketika bekerja, bekerjalah dengan integritas sebagai respons terhadap kebaikan Allah.
Ketika menerima penghasilan, kelolalah dengan bertanggung jawab, murah hati, dan penuh syukur.
Ketika melayani, jangan menjadikan pelayanan sebagai sarana mencari penghormatan.
Ketika berhasil, jangan melupakan Sang Pemberi.
Ketika melihat orang yang membutuhkan pertolongan, jangan menutup hati.
Dan ketika kehidupan terasa berat, ingatlah bahwa Allah yang telah menyatakan kasih-Nya melalui Kristus tetap layak dipercaya.
Bukan berarti setiap orang percaya pasti akan memperoleh keberhasilan materi atau kehidupan yang bebas dari kesulitan.
Namun, Injil memberikan dasar pengharapan yang jauh lebih kokoh daripada keadaan hidup kita: kasih Allah yang dinyatakan melalui kematian dan kebangkitan Yesus Kristus.
Kita tidak mempersembahkan hidup untuk mendapatkan kasih Allah. Kita mempersembahkan hidup karena kasih Allah telah terlebih dahulu menjangkau kita.
Yuk, belajar hidup dengan hati yang mengingat anugerah-Nya! 🤍
Pertanyaan Reflektif
Tentang Allah: Apa yang Ulangan 26:1–11 ajarkan mengenai karakter Allah, khususnya kesetiaan-Nya terhadap janji dan kepedulian-Nya kepada umat yang tertindas?
Tentang Injil: Bagaimana karya penyelamatan Allah bagi Israel menolongmu memahami betapa berharganya penebusan yang telah dikerjakan Yesus Kristus?
Tentang kehidupan: Adakah keberhasilan, pekerjaan, jabatan, atau kemampuan yang membuatmu mulai melupakan anugerah Allah?
Tentang aplikasi: Bagaimana kamu dapat menggunakan waktu, penghasilan, pekerjaan, atau kesempatan yang Tuhan percayakan untuk memuliakan-Nya dan membawa sukacita bagi sesama?
© Berdoalah sesuai Firman
Bapa yang penuh kasih, Terima kasih karena Dikau adalah Allah yang setia kepada janji-Mu.
Dikau mendengar seruan umat-Mu, melihat penderitaan mereka, dan bertindak menyelamatkan mereka.
Ampunilah aku ketika terlalu sibuk menikmati pemberian-Mu sampai melupakan Engkau, Sang Pemberi.
Ampunilah aku ketika menganggap segala sesuatu yang kumiliki semata-mata sebagai hasil kemampuanku sendiri.
Terima kasih untuk anugerah keselamatan yang telah Dikau nyatakan melalui Yesus Kristus.
Tolonglah aku melalui pimpinan Roh Kudus agar hidupku menjadi respons syukur atas kasih-Mu.
Ajarlah aku bekerja dengan integritas, melayani dengan kerendahan hati, memberi dengan sukacita, dan memperhatikan mereka yang membutuhkan pertolongan.
Biarlah segala sesuatu yang kulakukan bukan untuk meninggikan diriku, melainkan untuk memuliakan nama-Mu.
Dalam nama Tuhan Yesus Kristus aku berdoa.
Amin.
Tetap semangat guys, Tuhan Yesus beserta kita,#kamugaksendiri #TuhanYesusBesertamu *RL-SDG*
Comments
Post a Comment